Bonita & The Hus Band

Perayaan Sewindu Dan Lahirnya Album Kedua

Hijau dan merah. Dua warna itu yang selalu identik dengan cabe. Setidaknya begitu orang-orang memang lebih mengenalnya. Sehingga ketika menemui cabe dengan selain dua warna tersebut, sudah pasti bertanya: ini benar-benar cabe atau bukan. Setidaknya ini yang kemudian menjadi pembahasan NewsMusik bersama Bonita dan Silir Pujiwati.

Cabe ornamental magenta, begitu keterangan yang tertulis di sebuah kertas yang ditancapkan di tanah dalam pot. Terletak di teras di luar auditorium Pusat Kebudayaan Belanda Erasmus Huis di bilangan Rasuna Said, Jakarta. Menimbulkan pertanyaan apakah cabe ini hanya hiasan dan tidak bisa dimakan.

Bisa jadi karena terlalu malas bertanya pada mbah Google, akhirnya berujung pada berkomentar asal-asalan. Mulai dari cabenya dicat sampai menarik kesimpulan sendiri tidak bisa dimakan. Serta menyisakan pertanyaan kalau tukang gorengan memberikan cabe itu sebagai pelengkap gorengannya bakal dimakan atau tidak.

Pembahasan masalah cabe terlupakan ketika membahas rencana babak berikutnya rangkaian keliling beberapa kota dengan tajuk Belong To Each Other Tour 2017. Salah satu kota yang akan disinggahi adalah Nias. Dimana berkaitan dengan daerah tersebut, ternyata baru beberapa hari sebelumnya Bonita mengetahui kalau dia ternyata memiliki darah Nias dari buyutnya.

Obrolan di teras itu dilakukan sembari menunggu alat-alat musik tengah disiapkan di dalam auditorium. Hari itu, Rabu (12/04), Bonita bersama Bonita & the Hus Band (BNTHB) akan menggelar pentas pada malam harinya. Dalam rangka merayakan ulang tahun kedelapan sekaligus perayaan perilisan album kedua BNTHB, Rumah.

Peralatan yang akan digunakan untuk pentas sendiri sudah tiba sejak jam 1. Tapi baru diizinkan untuk dibawa masuk ke auditorium mulai jam 2. Untuk mengisi waktu, kru beserta personil BNTHB, minus Bonita yang belum datang, memutuskan untuk mengisi perut. Selesai makan, perut pun kenyang. Pas dengan saatnya untuk memasukkan peralatan dan kemudian soundcheck.

“Gue penasaran banget. Udah lama nih gue pengen banget mainin pianonya,” ujar Andie Jonathan Palempung, atau biasa dipanggil Jepe. Piano yang dimaksud adalah grand piano dengan merek Bosendorfer. Sebuah nama yang sudah berkecimpung dalam pembuatan piano dari Austria sejak 1828.

02 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Tak perlu menunggu perintah, Jepe langsung menghampiri dan memainkan piano idamannya. Denting piano mengisi seantero auditorium Erasmus Huis. Sekaligus mengiringi kesibukan kru dan personel BNTHB mempersiapkan perlengkapan untuk pentas.  “Asyik juga kali ya kalo punya piano di rumah. Tapi mau ditaruh mana ya di rumah gue hehehehe,” kata Petrus Briyanto Adi alias Adoy, gitaris sekaligus penyanyi latar, berkhayal ketika melihat Jepe asyik memainkan piano.

Semua sibuk dengan aktifitas masing-masing. Jimmy Tobing mempersiapkan saxofon dan menyempatkan memainkannya sejenak. Bharata Eli Gulo tentu menyusun perkusinya. Di sebelahnya tak kalah sibuk Agung Budiman yang biasanya mendokumentasikan, ikut menyiapkan perkusinya. Di ruang sebelah auditorium, Ira Humairah yang kemudian dibantu Ruth Priscilla Hutabesy sibuk mendata pemesanan tiket.

Ruth datang bersama tunangannya, Gabriel Mayo. NewsMusik mengucapkan selamat atas rencana peluncuran mini album bertajuk Hari Ini. Digelar dua hari setelah pentas BNTHB di Paviliun 28. Mayo hanya sebentar singgah di Erasmus Huis karena harus bertemu dan berlatih dengan kelompok Celtic Room di Plaza Festival.

Sembari menunggu waktu untuk soundcheck, paling asyik menikmati segelas teh atau kopi hangat. Berkumpul di meja yang sama dengan Ira dan Ruth masih berkutat dengan urusan tiket. Sementara Bonita lebih memilih berjalan-jalan sambil melatih dan melemaskan jari-jarinya memainkan ukulele.

Sekitar pukul empat sore, BNTHB formasi lengkap soundcheck membawakan beberapa lagu. Formasi untuk pentas ini selain dilengkapi oleh Jepe dan Agung, ada Yusuf Dharmayan Soerachmadi memainkan bass serta Butong Olala dengan akordionnya. Tak lupa penyanyi diimpor dari Yogya yang merupakan biduan kelompok Kua Etnika, Silir Pujiwati.

Awalnya Bonita, Adoy dan Silir sempat kesulitan menemukan nada yang tepat bagi tembang berbahasa Jawa yang dinyanyikan. Tapi setelah beberapa kali akhirnya ditemukan kunci yang pas untuk lagu tersebut. “Aku gak mau nyanyi, aku maunya liat kamu nyanyi,” ujar Bonita dengan nada manja seperti anak kecil.

03 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Ucapannya itu ditujukan kepada Silir yang sukses membuatnya tak bisa menyembunyikan kekaguman. Bahkan ketika Silir menembangkan lirik berbahasa Jawa, Bonita tak kuasa menyembunyikan rasa terharu. Matanya berkaca-kaca menyimak Silir menembang.

Soundcheck berhenti ketika jarum jam hampir menyentuh pukul enam. Jimmy beranjak keluar auditorium untuk menghampiri istri dan anak perempuannya yang baru datang. Jimmy menggendong Truly Sofia Tobing menuju ke dalam auditorium dan mendekat ke Jepe yang tengah memainkan piano.

Kehadiran Truly menambah semarak suasana. Bonita yang gemas tak puas-puasnya menciumi meski bayi berumur 10 bulan itu tengah belepotan makanan pipinya. Silir pun juga tak kalah gemas. Dia lalu menembangkan lagu ‘Lelo Ledung’ yang dijelaskannya sebagai lagu pengantar tidur. “Ada ya suara-suara kayak gitu ya,” ucap Jimmy sambil menggeleng-gelengkan kepala dan wajah penuh kekaguman. Sebuah ekspresi kekaguman mendengarkan suara Silir yang memesona.

Truly yang murah senyum dan senang tertawa memang mencuri perhatian setiap orang dewasa yang ada. Tambahkan satu bayi lagi, maka semakin semarak lagi. Dia adalah Rubina Kalila Semesta. Merupakan anak pertama Candisa dan Agus Leonardi. Tak lain adalah keponakan Bonita.

Di luar Erasmus Huis hujan tiba-tiba datang dengan derasnya. Tentu saja ini menimbulkan kekhawatiran akan membuat menghalangi penonton untuk datang. Belum lagi ditambah kemacetan Jakarta yang beberapa minggu belakangan ini semakin menggila. Kebetulan pula Erasmus Huis tidak jauh dari perempatan Kuningan yang terkena “basian” kemacetan di Pancoran.

“Tenang aja yang gak bakalan sepi kok, paling dikit (penonton) yang datang,” canda Adoy menjawab pertanyaan apakah ada penonton yang datang. Bonita tertawa tapi tampaknya bercampur sebal juga mendengar jawaban Adoy.

Kehadiran satu orang lagi semakin membuat suasana meriah. Windra Benyamin atau akrab disapa Bontel yang menjadi biang keroknya. Saling cela dengan Adoy, Bonita dan Bharata. Mengaku heran kenapa dia senewen padahal BNTHB yang pentas. “Lo pasti rindu manggung ya? Eh bukan. Rindu manggung sama Float ya?” goda Adoy. Sementara yang digoda cuma cengengesan.

Beberapa menit menjelang pentas, semua berkumpul membentuk lingkaran. Adoy memberikan kata pengantar dan sekaligus memberi semangat untuk semua yang hadir dan terlibat. Terbukalah sebuah fakta bahwa ulang tahun BNTHB sebenarnya di bulan Mei. Jadi selama beberapa tahun sebelumnya keliru.

BNTBH muncul ke atas panggung setelah disebutkan oleh pembawa acara dadakan. Direncanakan awalnya adalah Donny yang bertindak sebagai penata cahaya untuk mengumumkannya. Tapi kemudian malah suara perempuan yang berkumandang. “Hujan tiada henti membasahi bumi. Ia membiarkan rintiknya. Rintihan tangis ibu pertiwi. Tanah, rumput, daun dan bunga. Tumbuh indah beraneka ragam. Lalu hujan turun tiada henti,” demikian Bonita menyanyikan lagu pembuka konser.

NewsMusik sempat bingung mencari di album terbaru lagu yang mana dinyanyikan sebagai pembuka tersebut. Sehari setelah konser via Whatsapp diperoleh informasi dari Adoy. Judulnya Insert I tapi berbeda dengan versi album yang tidak ada liriknya. Judulnya pun menjadi ‘Hujan’ dengan lirik yang baru dibuat Bonita.

04 Bonita And The Hus Band Klandesti NBonita And The Hus Band (foto: Klandesti N)

Sepanjang konser Bonita berusaha menahan diri untuk tidak banyak berbicara. Takut emosional, begitu alasannya. Alhasil Adoy banyak mengambil alih berbicara. Menjelaskan tentang lagu yang dibawakan, sekelumit kisah tentang BNTHB dan juga tidak ketinggalan bercanda. “Terima kasih yang sudah datang ke sini malam ini. Daripada nonton debat pilkada yang gak jelas itu, memang lebih baik di sini saja,” kata Adoy.

Malam itu memang tengah berlangsung debat terakhir Pilkada DKI Jakarta. Dan ada pemandangan menarik di FOH malam itu. Donny yang sibuk dengan berbagai tombol di depannya mengatur cahaya ternyata menyimak debat tersebut melalui gawainya. Matanya memandang ke perangkat penata cahaya. Tapi telinganya menyimak debat yang didengarkannya melalui earphone.

Konser selain dimeriahkan oleh tepuk tangan penonton, juga disemarakkan dengan pekikan riang Truly di beberapa kesempatan. Di bagian lain terlihat juga seorang anak kecil yang asyik menari-nari mengikuti lagu yang tengah dibawakan.

Silir kembali memukau dengan suaranya. Terungkap kemudian bila tembang Jawa yang dibawakan sebagai pembuka lagu ‘Rumah Temanku’ dibuatnya di atas kereta api dalam perjalanan Yogya menuju Jakarta. Dia memberi kejutan pula dengan menyanyikan lagu ulang tahun berbahasa Jawa sebelum silam.

Di antara penonton yang hadir terlihat orang tua, handai taulan dan sahabat. Usai konser, BNTHB menghampiri mereka untuk mengucapkan terima kasih. Air mata haru Bonita tak terbendung ketika mengucapkan terima kasih sambil memeluk sang ayah, Koes Hendratmo. Selamat sewindu Bonita & the Hus Band. Sukses untuk babak kedua rangkaian Belong To Each Other Tour 2017. /Klandesti N

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found