http://www.newsmusik.co/exclusive/exclusive-interview/item/1105-tulus Foto-foto Yose

Tulus

Cara Tulus Berterima Kasih

Lega. Satu kata tersebut tampaknya sudah cukup mewakili perasaan Tulus atas diluncurkan album ketiganya, Monokrom. Perkenalan album tersebut di awali dengan diluncurkan lagu ‘Pamit’ dan dilanjutkan ‘Ruang Rindu’ lengkap dengan video musiknya.  Album yang menurut Riri Muktamar, abang sekaligus produser eksekutif, melibatkan tidak kurang dari 100 orang dalam proses kolektifnya.

Di album ketiga ini Tulus masih bekerjasama dengan Ari Renaldi. Kali ini mereka menemukan metode baru dalam proses kreatif. Karena sudah saling mengenal lama semakin besar keinginan untuk bereksperimen. Mereka keluar dari pakem lama agar tidak hanya berjalan di tempat saja dan mencari hal baru.

Dalam album bermuatan 10 lagu ini, lima di antaranya dihiasi oleh orkestra dari The City of Prague Philharmonic Orchestra. Sebuah ide yang awalnya menurut Riri adalah sebuah celetukan. Namun kemudian dengan tekad besar celetukan tersebut diwujudkan. Dimana Riri meyakini produk akhir yang kemudian sampai ke publik memiliki tingkat originalitas ide sangat tinggi.

Tulus sendiri menyebutkan bahwa album ketiga ini merupakan caranya untuk mengucapkan terima kasih kepada semua orang yang telah mendukung, baik secara langsung maupun tidak langsung.  “Album ini adalah cara saya untuk mengucapkan terima kasih. Jadi ini adalah ucapan terima kasih termerdu coba saya lakukan untuk semua orang-orang yang sudah berjasa baik dalam perjalanan tidak hanya sekedar karya musik saya, tapi dalam perjalanan hidup saya. Memahat saya menjadi seperti sekarang dan mudah-mudahan lewat album ini orang-orang yang ada di sekitar saya, ada dalam kehidupan saya, bisa merasakan rasa terima kasih yang saya sampaikan,” terang Tulus.

Kenapa album ketiga ini diberi judul Monokrom ?
Di album saya dulu yang album pertama judulnya Tulus itu spiritnya adalah saya ingin meperkenalkan diri saya sebagai orang yang merasa memililiki  talenta dalam menulis lagu dan menyanyi lewat karya musik. Kemudian album kedua judulnya Gajah dimana merupakan salah satu judul dari lagu yang ada di albumnya. Garis besarnya adalah bagaimana berkompromi dengan masa lalu dan tidak terjebak di situ. Sementara yg terakhir ini judulnya Monokrom.

Monokrom juga merupakan salah satu judul lagu di album tersebut. Dimana lagu itu bercerita tentang ucapan terima kasih. Jadi sprit besar di album ketiga saya adalah ucapan terima kasih. Jadi ini adalah cara saya mengucapkan terima kasih. Banyak sekali pihak yang punya andil memahat saya dan membentuk saya. Sehingga saya bisa menjalankan hidup seperti saya yang sekarang.

02 Tulus Yose

Kalau dilihat di akun Instagram, Tulus suka memajang foto-foto berwana monokrom. Apakah itu ada hubungannya dengan album ini?
Enggak sih. Kalau buat saya pribadi saya memang suka foto yg monokrom. Sebenarnya pengertian monokrom sendiri gak terbatas hitam putih. Tapi memang buat saya foto yang warnanya lebih sedikit itu lebih romantis karena apa dengan melihat foto hitam puith itu ada otak yang bekerja mengembalikan memori kita untuk mengingat warna sesungguhnya dan buat saya itu lebih menyenangkan.  Saya memang suka foto-foto seperti itu. Mungkin secara tidak sadar terpengaruhi juga tapi bukan itu pesan awalnya.

Untuk proses kreatifnya, apakah Tulus mengerjakan pembuatan lirik dan lagunya?
Lirik dan melodi hampir 85 atau 90 persen saya kerjakan sendiri. Cuma yang berbeda ada eksplorasi yang terbilang luar biasa dalam kerja sama kami, maskudnya saya dan Ari Renaldi. Kita berdua di album ini mencoba metode penulisan lagu yang baru. Sebelumnya dulu saya datang dengan melodi yang sudah terbilang setengah matang kemudian diterjemahkan menjadi progresi kord.

Cuma di album ketiga ini kita coba dua lagu, sebenarnya kebih banyak cuma yang sudah direkam dua, kita coba dua lagu benar-benar  menulis bersama dari nol. Jadi datang tanpa ide, bertemu mencari ide bareng-bareng, lahir lagunya dan lalu kemudian aransemen.

Jadi lebih banyak interaksi berdua ya dalam proses pengerjaannya?
Kita berusaha untuk berkembang dengan melakukan eksplorasi. Jadi hal-hal yang belum pernah kita lakukan di karya-karya sebelumnya kita coba lakukan, salah satunya menulis lagu benar-benar dari nol. Terus menggunakan alat musik yang bahkan kita gak kepikiran untuk dimasukkan.

Rekaman di Eropa kemudian membuat video musiknya juga di sana. Apakah itu memang sudah direncanakan dari lama?
Enggak, kalo ide, baik itu musiknya sendiri atau karya-karya turunannya yang berkaitan dengan visual musik dan lain sebagainya, idenya benar-benar mengalir aja sih. Contohnya dengarin lagu kemudian berkolaborasi dengan banyak sekali pihak yang Alhamdulilah sangat luar biasa sekali. Banyak banget orang yang enak diajak ngobrol sehingga menggelitik sisi kreatifitas saya dan biasanya celetukan-celetukan itu biasanya bisa diwujudkan menjadi karya.

Beberapa ada yang sekedear mimpi sebenarnya tapi ya lagi-lagi karena ini kerja tim, yang tadinya cuma mimpi... Saya ingat Bang Ari pernah cerita gimana secara kumulatif kalo misal rekaman di luar itu lebih efektik dan sebagainya, saya nyeletuk aja, “Kita harus bikin sesuatu yang lebih gimana gitu,” yang gak bisa dibahasakan. “Yuk gimana kita coba rekaman di eropa.” Setelah itu kadang-kadang yang terkesannya kayak mimpi itu kadang saya lupa. Tapi Bang Riri bekerja terus tiba-tiba bulan depan kita berangkat ya kita rekaman di Praha.

Berapa lama sih jangka waktu pembuatan album ketiga ini?
Perhitungan kotornya sih satu sampai satu setengah taun. Yangg paling makan waktu lama itu yang pasti proses kreatif.  Karena di sini dengan segala ketidaktahuan saya, pengetahuan saya yang cukup terbatas secara teoritikal di musik, Bang Ari masih mempercayakan saya sebagai co-produser sehingga saya masih bisa bersuara.

Baiknya saya lebih puas dengan hasil akhir. Cuma mungkin sisi yang harus sedikit lebih berkompromi adalah kita sering kadang-kadang ada beda imajinasi, ada beda ide. Nah mencari itu adalah bagian proses kreatifnya itu yang paling lama memakan waktu sebenarnya. Sementara eksekusi di studio terbilang sebentar karena kita bekerjasama dengan banyak sekali orang profesional di Bandung.

03 Tulus YoseFoto-foto Yose

Bisa diceritakan bagaimana berjalannya proses rekamannya?
Saya tidak begitu suka dengan tehnik rekaman tambal sulam karena kadang-kadang saya merasa pesannya tidak tersampaikan dengan teknik rekaman seperti itu. Rasa-rasanya sih hampir seluruh lagu itu direkam dengan cara saya menyanyi dari awal sampai akhir. Dan yang paling ekstrim adalah di lagu ‘Langit Abu-Abu’.Iitu lagu direkam dua kali take vokal dan diambil adalah yang pertama. Karena seringkali kita bikin lagu di studio bikin demo dulu nyari ide diutak atik, kemudian nyebutnya direkam lebih serius, tapi seringnya malah demo yang dipakai.

Dari seluruh lagu, mana yang paling berkesan dalam proses rekamannya?
Saat merekamnya pada dasarnya saya suka semua, cuma beberapa yang paling saya ingat salah satunya lagu ‘Monokrom’. Karena saat saya merekam, Bang Ari sendiri saksinya, saya benar-benar mencoba korek lagi memori lama yang sudah saya lalui. Menurut saya itu adalah proses rekaman yang sangat emosional sekali dalam artian positif.

Lagu yang paling paling sulit adalah ‘Pamit’ yang dibuka awalnya dengan piano dan string. Itu awalna idenya banyak dari Bang Ari. Kita udah cobain berbagai macam formula akhirnya diputuskan piano dan string saja. Itu mungkin prosesnya lima bulan lebih nyari ide itu.

Bagaimana Tulus menemukan ide atau mengolah kata untuk menulis lirik?
Saya menulis lirik dari cerita pendek, baik tertulis maupun imajinasi saya. Lalu lirik itu saya saring lagi untuk menjadi lebih ada strukturnya. Dari ide cerita yang tersaring itu saya gubah sedemikian rupa jadi lagu. Biasanya seperti itu tapi tidak melulu seperti itu. Seperti yang proses kreatif yang saya lewatkan dengan Bang Ari di album ketiga. Ada juga yang main chordnya, musiknya dimainkan dulu kemudian musik itu yang menstimulasi saya untuk mengeluarkan lirik dan nada secara bersamaan.

jadi tidak ada satu pakem yang hanya melulu yang itu saya lakukan tapi lebih luwes. Dominannya memang lirik dulu yang dikerjakan, tapi di sisi lain masih banyak cara lain yang akan saya coba juga.

Apa alasan untuk memilih dan merekam string section di Praha?
Ada beberapa pilihan untuk bisa bekerjasama dengan banyak studio di berbagai negara. Kenapa Praha karena itu relasinya sudah terbentuk di lingkungan kita. Sehingga akses kesana lebih mudah dan diharapkan komunikasi saat proses rekaman juga lebih mudah.

Yang menarik juga, waktu proses rekaman disana kan memang partitur untuk panduan pemain session profesional di sana udah dikirim lebih dahulu. Cuma mereka kan gak tau liriknya, mereka juga tidak banyak memahami Bahasa Indonesia. Kalau buat saya pribadi salah satu yang paling adalah menarik mereka banyak bertanya lagu ini tentang apa dan kita menjelaskan dan mereka memberikan kebisaan mereka untuk lagu indonesia.

Klip ‘Pamit’ kenapa dibuat di luar negeri?
Sebenarnya saya gak ingin kata luar negeri terlalu diiniin ya, buat saya gak ada yang lebih istimewa sih dibanding di Indonesia. Contohnya ya klip yang saya kerjakan terakhir dengan Davy Linggar, itu klip yang memang kita kerjakan di Ceko, sembari rekaman bikin karya yang lain. Waktu itu memang idenya kebayangnya suasannaya dingin sekali terus benar-benar hening sekali. Hal yang sama juga pernah terjadi waktu pembuatan klip ‘Sepatu’ ketika sedang menjalani konser di Hamburg, Jerman, Bukan berarti kita kesana karena itu luar negeri lebih baik daripada di Indonesia, sama sekali tidak.

04 Tulus YoseFoto-foto Yose

Bagaimana ide awal lagu ‘Pamit’?
Lagu ‘Pamit’ itu sebenarnya lagu itu awalnya benar-benar hanya suatu hari saya menulis tubuh saling bersandar ke arah mata angin berbeda saat kau menati fajar aku menunggu datangnya malam. Saya nulis begitu dan itu lama begitu aja. Saat saya buka lagi satu kalimat itu jadi bisa tumpah lagi yang lain ke bawah sehingga bisa dijelaskan bagaimana kalimat itu bisa keluar.

Kalau ditanya insiprirasi saya udah lupa. Biasanya coba menceritakan momen berpisah itu seperti apa tapi berpisah yang kadang-kadang tidak saling mengalahkan tapi punya sisi menang masing-masing.

Untuk ke depannya apakah akan terus fokus di musik, baik sebagai penyanyi atau pun penulis lagu, atau akan merambah ke bidang lainnya?
Beberapa tahun ini saya sangat fokus di musik karena Alhamdulillah jalannya bisa dicari dan saya masih terus bersemangat bekerja di bidang ini. Ke depannya untuk rencana merambah ke bidang lainnya saya berharap mudah-mudahan bisa mendapatkan kesempatan yang behubungan dengan latar belakang studi saya di arsitektur.

Kalau masalah akankah  jadi musikus yang berprofesi di sini saya gak bisa jawab karna saya gak tahu ke depannya seperti apa. Harapannya sih iya, karena ini tim dan kita hidup bersama-sama dari sini. Tapi apakah akan selalu menulis lagu, saya pastikan saya akan selalu menulis lagu, baik untuk profesional atau koleksi sendiri. Tapi saya bisa pastikan saya akan selalu mencintai musik dan saya akan selalu berkarir di musik.

Ketika menggarapa album ketiga apakah ada pembicaaraan ditargetkan untuk memperluas segeman Teman Tulus?
Kalau segmen gak pernah, kayaknya nulis-nulis aja (apa yang kepikiran). Kalau masukan dari abang sih ada. Cuma saya dan semua tim yagn terlibat dalam proses kreatif maupun rekaman serta karya-karya turunan lainnya, kita gak pernah menjadikan segmentasi itu sebagai dasar awalan kita berkarya. Jadi benar-benar nulis lagu aja, berkarya aja, bikin lagu aja, kalau pun nanti ada pengaruh ke segmentasi pasar, itu benar-benar di luar kuasa dan rencana kita.

Bagaimana cara Tulus membagi waktu di sela kesibukan untuk mengerjakan album ketiga? Lagu bagaimana pula mengatasi writer’s block ketika menulis lirik?
Salah satu kendala pengerjaan album ketiga sama dengan album kedua, jadi dikerjakan sembari ada tanggung jawab kegiatan-kegiatan yang lain. Cara pengerjaannya setiap ada jeda, bukan mengerjakan di sisa waktu tapi menyediakan waktu. Jadi misalnya ada dalam satu bulan misalnya dalam selama seminggu saya ke studionya bang Ari terus kita kerjaan bareng-bareng.

Terus dengan teknologi jadi memungkinkan kita melakukan sembil berjalan di luar kota kalau ada kesempatan, ini diluar yg pertama menyediakan waktu ya. Sebisa mungkin kita kerjakan. Dengan bantuan teknologi jadi memungkinkan untuk bisa mengerjakan di berbagai tempat untuk melengkapi. Tapi utamanya saya menyediakan waktu, kita berdua menyediakan waktu dan energi untuk ketemu di studio dan mengerjakannya.

Bagaimana pendapat Tulus atas peran Riri sebagai saudara kandung yang juga terlibat dalam karir bermusik?
Bagi saya kakak seperti bapak. Rentang umur saya dan bapak saya kan jauh, Sehingga untuk menyamakan cara berpikir hal hal yang kontemporer itu agak  sulit. Abang itu adalah wujud papa yang lebih muda kalo menurut saya. Jadi dulu saya ingat sekali waktu suka menawarkan karya (Tulus tercekat dan tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Kemudian “bendungannya” jebol dan air mata pun tumpah).

Bagi saya, saya bersukur sekali punya kakak seperti kakak saya dan punya keluarga tempat saya dibesarkan. Saya bersyukur bertemu dengan orang-orang luar biasa yang ada di sekitar saya hari ini. /yoseR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found