http://www.newsmusik.co/exclusive/exclusive-interview/item/1096-coki-bollemeyer Foto-foto Yose

Coki Bollemeyer

Gue Jatuh Cinta Karena Kebebasannya

Setelah tancap gas memainkan rock bersama NTRL, ber-death metal ria di Deadsquad dan ugal-ugalan ala punk dengan Black Teeth, kini sudah tepat waktunya untuk mengurangi “kecepatan”. Tampaknya hal tersebut yang menjadi keputusan seorang Christopher Bollemeyer alias Coki untuk kemudian bermain kalem membawakan jazz dengan proyek solonya : Sunyotok.

“Gue lebih suka menyebutnya fusion. Nanti gue sebut jazz orang teriak-teriak (protes),” kata Coki tentang alasan mengapa dia lebih suka menyebut Sunyotok membawakan fusion dalam kegiatan bermusiknya.

Sunyotok adalah keinginan terpendam Coki yang diidam-idamkan sejak tahun 1997. Baru pada tahun 2014 atau sekitar 17 tahun kemudian dia bertemu dengan orang-orang yang sesuai untuk mewujudkannya. Ditambah lagi mendapatkan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

Di Sunyotok, Coki dibantu oleh Jerremia L Gaol alias Jerry  sebagai bassist dan penabuh drum Mario Obedh L Gaol alias MarioAria Prayogi dan Harmoko Aguswan (Moko) bertindak sebagai Sound Designer. Untuk album direkam di Studio Shoemaker milik Pratjna Murdaya. “(Sunyotok) dibilang proyek solo bisa dibilang proyek bareng-bareng juga bisa. Projek ini dibuat bareng-bareng,” terang Coki mengenai status Sunyotok

02 Coki Bollemeyer YoseFoto-foto Yose

 

Berikut ini perbincangan singkat Newsmusik dengan Coki ketika ditemui di acara rilis album Sunyotok di Studio Shoemaker di bilangan Cikini pada Jumat (22/07) silam :

Saya dapat informasi bahwa sebenarnya keinginan untuk memainkan jazz dari tahun 1997, benarkah?
Bener sih. Maksudnya tahun 97 gue sekolah musik (di Amerika), ya umumlah ya, baru balik sekolah pengen bikin gini gitu. Cuma karena satu dan lain hal tapi nggak kesampean mulu mulai dari ide, waktu, uang dan butuh produksi, itu nggak kesampean. Panjang lama pengen enggak pengen enggak, terus akhirnya rejekinya tahun ini, emang sih kalo menurut gue bikinnya. Gue mulai aktif lagi dari 2014 terus semua orang di sekitar gue, mulai dari Moedya (dari Gitar Plus), David Karto (Demajors), terus ketemu Moko, ketemu Prajna, semua support. Akhirnya gue berani bikin. Maksudnya ngeluangin waktu untuk bikin (album ini).

Tapi kalau dilihat di tahun 1998 sampai 2000 sepertinya ada kesempatan untuk membuat album jazz. Waktu itu pernah gabung dengan Idang Rasjidi kan ya?
Waktu itu gue pemula banget, masuk ke dunia yang benar-benar baru. Di sana (di Amerika) sih belajar, cuma nggak langsung nyemplung. Sama Idang diajak terus, selama dua tahun bareng dia nge-jam terus hampir setiap hari.

Gue sempat tinggal di rumah Idang hampir tiap hari. Main musik, ngebahas musik, ini jazz, tentang ini apa, segala macam. Dia juga ngenalin gue ke banyak musisi jazz lokal, Ireng Maulana ketemu di rumahnya ngobrol, Oele Pattiselano, Jeffrey Tahalele, banyak deh musisi-musisi jazz angkatan Idang. Indra lesmana juga waktu itu.

Dua tahun itu selama kosong itu gue pake buat belajar dari orang-orang ini. Gue sampe sekarang sih ngerasanya masih pemula, nggak ngerasa bikin album ini wuah... berarti lo udah gini (hebat), enggak. Gue emang ini awalnya. Berarti ini langkah pertama buat gue buat berikutnya. jadi  dari tahun 1998 sampe 2000 gue anggap masa pembelajaran.

Apa sih yang bikin jatuh cinta sama jazz? Karena tampaknya, boleh dibilang, terobsesi banget sampai harus buat album jazz.
Banget. Kebebasan sih (yang bikin gue jatuh cinta). Kalo kata Miles Davis bilang, “Dont call it jazz,”  dia bilang kalo nggak salah gue nonton di filmnya (Miles Ahead) kemaren, dia bilang, “Call it social music.” Memang harus lo kulik harus latian. cuma nikmat sih. Buat gue pribadi musik improvisasi gue ngerasain enaknya, egoisnya, jelek-jeleknya. Kalo dapat mood jelek, main jelek. Kalo mood bagus, maen bagus, notnya bagus.

Maksudnya selain bebas, jujur sih. Maksud gue, elu kalo lagi jelek, jelek aja mainnya, nggak bisa diapa-apain. Orang nonton, “Ih fals maennya.” Kalo lagi bagus, “wuah enak.” Nggak harus selalu jelimet tapi feelnya kan orang bisa ngerasain.

Tadi pas tampil ada suara sitar juga suara terompet atau saxophone. Ke depannya ada rencana nggak suara-suara itu tidak hanya dihadirkan dalam bentuk sampling?
Kalo rejeki sih anak-anak udah pada ngobrolin. Itu tadi, urusannya sama duit-duit lagi. Kalo mungkin ada kesempatan dan ada budget, terutama, dan ada waktu, wuah gila kepengen banget sih  sejujurnya. Cuma dengan keterbatasan yang ada, gue sama anak-anak coba maksimalin deh.

Maksudnya memang cuma berempat, tapi fun banget, itu dulu deh. Kalo emang nantinya arahnya ke arah sana mungkin gitu (bisa terealisasikan), oh bahagia banget pasti anak-anak.

03 Sunyotok YoseFoto-foto Yose

Untuk kostum apakah khusus memang setiap manggung akan selalu mengenakan batik dan peci? Atau tidak menutup kemungkinan baju daerah lain?
(Pengen) banget (pake baju daerah lain), untuk sementara batik peci dulu. Mungkin kalo kesampean tur keliling indonesia mungkin kepengennya pake baju daerah itu kalo misalnya memang kejadian.

Tadi ada lagunya yang “nakal”, sulit tidak untuk membuatnya? Karena kalau lagu dengan lirik kan bisa diwakilkan lewat lirik. Ini kan dalam bentuk lagu instrumental.
Gue karena memang spontanitas, emang fun, alurnya kesini. Emang dari awal gue justru bikin judul dulu. Terus baru gue bikin gambaran secara musiknya. Ada perpindahan beat, memang nakal gitu loh. enak beatnya.

Pemakaian nama Sunyotok mengambil dari nama seorang legenda ventriloquist Indonesia, Gatot Sunyoto. Apa alasannya? Apa karena punya kenangan tertentu ketika kecil sehingga begitu membekas di ingatan?
Sejujurnya gue ketemu (nama itu) di internet agak bebeerapa taun lalu. Emang gue seneng Sunyoto, atau Sutejo atau Kartolo tadinya gitu kan. Cuma gue juga nyari ada yang signifikan dengan nama ini. Terus gue nanya ke beberapa orang. Kalo di Zen artinya nyata, bagus. Terus kalo di Indonesia ketemu legenda kita Gatot Sunyoto. Terus oke gue tambahin deh k-nya biar aksen. Simpel gitu aja sih gak ada alasan tertentu.

Untuk skala prioritas, bagaimana Coki memprioritaskan Sunyotok? Karena ada beberapa kasus anggota dari band tertentu kemudian membuat proyek yang ternyata lebih besar dan kemudian meninggalkan band sebelumnya.
Gue nge-flow sesuai motonya Sunyotok, fun aja, nge-flow. Maksudnya jamming dan fun sama teman-teman. Kalo prioritas ya we’ll see aja, maksudnya gue belum tau, maksudnya ini masih baru buat gue juga pengalaman baru. Belom bisa bilang sejauh mana. Emang gue ngarep itu sih perjalanannya yang gue pengen nikmatin.

Proses produksi album Sunyotok berapa lama? Apa yang menginspirasi untuk membuat album tersebut? Lalu apa konsepnya?
Awal inspirasi kebetulan temen-teman punya satu visi, seneng musik yang soulful, bentuknya yang benar-benar datang dari hati. Kebetulan seneng gue cinta banget ama jazz. Itu yang jadi inspirasi. Kebetulan kita bareng senangnya sama. Tadinya gue, Jerry sama Mario ngejam untuk samain persepsi dan itu kawin. Dari situ mulai ketemu Ogi.

Proses pengerjaannya satu tahun pertama ketemunya dua kali setaun. Tahun kedua agak intens karena emang udah serius bikin projek ini. Akhirnya ketemu Moko terus dikenalin sama Shoemaker Studio. Bikin produksi di sini dua hari. Gue bikinnya pengen sesantai mungkin nggak kayak dikejar setan.

Album ini isinya delapan lagu, konsepnya adalah awalnya ngejam aja terus akhirnya kita memilih ke arah fusion. Kalo ngomong genre kita pengen bersenang-senang di musik. Gue suka berbudaya bermusik lain-lain disiplin, menurut gue itu menarik buat dipelajari. Gue senang mempelajari musik lain di luar kebiasaan gue. Idealis nggak idealis, buat gue nggak penting, yang penting gue senang ngejalaninya. /yoseR

Share this article

Related items

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found