http://www.newsmusik.co/exclusive/exclusive-interview/item/1095-isyana-sarasvati Foto-foto Ibonk

Isyana Sarasvati

Jadi Musisi Harus Jujur

Music is my language, begitulah Isyana Sarasvati menerjemahkan musik sebagai bahasa untuknya. Musisi lulusan  Royal College of Music, London ini sudah menekuni dunia musik sejak masih usia belia, memiliki suara merdu dan juga kemampuan bermusik yang luar biasa ini menulis dan mengkomposer sendiri semua lagunya.

Malang melintang di dunia musik dengan mengikuti beberapa perlombaan dari tingkat nasional sampai intenasional pernah dilakoninya. Diantaranya menjadi  Juara Grand Prix Asia Pasific Electone Festival (2008, 2009, 2011), Juara 1 6th Tan Ngiang Kaw/ Tan Ngiang Ann Memorial Vocal Competition, Singapore (2011), Terpilih menjadi salah satu dari 15 Composer Electone Dunia yang tampil di Yamaha Electone Concours [YEC] di Tokyo, Jepang (2011),   Juara 1 Kategori Profesional Kompetisi Vokal Nasional Tembang Puitik Ananda Sukarlan, Indonesia (2013), Gold Certificate, 5th Bangkok Opera Foundation Singing Competition Bangkok, Thailand (2013) dan membawanya menjadi Female Singer of The Year & Album of The Year di ajang NET Indonesian Choice Award pada tahun 2016.

Gadis Kelahiran Bandung  ini piawai memainkan sejumlah instrumen musik, antara lain piano, electone, flute, dan saxophone. Demikian juga kemampuan vokalnya yang unik, terutama di genre opera dan pop. Menjadi guru musik freelance pun pernah dilakoninya nyambi sawaktu kuliah di Nanyang Academy of Fine Arts, Singapore.

Beberapa waktu lalu, NewsMusik mendapat kesempatan untuk ngobrol bersama dara cantik ini di seputaran kawasan Jakarta Pusat.

Apa khabar Isyana?
Alhamdulillah baik

Apa kegiatan saat ini?
Masih promo album “Explore”, manggung off air dan on air, dan menjalani kehidupan  sebagai musisi.

Bisa diceritakan bagaimana awalnya bergabung dengan label sampai keluar album perdana?
Waktu itu aku masih kuliah di Singapore dan libur semester pulang ke Bandung, tiba-tiba dikunjungi Hayden Bell dari Sony Music Asia Pacific (SMAP) yang didampingi pak Alex, Direktur Sony Music Indonesia sekarang.

Jelas kaget didatangi Hayden Bell, karena dia adalah seseorang yang pernah memproduseri Celline Dion,  Christina Aguilera dan lain-lain. Mereka menceritakan bahwa kesulitan mencari alamat dan nomer telepon aku, karena pada masa itu  tahun 2011-2011 aku fokus dan sibuk kuliah, sehingga tidak ada social mediaku yang aktif. Mereka coba cari tahu lewat mention twitter ku, tapi nggak pernah direspon. Akhirnya mereka mengetahui bahwa aku bersaudara dengan Arif, bass-nya Ten 2 Five.

Melalui Arif, akhirnya mereka mendapatkan alamatku sekaligus mengatakan ketertarikannya karena melihat aku di You Tube yang memainkan electon, dan segala macam instrument musik. Setelah bertemu, mereka menawarkan kerjasama untuk bergabung dengan SMAP yang akan rekaman di Swedia.

02 Isyana Sarasvati IbonkFoto-foto Ibonk

Awalnya sempat ragu dan mengatakan kepada mereka bahwa aku sudah berkecimpung selama belasan tahun dengan musik klasik, dan sudah mempunyai karakteristik serta idealisme sendiri. Agak takut juga pada waktu itu untuk masuk ke dunia musik industry. Tapi mereka bersedia menerima aku apa adanya.

Bulan Juni 2014 berangkatlah aku ke Swedia untuk rekaman. Sebetulnya pertengahan tahun 2014 itu albumku sudah jadi, kenapa tidak dikeluarkan adalah karena aku masih sekolah. Untuk take lagu aku ambil disela waktu liburan setelah itu balik ke London.

Pulang ke Indonesia dikeluarkanlah 2 single aku yaitu ‘Keep Being You’ dan ‘Tetap Dalam Jiwa’. Setelah itu aku fokus ke sekolah lagi. Karena sekolah masuk semester akhir. Aku sampaikan bahwa pada saat itu aku ingin fokus dulu kuliah dan tidak mau diganggu dulu. Alhamdulillah pertengahan tahun 2015 lulus dan selesai wisuda aku langsung garap album, finishing dan launching.

Kalau dilihat dari ceritanya kamu dari kecil sudah berkecimpung di dunia musik. Apa makna sebenarnya dunia musik bagi Isyana?
Musik itu sebagai bahasa buat saya, karena dari kecil  aku terbiasa mencurahkan,  menceritakan apapun emosi melalui musik. Aku kesulitan dan agak sedikit lemah untuk bicara dengan orang secara verbal mengenai hal-hal pribadi dan personal.

Pada usia 7 tahun aku pulang ke Indonesia, dimana mempunyai kendala dalam berbahasa Indonesia, malah lebih cepat bisa belajar piano dari pada bahasa Indonesia. Sejak usia itu juga aku mulai mengkompos lagu yang ditemukan mama pada waktu membuka rekaman di dalam electon (alat musik electronic organ) yang aku mainkan. Aku sendiri sudah lupa dan tahu dari mama yang bercerita sewaktu di wawancara.

Sejak saat itulah aku kecil mulai ikut kompetisi, baik ajang nasional maupun internasional. Semakin bersemangat karena  cita-citaku dari kecil ingin menjadi maestro besar atau menjadi musisi, dan inilah sampai sekarang belum berhenti dan semoga saja tidak pernah berubah.

Lagu yang sempat ditemukan mama itu masih ingat nggak lagu apa, sempat di publish kah?
Nggak, belum pernah. Hasil rekamannya aja aku sudah lupa nggak tau kemana. Tapi sewaktu usiaku 9 tahun, sempat juga dikeluarkan lagunya judulnya ‘Cinta Untuk Mama’ pada saat hari ibu dan di published dalam bentuk CD indie berdua dengan kakakku.

Punya impian tertentu yang ingin dicapai di dunia musik?
Impian terbesar dan jangka panjang aku ingin membuat Music Center sendiri. Tidak hanya berupa kursus tetapi di dalamnya ada kegiatan-kegiatan musik seperti Master Class dan lain-lain. Sehingga kalau aku sudah tiada, minimal ada peninggalan sekolah musik.

Ada kesulitan nggak sewaktu terjun di industri musik untuk menyesuaikan diri karena  awalnya dasar musik Isyana adalah musik klasik dan opera?
Sebetulnya tidak ada kesulitan dalam menyesuaikan diri, karena musik klasik juga ada di dalam industri musik hanya berbeda genre dan sedikit berbeda teknisnya. Di industri musik perbedaannya hanya aku jadi lebih dikenal banyak orang, tapi beruntung Sony Music tidak mengganggu-gugat karya-karya aku, dan itu membuat aku senang dan merasa diberkati. Kalau bukan karena bantuan dari major label penyebaran lagu aku mungkin tidak sebesar dan seluas ini. Senangnya juga semua karya pure aku yang buat.

03 Isyana Sarasvati IbonkFoto-foto Ibonk

Bisa diceritakan bagaimana proses pembuatan album Explore  apalagi bisa sampai ke Swedia?
Beberapa lagu yang dibawa ke Swedia itu sebetulnya sudah ku ciptakan 2-3 tahun lalu sewaktu aku sekolah di Singapore. Ada juga beberapa yang fresh dan bawaan dari sewaktu di Indonesia. Ada lagu yang dipotong sebagian dan dimasukkan lagu baru dan juga beberapa lagu yang asalnya berbahasa Inggris di translate ke bahasa Indonesia.

Single ‘Keep Being You’ dan ‘Tetap Dalam Jiwa’ itu sebagian karya Isyana yang diterima oleh masyarakat Indonesia. Pada waktu mengeluarkan karya itu apakah mengikuti genre tertentu atau gimana? Mengingat basic Isyana adalah klasik, sementara kalau dilihat dengan industri sekarang agak sedikit nge-pop, kira-kira itu masuk genre yang mana?
Masuk ke Pop, di album Explore ini pertama kalinya exploration of pop, jadi untuk genre tidak bisa terlalu disebutkan. Untuk album pertama ini memang dibuat di masa aku berusia 20-an dan memang sedang masanya pop.

Aku coba mengeksplore beberapa, cuma moodnya tetap pop. Banyak banget terinspirasi dari genre lain, seperti misalnya ‘Keep Being You’ sangat terinspirasi dari R&B. ‘Tetap Dalam Jiwa’ diinspirasi sedikit orchestra tetapi ditengahnya aku masukkan beat to bar. Juga nggak terlalu memasukan banyak beat, ada yang lebih ke organic. Cuma piano cellonya saja, ada juga yang akustikan. Sebetulnya lebih explore aja sih untuk album perdana ini makamya diberi judul Explore.

Aku membuat musik yang jujur dan musik yang aku rasakan saat ini, apa yang saya rasakan itu yang saya buat, jadi aku membuat album  hanya untuk catatan hidup saja.

Kalau kerja sama dengan Rayi bisa diceritakan gimana awalnya?
‘Kau Adalah’ itu single ketiga aku.  Ada cerita menarik dibalik itu. Jadi sewaktu pulang dari Swedia aku membawa sekitar 15 lagu, Cuma akhirnya aku memutuskan hanya 10 lagu yang diambil untuk album ini. Ada beberapa composer yang tertarik dan menawarkan kerjasama untuk album ini, tetapi aku maunya dalam album ini hasil karya aku jadi tidak terganggu sama sekali.

Ada satu composer yang sangat tertarik dengan lagu yang organik, dia meminta aku untuk featuring dengannya dengan memasukan rap disitu. Aku mulai tertarik dan sempat workshop beberapa kali ada beberapa bagian yang diganti dari lagu itu. Kebetulan aku bisa memilih untuk featuring, akhirnya aku pilihlah Rayi. Jadi dalam album itu yang berisi 10 lagu, satu lagu yang aku rubah.

Apa pertimbangannya tertarik dengan Rayi ?
Rayi lain dari yang lain, dia salah satu rapper yang bisa menyanyi juga karena di dalam lagu tersebut ada melodi dan aku memutuskan itu harus Rayi. Kerjasama dengan Rayi pun asyik banget, orangnya easy going, walau belum pernah bertemu sebelumnya tapi aku merasa cocok karena orangnya juga seru, cuek dan santai.

Video klip ‘Kau Adalah’ konsepnya apa ada cerita di balik itu?
Sesuai dengan lagunya ‘Kau Adalah’ memiliki beat medium, jadi goyang kecil aja, nggak ada cerita disitu. Tidak terlalu banyak history lain. Jadi cuma dilihatkan angle-angle saja sama dengan gerakan mikro. Cuma mengikuti lagu dan little mix nya saja.

Video klip mana diantara tiga single tersebut dalam proses pembuatannya mana yang lebih rumit?
Proses pembuatan video klip terlama adalah ‘Tetap Dalam Jiwa’, karena ada jalan ceritanya dan beda dari yang lain. Ada pemeran lain disitu, setting tempat juga berbeda ada indoor dan outdoor satu hari pengerjaannya. Sebetulnya cuma masalah teknis saja, makanya bisa lebih lama shootingnya. Kalau ‘Kau Adalah’ cuma beberapa jam pembuatannya, begitupun dengan ‘Keep Being You’.

Apa yang menjadi pertimbangan kenapa ‘Keep Being You’ ditempatkan pertama dan ‘Tetap Dalam Jiwa’ terakhir?
Aku pinginnya di dalam album itu yang pertama posisinya adalah ‘Keep Being You’ karena menggunakan bahasa Inggris. Aku ingin di dalam album itu yang pertama adalah yang menggunakan bahasa Inggris. Selain itu pertimbangan yang lain adalah karena temponya medium. Aku juga suka judulnya karena pesan dari lagu itu, yang artinya tetap menjadi diri sendiri.

Alhamdulillah sejak lagu ini pertama kali dikeluarkan selalu jadi nomer satu. Secara tidak langsung pesannya sampai di aku, Jadi Musisi itu harus jujur, jadi secara tidak langsung kalau kita jujur apalagi jujur dengan diri sendiri, otomatis alam semestapun akan selalu mengikuti kita. Jadi ada timbal balik yang sama.

Setelah itu keluarlah single ‘Tetap Dalam Jiwa’, aku juga lupa alasannya kenapa dipilih lagu itu. Lagu itu dibuat berdasarkan curhatan teman aku yang selama 4 tahun selalu aku dengarkan, dan juga merupakan kisah nyata dan dijadikan lagu. Setelah diluncurkan ternyata bisa diterima dan sukses di pasaran, aku jadi berfikir ternyata orang Indonesia suka galau yah..

Pernah baca dalam suatu artikel pernah tidak suka sebenarnya dengan lagu ‘Tetap Dalam Jiwa’?
Bukan nggak suka, haduhhh… kenapa ya kita maksudnya lain selalu judulnya lain. Salah banget kalau dibilang nggak suka dengan lagu itu. Cuma kalau dipilh urutan 1 sampai 10, nah.. ‘Tetap Dalam Jiwa’ masuk urutan ke-10. Jadi bukan karena tidak suka, tetapi karena memang bukan diambil dari pengalaman pribadi aku, jadi aku nggak taruh di awal-awal.

Untuk kedepannya ada harapan atau keinginan kolaborasi dengan siapa?
Kolaborasi selanjutnya aku tidak pernah kepikiran harus kolaborasi dengan siapa, semua berjalan saja. Kadang berjalannya waktu kita bisa bertemu dengan orang baru dan pada saat berdiskusi mengenai musik atau lagu kadang kita bisa ketemu dengan orang yang cocok. Kepingin juga sih, kedepannya bisa bekerja sama dengan Jamie Cullum, kalau di Indonesia dengan Glenn, dan kesampaian di Java Jazz kemarin.

Apa kira-kira tips dari Isyana untuk menjaga eksistensi?
Sebagai musisi kita memang harus tetap berkarya, kalau tidak berkarya bisa berhenti sebagai musisi, itu saja sih menurut aku. Kedepannya aku pingin membuat Music Center itu, karena selama ini aku sudah mempelajari musik secara akademis. Jadi aku merasa harus disalurkan kepada orang-orang yang mencitai musik. Masih banyak yang harus aku pelajari diluar ini dan aku tidak mau semuanya yang sudah dipelajari menumpuk tanpa tahu buat siapa.

Punya rencana untuk tahun depan atau tiap tahun mengeluarkan album lagi nggak, atau ada sesuatu selain album?
Untuk mengeluarkan album nggak juga harus tiap tahun aku keluarkan, karena untuk membuat lagu aku masih tergantung mood. Jadi kalau sedang nggak kepingin nulis lagu aku diam saja. Tapi sebetulnya stok lagu aku sebelumnya sudah banyak dari lagu-lagu dan perjalanan hidup aku dahulu. Mungkin sudah tidak cocok dikeluarkan, tetapi bisa juga nantinya jadi album kompilasi atau tema yang lain. Karena aku membuat lagu sesuai dengan keadaan saat itu.

04 Isyana Sarasvati IbonkFoto-foto Ibonk

Rencana lain selain itu, misalnya membuat musik berat?
Belum tahu, belum kepikiran.

Atau coba main film?
Waduh main film?.. Tapi nggak menutup kemungkinan juga main film. Background aku pernah bermain opera. Opera itukan seperti main film juga, Pingin sih.. tapi saat ini pingin fokus dulu di musik. Pernah ditawari pada tahun 2014 lalu, sampai sekarang belum aku ambil karena mengeluarkan album dulu.

Kalau misalnya ada waktu dan ada kesempatan main film, kepinginnya jadi apa?
Aku pinginnya jadi pemeran antagonis, karena diampun aku sudah kelihatan antagonis. Gara gara alis Madura ini kali yaaa.. Kalau peran jadi orang baik atau cinta lingkungan malah nggak bisa kali ya. Susah banget sepertinya. Tapi sudahlah…  wong pelajaran IPS ku aja nol.. Ilmu Pengetahuan Selebriti hahahaha.. Waktu pulang ke Indonesia, aku nggak kenal siapa-siapa kaget sendiri jadinya.

Ada pesan/ kesan yang di dapat sekian lama berkecimpung dalam dunia musik?
Buat orang yang tidak tahu perjuangan aku di dunia musik pasti dibilang, Isyana cepat sekali naiknya, cepat sekali ngetopnya. Padahal mereka tidak tahu, perjalanan aku selama belasan tahun di musik. Sedangkan aku baru dikenal mulai usiaku 20 tahun.

Jadi bisa dibilang nggak cepat juga. Dari kecil aku sempat merasakan dikarantina 7-8 jam. Setiap kali mau kompetisi, minimal 11 jam dan tidak bisa pulang ke rumah. Dalam bermusik, di usia 22 tahun, dan sudah mencapai 20.000 jam, tetap saja untuk menjjadi musisi, kita harus sering berlatih dan menciptakan musik, baru kita dibilang sukses sebagai musisi.

Dari album pertama ini apa yang Isyana ingin sampaikan?
Aku cuma ingin berbagi cerita sehari-hari saja. Banyak orang yang tidak tahu perjalanan hidup aku seperti apa. Untuk tahu dengarkan saja albumnya. Ada yang menceritakan tentang rasa bahagia, ada juga cerita sedihnya.

Karena memang aku pernah merasakan up and down, dan aku selalu jujur dalam mengungkapkan semua perasaan aku ke dalam lagu. Aku masih ingin berkarya terus karena memang aku mencintai musik, musik itu hidup aku dan bahasa aku./ YDhew

Share this article

Related items

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found