Back Stage Story
NewsMusik

NewsMusik

Tuesday, 17 April 2018 02:59

Mariah Carey

Bakal Konser Berlatarbelakang Candi Borobudur

Siap yang tak kenal dengan Mariah Carey yang tersohor dengan sebagai diva dunia dan memenangi lima Grammy Awards ini. Nah, seperti kabar yang tersiar belakangan ini, bahwa Mariah Carey sudah dipastikan akan menggelar konsernya di Indonesia. Ini akan menjadi perhelatan kedua dirinya ke tanah air setelah tahun 2004 silam menggelar rangkaian tur dunianya “Charmbracelet World Tour” di Jakarta Convention Center.

Yang paling menarik adalah mengenai harga tiket konser Mariah Carey yang tergolong lebih murah apalagi jika dibandingkan dengan Celine Dion yang sama-sama akan menggelar konser di Indonesia pada tahun ini. Ini akan mendatangkan banyak benefit baik bagi penonton dan juga penetrasi kehadiran wisatawan ke Candi Borobudur.

Seperti yang dituturkan oleh Direktur Utama PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur Prambanan dan Ratu Boko, Edy Setijono yang mengatakan konser diva internasional tersebut akan dilaksanakan pada 6 November 2018 mengusung tajuk "Borobudur Symphony". “Konser bertaraf internasional ini akan menjadi ajang promosi yang efektif dalam menarik minat dan perhatian dunia pada salah satu bangunan keajaiban dunia ini sehingga tingkat kunjungan wisman semakin meningkat,” ungkapnya pada awal pekan ini.

Sementara Project Director Borobudur Symphony, Palwoto menyebutkan konser Mariah Carey tersebut ditargetkan mampu mendatangkan 7.000 penonton. Konser tersebut rencananya digelar di Taman Lumbini, yang merupakan area pelataran Candi Borobudur.

02 Mariah Carey Istimewa

Mariah Carey_Istimewa

“Konser ini nantinya akan menggabungkan antara penampilan atraktif dari Mariah Carey dengan latar belakang Candi Borobudur yang megah. Sehingga dalam pertunjukan tersebut penonton akan mendapatkan sajian yang komplet,” ungkapnya.

Di sisi lain, CEO Rajawali Indonesia Communications, Anas Syahrul Alimi mengatakan informasi mengenai konser Mariah Carey di Candi Borobudur tersebut telah menarik perhatian penggemar diva tersebut dari berbagai belahan dunia. “Banyak penggemarnya yang mulai menanyakan lokasi Candi Borobudur ini. Dari situ, mulai kelihatan bagaimana konser ini  menunjukkan posisinya sebagai media diplomasi ke masyarakat dunia,” ucapnya.

Tiket konser ini dibagi menjadi lima kelas. Tiket kelas super VVIP masih berstatus On Call. Sementara, kelas Diamond dibanderol dengan harga Rp. 7 juta, Platinum Rp. 3,5 juta, Gold Rp. 2 juta dan Festival Rp. 1 juta. Sedangkan tiket presale sudah mulai di jual pada 18 April 2018./ Dek

Tuesday, 17 April 2018 02:14

Lomba Cipta Lagu Anak 2018

Menggairahkan Kembali Produksi Lagu Anak

Dalam rangka menggairahkan kembali produksi lagu anak-anak Indonesia, Miles Films bersama Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) yang turut didukung International Design School mengadakan Lomba Cipta Lagu Anak (LCLA) 2018.

Dalam keterangannya kepada pihak media di bilangan  Jakarta Pusat (16/4/2018), Ketua Bekraf Triawan Munaf mengatakan diadakannya acara ini dilatarbelakangi oleh pertanyaan dan keprihatinan Presiden Republik Indonesia Joko Widodo. Jadi pekerjaan ini dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut, Triawan bersama Mira Lesmana, produser sekaligus pendiri Miles Films memutuskan untuk berkolaborasi mengadakan LCLA 2018.

Sebelumnya, Mira bersama Riri Riza sebagai sutradara telah lebih dahulu menggarap film untuk anak-anak bertajuk Kulari ke Pantai yang direncanakan tayang mulai 28 Juni 2018. Keduanya juga dikenal sebagai orang dibelakang film yang cukup bombastis bertema anak-anak sebelumnya yakni “Petualangan Sherina” (2000) dan “Laskar Pelangi” (2008).

Keduanya juga menilai lagu-lagu anak pada masa sekarang terbilang cukup langka untuk menemani tumbuh kembang anak-anak dalam usia emas mereka. Sangat berbeda dengan kondisi era 90an. Ketika itu ada banyak lagu-lagu anak yang dirilis, juga masih cukup banyak program musik anak di televisi dan radio.

"Lomba ini bukan terbatas untuk musisi saja, tapi juga bisa diikuti oleh kalangan lain. Karena tujuannya untuk memfasilitasi pelaku kreatif berkontribusi dalam membangun ekonomi kreatif, khususnya film dan musik Indonesia," tambah Triawan.

02 Maisha Kanna dan Lilli Latisha dua pemeran utama film Kulari ke Pantai Istimewa

Maisha Kanna dan Lil'li Latisha, dua pemeran utama film Kulari ke Pantai (Istimewa)

Lewat ajang ini pula Mira berharap agar anak-anak Indonesia lebih mencintai bahasa Indonesia. Dengan kata lain, dirinya ingin agar generasi bangsa ini bangga jika bercakap-cakap atau menyanyikan lagu yang berbahasa Indonesia. Kalau sekarang banyak dari mereka lebih sering  berkomunikasi menggunakan bahasa asing.
 
Menurut Mira, kebiasaan tersebut adalah hal yang bagus dan tak terhindarkan karena zaman telah menuntut demikian. Hanya saja kebiasaan menggunakan bahasa Indonesia tetap diutamakan dalam obrolan sehari-hari agar tak membuat anak-anak semakin berjarak dengan bahasa persatuan.

Untuk mengakomodir keinginan tersebut, dewan juri yang terdiri dari Mira, Triawan, Riri, Aksan Sjuman, dan kelompok RAN mengutamakan lagu peserta lomba yang menggunakan lirik Bahasa Indonesia. "Lagu tetap boleh disisipkan lirik bahasa daerah dan asing, tapi yang utama menggunakan lirik berbahasa Indonesia," imbuh Rayi Putra Rahardjo, personel RAN.

Perihal tema, dewan juri menetapkan lima tema besar yang bisa dijadikan lagu yakni: Keindahan Alam, Petualangan, Persahabatan, Keluarga, dan Liburan. Tema tersebut sengaja dibuat agar tema lagu tidak melebar kemana-mana.

Semua karya peserta nantinya akan diseleksi dan di pilih lima terbaik. Satu lagu pemenang utama pilihan dewan juri  akan mendapatkan hadiah uang tunai senilai Rp. 75 juta, plus dibuatkan video klip musik. Sementara pemenang pilihan publik berdasarkan voting akan mendapatkan  Rp. 25 juta. Bersama tiga lagu lain dari RAN, kelima lagu tadi dimasukkan dalam album kompilasi soundtrack film Kulari ke Pantai. Soundtrack tersebut nantinya akan diedarkan secara gratis lewat dua medium yakni digital dan fisik dalam bentuk CD yang jumlahnya sekitar 10 ribu keping.

Bagi yang berminat untuk mengikuti lomba ini dapat mencari Informasi dan pendaftaran dapat mengunjungi situs web kularikepantai.com. Batas pengumpulan lagu hingga 15 Mei 2018./ Dek

Sunday, 15 April 2018 02:05

Anggun

Cetak Sejarah Baru Melalui Single 'What We Remember'

Juara World Music Award, Goodwill Ambassador United Nations, Juri Internasional Asia’s Got Talent kembali mencetak tonggak sejarah menjadi artis kelahiran Indonesia pertama yang berhasil bertengger di charts Billboard selama lebih dari 15 minggu berturut-turut. Versi remix khusus US tersebut secara luas telah diputar di dance club dan dance radio di seluruh Amerika.

Lagu ‘What We Remember’ mendapat respon yang luar biasa sejak pertama kali di rilis, bahkan bertengger di Top 10 Billboard selama 3 minggu berturut-turut.  “Saya sangat gembira melihat single ‘What We Remember’ menjadi hit untuk lagu dance di Amerika Serikat. Saya merasa terhormat dapat melihat bahwa 20 tahun sejak posisi charts pertama di Amerika dengan lagu ‘Snow on the Sahara’, musik saya masih diputar dan dinikmati disana. Dan dengan cara yang baru, pada audiens yang baru,” sumringah Anggun.

Saat ini memiliki jadwal Anggun yang padat, sehingga tidak memungkinkan untuknya melakukan perjalanan ke Amerika dari beberapa bulan belakangan. Namun ia memang telah merencanakan  untuk terbang ke Los Angeles, Amerika Serikat segera untuk menjadi juri terhormat untuk Sony Picture. Ia akan hadir pada festival film bersama dengan aktris Megan Boone dari TV series Blacklist pada musim panas ini.

02 Anggun Istimewa

Anggun (Istimewa)

Anggun senderi saat ini tengah sibuk di Eropa, dimana  dirinya baru saja melakukan rekaman duet bersama Shane Filan dari grup Westlife. Dalam beberapa bulan ke depan ia tampil dalam dua acara TV di Perancis, konser di Italia, ataupun sesi foto kover depan di majalah Perancis terkenal. Untuk itu, dengan nada yang menyesal, Anggun meminta maaf belum dapat meluangkan waktu untuk para penggemarnya di luar Eropa.

“Tetapi untuk penggemar tercinta saya di Indonesia dan Malaysia, saya akan merilis single terbaru ‘The Good is Back’ pada tanggal 20 April 2018 mendatang yang diambil dari album terbaru “8” dengan dua talenta artis yang berbeda. “Ini akan menjadi hadiah saya bagi para penggemar Indonesia dan Malaysia disana yang paling mendukung dan mencintai saya selama beberapa tahun ini”, tutupnya./ Tez

Thursday, 12 April 2018 08:59

Nagaswara Momentum 2018

Unjuk Gigi 3 Bintang Nagaswara Lewat 3 Single Anyar

Menjelang pertengahan April 2018 ini, Nagaswara kembali merilis 3 single terbaru para bintang andalannya, yakni Firman Siagian, Delon dan Black Champagne. Perilisan ketiga single tersebut di rangkum dalam tajuk Momentum 2018.  Tak hanya sekedar me-launching ketiga single tersebut, acara juga dirangkai dengan agenda khusus yakni penyerahan penghargaan kepada Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombespol, Harry Kurniawan beserta jajarannya.

Penghargaan tersebut sebagai bentuk kepedulian Nagaswara terhadap keberhasilan Kombes Harry Kurniawan dan jajarannya yang telah berhasil membongkar pabrik penggandaan keping CD, VCD, DVD bajakan di wilayahnya. Tindakan yang dilakukan tersebut dinilai telah sedikit banyak sebagai upaya pemberantasan produksi dan peredaran DVD, CD dan VCD bajakan.

Dalam kata-kata sambutannya produser Nagaswara, Rahayu Kertawiguna menyebutkan bahwa dirinya yang sengaja mewakili artis, produser dan penyanyi sepeuhnya mendukung upaya Polri melakukan pemberantasan pembajakan hak cipta karya musik dan lagu.

02 PhotoNagas

Kapolres Metro Tangerang Kota, Kombespol, Harry Kurniawan saat membalas memberikan plakat kepada produser Nagaswara, Rahayu Kertawiguna (Ibonk)  

Balik lagi ke inti acara ini, ketiga musisi papan atas Nagaswara tersebut baik Black Champagne, Delon ataupun Firman Siagian mengaku cukup senang dengan karya yang mereka tawarkan kepada para pencinta musik tanah air ini.

Seperti yang disampaikan oleh Black Champagne yang di motori Mita (The Virgin) dan DJ Citra bahwa saat ini mereka melepas tunggalan ‘Move On Dong’ yang menjadi single kedua setelah sebelumnya menghadirkan single pertama ‘Jangan Gitu Dong’. Masih tetap mengusung konsep musik Electronic Pop, duo ini dari sejak awal memang dibentuk untuk format musik LivePA yang menggabungkan konsep DJ dan kemampuan permainan gitar Mita.

“Alhamdulillah, sebenarnya nggak nyangka juga jika Bapak Rahayu masih percaya untuk rilis single kedua. Karena menurut Mita sih, single pertama sebelumnya terasa biasa-biasa saja. Saat ini Black Champagne telah memiliki total 9 lagu dan akan bertambah karena kita lagi produktif. Ini memang sebuah tantangan baru,” ujar Mita yang diamini oleh DJ Citra saat temu media di bilangan Semanggi, Rabu (11/4/2018).

Sementara Delon, yang menjadi musisi senior diantara rekannya tersebut menempatkan single berjudul ‘Terluka Mencintaimu’ yang merupakan  ciptaan Pay ”Caramel”. Lagu manis bertempo sedang tersebut dipastikan mampu menjaga kualitas Delon di skena musik dalam negeri. Dalam setiap penampilannya Delon kerap menunjukkan kepiawaian dalam berolah vokal yang prima, termasuk bekerjasama dengan sejumlah musisi dan pencipta lagu.

03 PhotoNagas

Black Champagne yang dimotori oleh DJ Citra dan Mita  (Ibonk)

Lain lagi dengan Firman Siagian, yang sempat digoda sebagai anak hilang yang kembali pulang ke kandangnya. Lewat tunggalan ciptaan Endy Irvan dengan judul ‘Bukan Kamu Tapi Kamu’, Firman ingin menunjukkan keberadaannya. Lagu ini juga merupakan nomor pamungkas Firman yang lain setelah lagu ‘Kehilangan’.

”Project kali ini sebenarnya adalah pekerjaan yang tertunda saya dengan Nagaswara. Kita memang sempat putus sebentar lalu di teruskan lagi projectnya, Rencananya akan merilis album berisi 10 single,” ungkap Firman.

Acara perilisan ketiga single tersebut diakhiri dengan penampilan ketiganya menghibur penggemarnya yang hadir pada malam tersebut./ Ibonk

Tuesday, 10 April 2018 05:49

Starwick

Kisah Panjang Dalam Enam Track

Starwick bukanlah nama baru di skena musik independen Jakarta. Terbentuk sejak 2004, band yang pada 2011 solid dengan formasi Dindin (gitar vokal), Arvi (bass), Arman (gitar), dan Anto (drum, vokal) di kenal sebagai salah satu kompatriot pengusung geek rock. Setelah lama tidak terdengar kiprahnya, kuartet ini  kembali dengan sebuah karya terbarunya yang di kemas dalam debut mini album.

Masih dalam benang merah karya yang mereka tunjukkan, EP ini menyuguhkan distorsi rapat dengan ketukan catchy. Ada enam track karya yang bisa dibilang menjadi rangkuman dari perjalanan Starwick yang tidak bisa dibilang pendek.

"Sebenarnya sejak 2011 sampai 2013 itu kami terus melakukan proses recording, tapi memang belum waktunya aja kali yah. Sehingga hanya lagu 'Just Fair' yang bisa diselamatkan dan kemudian menjadi rilisan Bah! Records (A Typical Moment You Would be Happy to Put on Repeat Compilation, 2012)," ulas Dindin.

Sejak tahun 2004 sampai 2012, mereka cukup sering menyebar materi di beberapa kompilasi bahkan situs-situs media social. Nah beberapa materi lawas tersebut mereka pertemukan dengan sejumlah materi baru dalam sebuah judul “Picture of Tomorrow”.

02 Starwick Pictures Of Tomorrow Istimewa

Starwick-Pictures Of Tomorrow (Istimewa)

Tak mau patah arang, utang rekaman yang sempat terbengkalai pun dilanjut dua tahun setelahnya Masih menjumpai kendala, proses rekaman pun dimulai kembali pada 2017. Semangat dan tanggung jawab jadi alasan mereka kenapa EP ini harus selesai.

"Sejak pertengahan 2015 kami selalu komit untuk workshop dan menyusun demo di rumah Anto, hampir setiap Sabtu pagi sampai siang. Karena ngeband harus ada pertanggungjawabannya. Nah karya dalam bentuk EP pertama ini, adalah bentuk tanggung jawab atas waktu, pemikiran dan alat-alat musik selama band ini berdiri," tandas Dindin lagi.

Dalam penggarapan EP ini, mereka melibatkan juga Ario Hendarwan (The Adams) yang menjadi mixerman merangkap produser mendampingi empat personel Starwick. Tentunya dibantu juga Rully Pratama Putra, Gigih Suryoprayogo (The Adams), dan Pandu Fathoni (The Adams, Morfem) yang menjadi sound engineer selama proses rekaman berlangsung di Studio Ario Bekasi and Studio Teras Belakang Tangerang.

Adapun proses mastering dikerjakan oleh Steve Corrao di Sage Audio, Nashville, Tennessee, Amerika Serikat. "Kami memang enggak punya time table rekaman. Tetapi setiap ada waktu luang dari pekerjaan dan keluarga pasti kita selalu 'setor' ke Ario, jadi secara standar dan estetika semua terjaga melalui satu pintu. Ario sebagai produser pun bisa menempatkan potensi personil untuk memaksimalkan sebuah karya.

Tema yang diangkat dalam "Picture of Tomorrow" lebih dari separuhnya adalah tema sosial ketimbang personal. Seperti pada lagu ‘Just Fair’, yang menyelipkan pesan kalau korupsi tidak melulu hal besar. Malah kerap terjadi dalam keseharian dan dianggap sepele seperti mencontek atau buang sampah sembarangan. Ada pula cerita tentang sudut pandang mereka atas kasus yang menjerat politisi Demokrat, Muhammad Nazaruddin lewat lagu ‘How The Story Ends’.

03 Starwick Istimewa

Starwick (Istimewa)

Sedangkan track ‘Picture of Tomorrow’ yang jadi nama untuk EP ini diambil dari momen letihnya pulang kerja yang kemudian sirna karena keceriaan anak di rumah. Lewat lagu ini mereka hendak berpesan kalau masa depan harus lebih baik.

Mini album ini kemudian jadi penegas kalau kuartet yang senang disebut sebagai kelompok rock senangsenang ini masih ada dan terus berkarya. Tak cukup di debut "Picture of Tomorrow", karya mereka pun akan dihadirkan lagi lewat EP sequel yang akan digarap kemudian.

"Konsepnya memang double EP dengan lagu-lagu lama di EP pertama dan lagu baru di EP kedua. Jadi target jangka pendeknya adalah perekaman lagu-lagu baru untuk materi EP kedua. Tapi tanggung jawab utama sebagai orang tua tetap harus dijaga. Maklum kita band bapak-bapak," ucap Dindin sambil tertawa.

Ekspektasi besar pun disematkan dengan keinginan tur Indonesia bareng band idola mereka. Album yang covernya digarap oleh Ridwan Rau-Rau dan lay out oleh Eko Siswanto ini pun akan dirilis pada 21 April 2018 mendatang dalam format cakram padat.

Berikut keenam lagu yang disemat dalam Picture of Tomorrow EP:
1. Intro-Domestic Violence
2. One with Harmony
3. Just Fair
4. Star
5. Picture of Tomorrow
6. How the Story Ends/ Dek

Thursday, 05 April 2018 07:00

Chrisye

Nama Yang Terus Hidup Dalam Nafas Generasi

…. ‘Sejak jumpa kita pertama kulangsung jatuh cinta. Walau ku tahu kau ada pemiliknya. Tapi ku tak dapat membohongi hati nurani. Ku tak dapat menghindari gejolak cinta ini’…. Lantunan bait-bait yang cukup akrab ditelinga lamat-lamat sampai juga ke telinga penulis. Terkesan menarik karena lagu tersebut ditingkahi sisipan irama gondang batak nan rancak dalam sebuah pesta pernikahan. Seperti sebuah mesin waktu, mendengar lagu tersebut sesaat saja langsung melemparkan ingatan akan sebuah nama, Chrisye.

Mengenang seorang Chrismansyah Rahadi atau Chrisye yang telah pergi meninggalkan kita sejak 11 tahun lalu, tepatnya pada 30 Maret 2007. Tetap saja kepergian abadinya tersebut, tak lantas mematikan karya-karyanya dari ruang dengar generasi bangsa ini. Mari kita tajamkan telinga, perhatikan dengam seksama, masih terus kita bisa mendengarkan lagu-lagu karyanya dinyanyikan oleh siapapun, dimanapun. Tak peduli oleh pengamen jalanan, di pesta-pesta, panggung musikal, dalam album rekaman, di kota ataupun jauh di pelosok ujung negeri ini.  

Seperti sebuah sihir, lagu-lagu almarhum Chrisye cenderung abadi, mengikuti gerak zaman tanpa terdengar seperti sebuah lagu klasik. Dari dekade 1967 sampai 2004, Chrisye telah membukukan sebanyak 20 album studio dan terlibat dalam 2 original soundtrack. Ditambah lagi dengan berbagai penghargaan mulai dari BASF Awards hingga Anugerah Musik Indonesia sering didapatkannya. Ini semua adalah sebuah produktivitas spartan seorang musisi yang berkarya selama 40 tahun masa dirinya berkarir.

02 Chrisye Istimewa

Chrisye (Istimewa)

Chrisye memiliki timbre vokal yang terkesan malu-malu namun menjadi cirinya yang paling kuat, sama seperti gaya panggungnya yang kaku. Mengutip apa yang pernah disampaikan oleh Jockie Suryoprayogo bahwa suara khas Chrisye menjadi sangat cocok ketika disandingkan dengan lagu ‘Lilin-Lilin Kecil’. Sementara Erwin Gutawa mengibaratkan suara Chrisye layaknya sehelai kertas kosong, yang dapat diterapkan untuk apa saja.

Berpulangnya Chrisye keharibaan sang Khalik, kesuksesan album-album yang dihasilkan serta  keberadaan dirinya di skena musik tanah air membuat karya-karya Chrisye kerap dikreasikan ulang oleh banyak musisi Indonesia masa kini. Terlepas dari tujuan masing-masing mereka, apakah menyanyikan dan mengaransir ulang karya Chrisye tersebut hanya sebagai pendongkrak karier atau memang murni sebagai bentuk apresiasi terhadap sang maestro. Yang jelas lagu-lagu tersebut cukup nyata diterima oleh pendengarnya.

Seperti yang dihadirkan oleh grup band akustik D’Cinnamons pada sekitar 2008 lalu yang  mengangkat sebuah single melegenda ‘Galih dan Ratna’ dalam versi akustik. Disini mereka cukup berhasil untuk tidak terjebak akan nama besar Chrisye, walaupun tak banyak nada yang dirubah oleh mereka.  Pada tahun 2017 juga lagu dengan judul yang sama ini malah di turunkan ke layar film dan juga merupakan remake dari film “Gita Cinta dari SMA” yang dirilis pada tahun 1979 silam. Original soundtrack lagu ini dinyanyikan oleh Sheryl Sheinafia yang juga sebagai pemeran utama.

Ada juga Afgan yang meletakkan sebuah lagu dari Chrisye yang berjudul 'Panah Asmara' di album keduanya. Lagu dan album yang dirilis pada tahun 2010 tersebut terdengar cukup modern di kemas lewat sentuhan yang cukup rancak. Lainnya mungkin seperti yang ditampilkan. D'Masiv lewat single 'Pergilah Kasih', Sandhy Sondoro yang menyanyikan lagu 'Anak Jalanan', yang dirangkum dalam album 'Akustichrisye' lewat versi lebih nge-blues, atau yang lainnya seperti yang dihadirkan Fatin Shidqia dengan judul ‘Ketika Tangan dan Kaki Berkata’.

05 Chrisye Istimewa

Chrisye (Istimewa)

Seperti yang pernah disampaikan oleh Abdul dari Abdul & The Coffee Theory dalam sebuah kutipannya ketika mengerjakan album kompilasi “Melody Chrisye” untuk mengenang 9 Tahun kepergian sang legenda bahwa semua lagu Chrisye enak didengar dan banyak orang yang hafal. “Lagu yang jarang didengar pun enak . Bahkan orang yang bukan penggemar lagu Chrisye pasti mengenal dan bisa mengikuti lagu hanya mendengar sambil lalu,” ungkap Abdul.

Tidak hanya mengaransir lagu-lagu Chrisye dalam bentuk album ataupun single, nama Chrisye kerap dihidupkan di panggung-panggung musik negeri ini baik dalam bentuk rekaman ataupun live. Walau lewat format yang berbeda-beda, tapi tetap saja membawakan satu benang merah yang nyata, yakni betapa nama dan karya Chrisye tak pernah mati.   

Perjalanan karir musik Chrisye yang terentang panjang lewat pencapaian prestasinya menjadi lebih tajam di ujung kehidupnya. Siapa sangka, kalau keterbukaan hati dan pemikirannya untuk bekerjasama dengan banyak musisi, budayawan dari berbagai genre dan usia akhirnya menjaga keberadaan posisinya secara terus menerus.

Walau telah 11 tahun kepergiannya, nama dan karyanya tetap saja terus terpelihara dalam ingatan generasi bangsa. Seperti langkah besar yang paling baru diakhir tahun silam, lewat sebuah film biopic tentang dirinya yang diproduksi oleh MNC Pictures menggambarkan hal tersebut. Betapa Chrisye dan karya-karyanya tetap hidup dalam nafas generasi bangsa ini./ Ibonk

Tuesday, 03 April 2018 15:03

Jelita Sejuba

Suka Duka Istri Seorang Prajurit


Seperti yang pernah di tulis di artikel sebelumnya, bahwa sejujurnya film Jelita Sejuba adalah sebuah gambaran pergulatan batin seorang perempuan Natuna bernama Sharifah (Putri Marino), di saat Jaka (Wafda Saifan Lubis) suaminya yang seorang prajurit harus menjalankan baktinya kepada negara.

Pergolakan batin, melemahnya hati sampai akhirnya memunculkan ketegaran dalam diri seorang perempuan pendamping prajurit negara dipaparkan secara menyeluruh di dalam film ini. Perpisahan demi perpisahan karena harus menjalankan tugas negara tidak bisa terelakkan, bahkan sampai kepada kematian yang tak pernah dibayangkan datang menjemput secara tergesa-gesa.

Tapi ibarat hamparan meja yang dipenuhi oleh santapan yang lezat, akhirnya menjadi mubazir karena tak semuanya dapat disantap. Begitulah yang terjadi dalam film ini. Besarnya keinginan Krisnawati yang duduk sebagai produser eksekutif untuk menunjukkan apresiasinya terhadap keteguhan hati para istri prajurit yang harus siap menjadi sosok kuat demi mendukung peran suaminya, menjadi bumerang pada film ini.

Seperti juga dirinya, Ray Nayoan sebagai Sutradara juga terlihat setali tiga uang. Penggambaran mereka terhadap sosok wanita kuat kenapa harus lewat ujian hidup yang bertubi-tubi. Yang paling nyata adalah masalah keuangan keluarga ini. Setau NewsMusik, Jaka adalah seorang perwira, biar bagaimanapun gajinya cukuplah untuk membiayai istri dan anaknya. Agak rancu juga melihat Sharifah sampai-sampai tak sanggup membiayai aliran listrik dan membayar gaji asistennya, Siti di warung mereka.

02 Syarifah dan Jaka Istimewa

Jaka & Syarifah (Istimewa)

Belum lagi jalan cerita yang terkesan melompat-lompat tanpa ada penjelasan, penonton harus bekerja keras merangkai beberapa scene agar paham dan tak kehilangan inti cerita. Apalagi film ini diceritakan secara flashback. Atau arti indah dari makna Jelita Sejuba tidak sekalipun diterangkan secara rinci apa maknanya. Penonton hanya diberikan informasi secara visual bahwa Jelita Sejuba tak lain nama sebuah warung makan milik keluarga Sharifah.

Malah pada scene-scene penutup muncul tulisan yang disematkan oleh Andika (anak tertua dari Jaka dan Syarifah) sebuah frasa yang cukup kuat “Ayahku Pahlawanku”. Sebuah kata yang dibuatnya sebagai bentuk sambutan dan kerinduan dirinya karena sering ditinggalkan Ayahnya bertugas. Kata itu pula menjadi penutup penting, tatkala Syarifah harus meninggalkan rumah dinas mereka, karena ia telah kehilangan suaminya yang gugur di medan konflik.

Yang patut disayangkan lainnya adalah ending yang seakan anti klimaks, sedikit terasa terlalu dipaksakan agar akhir dari cerita ini tidak menjadi sebuah kesedihan tak berujung. Tiba-tiba saja, Farhan sang adik kembali hadir setelah kabur dari rumah dan telah menjadi seorang prajurit.   

Diluar semua itu yang memang patut diberikan acungan jempol adalah totalitas dan keberhasilan Putri Marino. Ia patut mendapat perhatian khusus karena paling berhasil membangun chemistry –nya sebagai Syarifah, dari seorang gadis lugu menjadi sosok wanita yang kuat.  

03 Jelita Sejuba Istimewa

Jelita Sejuba (Istimewa)

Beberapa nama senior di ranah simatek Indonesia yang terlibat diantaranya Yayu Unru (Ayah), dan Nena Rosier (Ibu). Nama-nama lain yang mencuri perhatian di film ini yang patut diapresiasi adalah akting dari Yukio (Andika, anak Sharifah), Abigail dan Mutiara Sofya (teman-teman Sharifah masa remaja), dan Harlan Kasman (Nazar) yang merupakan pemuda asli Natuna.

Ricky Surya Virgana dari The White Shoes and The Couple’s Company yang dipercaya untuk menjadi penata musik dianggap berhasil dengan meramu langgam melayu sebagai tali pengikat dalam film ini. Sementara original soundtrack film ini cukup diwakili lewat sebuah tembang  berjudul ‘Menunggu Kamu’ melalui suara Anji. Jelita Sejuba akan segera tayang, mulai 5 April 2018 di seluruh bioskop Indonesia./Ibonk

Sunday, 01 April 2018 02:21

Iksan Skuter

Jalani Pilihan Bermusik dengan Senang

Dirinya adalah penikmat kopi, peduli dengan keadaan sosial, juga lantang meneriakkan suara rakyat lewat musiknya. Yap, dialah Muhammad Iksan atau lebih akrab disapa Iksan Skuter. Pria yang lahir di Blora, Agustus 1984 ini butuh 18 tahun untuk malang melintang dibidang musik. Kota Malang menjadi sebuah Kawah Candradimuka yang menempa Iksan, dari mulai menjadi gitaris Band Putih hingga sekarang menjadi Folk Revivalist.

Warung Srawung yang berlokasi di Malang adalah salah satu hasil jerih payah dia dalam berkarir selama dimusik. Sebuah warung yang kini menjadi tempat berkumpul, tinggal, hingga label recording. Sengaja ia ciptakan untuk memberikan dukungan bagi musisi setempat dan semangat regenerasi.

Tercatat lima album menjadi rekam jejak karier Iksan Skuter sebagai penyanyi dan penulis lagu. Lewat gitar akustik dia melantunkan beragam cerita kehidupan manusia, mulai tema cinta, kemanusiaan, alam, darurat agraria hingga kritik sosial. Eksplorasi kreatifnya tidak terbatas pada musik folk serta balada namun juga lagu anak-anak.

02 Iksan Skuter Fikar

Iksan Skuter (Fikar)

Seperti kultur para musisi, Tour adalah ibadah wajib untuk melebarkan sayap, juga silahturahmi dengan kolega dalam sebuah genre karier yang sama. Bertempat di Earhouse yang dimiliki duo folk Endah N Rhesa dibilangan Pamulang Tangerang, Iksan sengaja berlabuh di tempat ini untuk menyuarakan karyanya pada 26 Maret 2018 silam.

Lokasi ini merupakan pemberhentian kedua setelah Unisma Bekasi dalam tour 8 kota yang sudah direncanakannya. Meskipun cuaca bisa dikatakan jauh dari cerah namun tak menyurutkan animo muda-mudi yang turut hadir disana.

Penampilan dirinya di Earhouse ia tidak sendiri, ada juga beberapa penampil lain seperti Jason Ranti dan Adrian Adioetomo. “Ya aku ngejalanin ini karena senang, dan juga aku percaya kalau kita memang yakin jalan kita seperti ini. Kita ya ndak bisa kalau jalan sendiri. Disini banyak teman-teman yang bantu dan aku terima kasih sekali kepada mereka yang udah rela mau ikut-ikutan ibadah tur aku hehehe”, ungkap Iksan ketika berbincang hangat dengan NewsMusik.

03 Iksan Skuter Fikar

Iksan Skuter (Fikar)

Secara kasat mata, Iksan Skuter mampu menunjukkan kelebihannya dalam bertutur lewat lirik bergaya obrolan warung kopi. Begitu santai dan terdengar apa adanya. Namun disitulah letak kelebihannya. Lewat tema sosial yang diusung, maka tidak perlu waktu lama bagi pendengar untuk mencerna apa yang ingin disampaikannya
    
Teruslah bertutur Sob, bawa pesanmu lewat cara sederhana ke seluruh pelosok negeri ini/ Fikar
  

Friday, 30 March 2018 00:42

Syncronize Fest 2018

Gelar Roadshow dan Umumkan Lineup Fase Pertama

Ajang musik tahunan Synchronize Fest pada 2018 sudah kembali menyapa penggemarnya untuk gelarannya di tahun 2018 ini. Festival yang diselenggarakan oleh Demajors dan Dyandra Promosindo ini kerap menyuguhkan pertunjukan musik lintas genre dan lintas generasi.  Walau masih akan di gelar pada 5-7 Oktober 2018 nanti  di Gambir Expo, Kemayoran, Jakarta Pusat, namun pihak penyelenggara sudah terlihat siap menggelontorkan nama-nama tenar musisi di fase pertama ini.

Penggagas sekaligus Festival Director Synchronize Fest 2018, David Karto, mengatakan bahwa perhelatan ini bisa menjadi ruang interaksi bagi semua pelaku musik Tanah Air. "Synchronize Festival 2018 diharapkan menjadi “Kawah Candradimuka” nya untuk musisi tanah air. Juga  menjadi ruang interaksi bagi semua pelaku dan penikmat musik Indonesia," ungkap David Karto selaku Festival Director dalam konferensi pers yang berlangsung di kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Rabu (28/3/2018)

Pada fase pertama, Synchronize Fest telah memastikan 28 nama-nama musisi yang akan hadir yakni Rhoma Irama & Soneta, God Bless, dan Nasida Ria, Iwa K, Kunto Aji, Ras Muhamad, The Coconut Treez, Ramengvrl, Burgerkill, Straight Answer, dan SO7.

Termasuk juga didalamnya nama lain seperti Diskoria, Diskopantera, Oomleo Berkaraoke, Sore, Fourtwnty, Danilla, Padi Reborn, Naif, Jason Ranti, Noxa, Stars and Rabbit x Bottle Smoker, Reality Club, Jiung, Tohpati Ethnomission, White Shoes and the Couples Company, Project Pop dan Dipha Barus.

02 Press Conf

M Riza (Technical Festival Director), David Karto (Festival Director), dan Kiki Aulia (Program Director saat konfrensi pers Syncronize Festival di Jakarta (Istimewa)

Sama seperti tahun sebelumnya dengan menyodorkan 5 panggung untuk mempertontonkan seluruh penampilan dari para musisi yang ada. Panggung-panggung tersebut adalah Dynamic Stage, Forest Stage, Lake Stage, District Stage, dan Gigs Stage.

Tiket early bird untuk pertunjukan tiga hari sudah bisa dibeli pada 28 Maret 2018 seharga Rp 225.000. Sementara pembelian reguler tiga hari seharga Rp 450.000, tiket harian Rp 245.000, dan tiket harian sebelum pukul 15.00 WIB seharga Rp 179.000. Tiket itu khusus dibeli lewat laman www.synchronizefestival.com. Sementara untuk pembelian di tempat Rp 490.000 untuk tiga hari dan Rp 279.000 untuk satu hari.

Untuk memanaskan ajang bergengsi ini, pihak penyelenggara sudah memastikan empat kota sebagai ajang road show. Kota yang terpilih adalah Bandung, Yogyakarta, Surabaya dan Jakarta. Dalam Roadshow Synchronize Fest 2018 tersebut akan di gelar seminar, lokakarya musik di berbagai kampus sampai kepada showcase beberapa musisi.

"Ada beberapa kota yang animonya besar dan kami ingin lebih lagi memperkenalkan seperti apa Synchronize Fest ini," jelas David.

Seperti yang juga disampaikan oleh Muhammad Riza selaku Technical Festival Director Synchronize Fest bahwa edutaiment yang ada di dalam workshop ini diharapkan mampu mengembangkan ekosistem musisi daerah. Agar mereka juga tergerak untuk bisa membuat kreasi yang luar biasa di dalam genre yang mereka pilih./ Ibonk

Thursday, 29 March 2018 04:22

Partikelir

Perangi Narkoba Lewat Komedi Aksi

Ini adalah cerita dua sahabat yang terpisah usai SMA, Adri (Panji Pragiwaksono) dan Jaka (Deva Mahendra). Mereka bersahabat sejak mereka di Sekolah Dasar. Keduanya mempunyai kegemaran yang sama, tergila-gila dengan segala hal yang berbau detektif. Akhirnya sebuah kasus berdampak kepada persahabatan mereka yang sempat terpisah pada saat kuliah.  Jaka bekerja sebagai pengacara di sebuah Law Firm Litigasi, sementara Adri tetap ngotot dengan cita-citanya sebagai detektif.

Kisah berawal dengan adegan sosok Adri yang dikejar oleh dua orang yang berusaha mendapatkan sesuatu milik Adri.  Tanpa banyak dialog yang muncul, film ini memunculkan adegan yang cukup membuat penonton menyunggingkan senyum.

Belakangan barulah diketahui bahwa Adri adalah seorang detektif Partikelir (Swasta) yang hanya memfokuskan penyelidikan tentang perselingkuhan, namun akhirnya tanpa sengaja masuk ke dalam suatu jaringan narkoba yang disebut “Rantau”.

Dari kasus inilah membawa Adri mengenal sosok cantik, Tiara (Aurelie Moeremans) yang tengah memintanya untuk menyelidiki ayahnya. Ditengah penyelidikan tersebut tiba-tiba ayah Tiara,  Raga (Cok Simbara) didapati tertembak.  Hal inilah yang akhirnya membuat Adri meminta bantuan Jaka untuk sama-sama menyeliki kasus ini.

02 Partikelir Movie Istimewa

Partikelir Movie (Istimewa)

Adri dan Jaka yang mempunyai karakter berbeda,  terpaksa bekerja sama untuk menyelesaikan sebuah kasus.  Jaka yang awalnya menolak akhirnya mau tidak mau ikut terseret juga menangani kasus Adri. Dari sini petualangan mereka sebagai detektif dimulai.  Adri yang menyelidiki kasus ini sejak awal menemukan kejanggalan di Lembaga Narkotika Nasional (LNN)  yang menangani kasus narkoba yang berakhir dengan disanderanya Adri oleh komplotan tersebut.

Kasus narkoba memang marak belakangan terakhir ini, berbagai nama selebritis Tanah Air tertangkap tangan mengkonsumsinya. Ada pesan yang di selipkan pada akhir film. Dimana Adri akhirnya mengetahui bahwa sahabatnya adalah seorang pengguna narkoba.  Namun sebagai sahabat Adri berusaha untuk memberikan kesembuhan kepada sahabatnya itu. 

Celetukan-celetukan segar selalu mewarnai film ini, apalagi ditambah dengan sosok yang sudah akrab di layar kaca sebagai stand up komedian. Kita dapat melihat polah dari Arief Didu dan Dodit Mulyanto serta ditambah dengan kehadiran Gading Martin. Sebagai seorang komedian, aksi Pandji disini mampu membuat penonton tertawa tanpa harus melakoni hal-hal yang absurd.
 
Panji Pragiwaksono yang bertindak sebagai pemain, penulis skenario, dan sekaligus sebagai sutradara ini cukup berhasil memainkan tokoh Adri.  Meski agak kesulitan dengan multi peranannya dalam film ini, namun ia cukup baik memerankan tokoh tersebut. 

03 Partikelir Movie Istimewa

Partikelir Movie (Istimewa)


Begitupun dengan karakter Jaka, Deva yang terbiasa memerankan tokoh serius aktingnya kali ini terlihat mampu memaikan karakter tersebut dengan beberapa mimik yang cukup mengena. Sementara kehadiran sosok Luna Maya dan Farah Quinn hadir sebagai pelengkap. Hanya sebagai cameo, tanpa banyak porsi akting untuk mereka di film ini.

Film yang akan tayang mulai 5 April ini banyak berisi tentang pesan moral kepada pengguna narkoba terutama di kalangan artis hingga pelaku koruptor di Indonesia. Dalam film ini Panji menyindir orang-orang yang mempermalukan para pemakai narkoba karena mereka seharusnya dibantu.

“Bukan sindiran kepada artis, tapi sindiran kepada mereka yang mempermalukan pengguna sebagai penjahat, dengan mempertontokan mereka. “Kenapa harus mereka, kenapa bukan pengedarnya. Karena kalau kita adil, orang yang make, di situ kan juga disebut sebagai pesakitan. Jangan nilai mereka make, karena pasti semua ada alasannya di belakang,” kata Pandji dalam acara konferensi pers Partikelir di Epicentrum Jakarta Selatan, Rabu (28/3).

"Tentu tidak dibenarkan juga mereka pake narkoba, tapi tidak benar mereka diperlakukan sebagai penjahat. Mereka tuh harusnya dibantu, dimasukan kedalam rumah sakit, kok mereka yang dipermalukan? Harusnya penjahatnya dong, yang bikin, yang ngedarin,” tegas Panji.

Panji hanya menyampaikan uneg-unegnya lewat film ini, terhadap kasus narkoba dalam dunia selebritis tanah air. Ironisnya juga, Tio Pakusodewo sebagai pemeran dalam film ini Desember lalu juga tertangkap karena kepemilikan narkoba. Miris bukan? / Nad

Page 1 of 134