http://www.newsmusik.co/exclusive/exclusive-interview/item/1120-barry-likumahuwa Foto-foto Yose

Barry Likumahuwa

Musik Kita Sudah Merdeka, Tapi...

Menanamkan rasa cinta terhadap bangsa dan negara bisa lewat berbagai cara. Salah satunya adalah lewat musik. Hal inilah yang disadari sepenuhnya oleh Barry Likumahuwa. Tak cukup hanya lewat nada, Barry pun kerap berorasi tentang pentingnya rasa nasionalisme dan persatuan di setiap panggung ketika pentas.

Keberagaman budaya yang dimiliki Indonesia secara perlahan dia masukkan dalam karya-karyanya. Contohnya adalah dengan memasukkan unsur Papua serta Maluku di beberapa album milik teman sesama musisi yang diproduserinya.

Baru-baru ini Barry terlibat sebagai salah juri dalam Nescafe Music Nation 2016. Sebuah ajang pencarian bakat berbasis digital, dimana pesertanya ditantang untuk menunjukkan semangat nasionalismenya dengan mengaransemen ulang lagu nasional dan lagu daerah. Sebuah kesempatan yang menurutnya luar biasa.

Sejak kapan sebenarnya munculnya kesadaran akan rasa nasiolisme lalu menuangkannya ke dalam lagu?
Gue inget banget momennya di tahun 2009, waktu ada insiden kalo gak salah bom lagi, waktu itu kita menginisiasi adanya Indonesia Unite segala macam. Dari sebelumnya udah terbakar, dari sebelumnya agak cenderung apatis, cuma pas momen itu bener-bener terbakar. Kayaknya udah waktunya sih kita gak cuma bicara karya itu gak cuma bicara cinta, gak bicara hal-hal yang terlalu simpel, tapi kita bicara hal global, terutama lebih nasionalme. Juga maksudnya apa sih yang bisa kita share buat bangsa ini, apa sih bisa kita share buat anak muda, makanya terciptalah lagu macam ‘Unity’, ‘Generasi Synergy’.

Semua berawal 2009 dan buat gue sampai sekarang masih tetap gue menyuarakan hal yang sama,  bahwa kita bicara toleransi, kebanggaan akan bangsa, kebanggaan budaya. Makanya di musik gue berusaha menyisipkan rasa-rasa indonesianya. Supaya kita gak lupa sama akarnya kita gitu karena itu yang paling penting.

Buat gue pengalaman ke Amerika tahun 2014 disitu, gue benar-benar kepukul juga. Maksudnya teman-teman dari sana mereka datang dari Zimbabwe datang dari mana, meereka bawa banget warnanya mereka. Sementara gue cenderung bawanya warna jazznya doang. Walau pun gue udah tergila-gila sama nasionalisme cuma gue harus mengakulturasi lagi nuansa indonesia di musik gue.

Berkaitan dengan identitas musik negara tertentu, Korea punya K-pop, Jepang dengan J-Pop, lagu bagaimana dengan Indonesia? Seperti apakah I-pop? Apakah cukup dengan memasukkan unsur musik tradisional?
Buat gue gak semudah itu buat kita, jujur. Kenapa? karena budaya kita terlalu banyak. Itu yang gue alami kemaren pas gw di Amerika. Teman-teman dari Kolumbia musiknya begitu semua, teman-teman dari Brazil begitu musiknya. Sementara di indonesia ini, kita gak usah bicara jauh dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, kita bicara Jawa aja. Jawa Tengah, Jawa Barat, itu musiknya udah beda dan itu yang paling susah.

Buat gue sih itu bukan proses yang bisa dilakuin setahun dua tahun ya. Mungkin itu memang butuh waktu, butuh workshop, butuh pemikiran, itu mungkin butuh lebih dari lima tahun. Buat gue sih selama kita berusaha terus dan kita tetap berusaha memasukkan unsur-unsur itu, mungkin gak perlu satu penyeragaman tapi minimal keseragaman di idenya. Bahwa ada sesuatu yang harus kita sisipkan dari nuansa daerah yang ada di setiap lagu yang kita ciptakan, di setiap karya yang kita ciptakan.

Buat gue prosesnya mungkin tidak bisa dalam waktu singkat, tapi minimal kita berpikir. Kalo buat gue sih simple. Kalo misal gue bikin musik ngegabungin beat timur, nuansa melodi jawa sama nuansa vibe indonesia barat itu bisa jadi suatu awal menggabungkan ketiga titik ini.

02 Barry Likumahuwa YoseFoto-foto Yose

Buat gue terlalu musik jazz juga susah untuk bergerak kemana-mana. Karena saya dari dulu musik saya pengaruh jazznya mungkin kuat, tapi saya tetap menggabungkan dengan unsur-unsur musik lain. Karena kalo saya pure jazz aja mungkin Indonesia sulit diterima. Tapi gimana caranya pelan-pelan kita gabungin segala macam unsur musik dan yang lebih penting lagi gimana caranya mengakulturasi musik-musik indonesia ke dalam musik saya, itu yang saya lagi coba. dari semua karya yang saya bikin sama teman-teman, kita coba sisipin pelan-pelan. Nuansa-nuansa kedaerahannya tetap ada walau pun gak terlalu jelas terang-terangan tapi kita memang jadikan terintegrasi dengan lagunya.

Menurut pandangan Barry, semerdeka apa musik indonesia sekarang?
Kalo kita bicara merdeka, merdeka. Cuma problemnya apa yang ada di media sekarang buat saya pribadi, menurut pendapat saya, paling hanya sekian persen dari keseluruhan musik indonesia yang terjadi di dunia musik indonesia. Karena fokus kita memang kita berbicara industri tentunya masih ada kebutuhan ini dan itu, kebutuhan label, kebutuhan lain-lain, yang membuat kesannya masih disitu-situ aja.

Tapi kalo kita ngeliat di luar yang tersorot, itu berkembangnya udah pesat banget. Kita udah punya semua jenis musik serta semua komunitas musik. Bicara jazz, reggae, hip hop, rnb, apa pun, kita punya dan semuanya berhasil menjalankan apa yang mereka punya walau pun secara underground.

Buat saya sih merdeka, merdeka banget. Balik lagi ke tadi kita butuh atensinya, kita butuh wadahnya,  publikasinya, eksposenya, supaya mereka mendapat giliran dan kesempatan di industri musik Indonesia.

Apa kesulitan dalam menciptakan lagu yang berbicara tentang rasa cinta terhadap negara dibandingkan dengan lagu cinta biasa?
Kesulitannya menempatkan diri sebagai pendengar sebetulnya. Kalo kita bicara lagu cinta kan, lo ngomong patah hati semua orang bisa langsung related ke situ. Tapi kalo kita bicara cinta bangsa kan tidak semua orang bisa langsung related ke situ. Perspektifnya belum tentu sama. Jadi yang paling susah menempatkan diri sebagai pendengarnya itu, dalam artian apa yang kita alami bisa related gak dengan apa yang mereka alami juga.

Buat gue sih lagu-lagu, kayak dulu gue bikin ‘Generasi Synergy’ itu gue lumayan berhasil menempatkan diri di perspektifnya mereka. Yang susah disitunya sih mencari perespektif apa yang related dengan masa sekarang, apa yang kita butuhkan,di Indonesia apa sih yang lagi kurang.

Kalo waktu gue bikin ‘Generasi Synergy’ gue ngeliat semangat anak-anak mudanya yang kurang, semangat berkaryanya dan mentalnya mental kalah duluan. Akhirnya gue bikin lagu itu. Terus waktu bikin ‘Unity’, persatuannya yang kurang. Sekarang berusaha mencari tema apalagi yang perlu kita bahas. Apalagi yang bisa membuat jiwa nasionalisme kebakar lagi.

Setelah ‘Kebyar Kebyar’ milik Gombloh, masih banyak musisi lain yang membuat lagu tentang nasionalisme atau cinta terhadap negara dan bangsa. Tapi kebanyakan tidak sekuat lagu ciptaan Gombloh. Bahkan temanya masih relevan sampai sekarang. Kenapa begitu ya?
Menurut gue mungkin simplicitas-nya. Zaman itu mereka bikin lagu memang gak ada, belum ada kontaminasi ini itu. Kalo jujur dengan musik gue sekarang, jujur gue banyak terkontaminasi dengan banyak musik ya. Jadi otomatis musiknya gak semudah yang orang dulu bikin. Sementara ‘Kebyar Kebyar’ itu bisa membangkitkan. karyanya memang sifatnya nasionalisme.

Buat gue itu sih, simplicitas nadanya, orang mudah menyanyikan dan mempelajari, gak membutuhkan pengetahuan musik yang gimana gimana banget bisa langusng dinyanyiin. Mungkin buat gue itu salah satunya sih. Tapi kalo kita bicara esensinya memang secara lirik juga udah nguatin temanya.

Sebenarnya kalo kita sekarang kalo kita mau bikin lirik yang temanya kurang lebih mirip udah ada lagu itu. Jadi kalo kita kayak mau ngekor doang juga gak asik. Jadi buat gue disitu kali, karena dia salah satu yang pertama dimasanya, serta simplicitas melodinya, liriknya, kejujuran liriknya apa adanya itu yang bikin jadi abadi.

Kalo menurut Barry, lagu era sekarang yang berbicara tentang rasa bangga terhadap negara dan nasionalisme yang bagus lagu disuka apa?
Gue suka banget ‘Dari Mata Sang Garuda’ punya Pee Wee Gaskins itu gue suka banget. Cuma mungkin buat beberapa orang masih terlalu keras kali ya buat didengar. Buat kuping Indonesia masih terlalu hard. Buat gue salah satu yang punya potensi kuat dia lagunya. Karena memang ‘Dari Mata Sang Garuda’ itu yang salah satu lagu yang prosesnya bareng waktu kita ngerjain.

Jadi waktu gue ngerjain ‘Generasi Synergy’, Pee Wee Gaskins ngerjain ‘Dari Mata Sang Garuda’. Karena waktu itu kita barengan diminta sama Imam Darto dari Prambors Radio kan. Dia minta dari masing-masing genre bikin sesuatu berhubugan dengan indonesia. Waktu gue denger lagu itu, buat gue lagu yang ngebakar semangat banget.

Sempet ada juga Twentyfirst Night (judul lagu ‘Selamanya Indonesia’). Buat gue juga keren banget. Cuma memang gak semua orang bisa nerima musiknya, Itu sih problemnya menurut gue disitu, gak semua langsung bisa nerima musiknya. Memang belum se-powerful Gombloh, karena memang dia apa adanya banget, roots banget dan benar benar menyentuh banget.

Tidak tertarik untuk buat lagu berbahasa daerah?
Sejujurnya gue pengen banget cuma memang gak gampang ya untuk itu karena buat gue pribadi bukan pengguna bahasa daerah yang baik. Cuma ada di Indonesia ini ada salah satu yang bikin, namanya Zarro. Dia bikin lagu bossanova samba tapi bahasanya bahasa Palu. Itu satu album. Jadi orang ngiranya itu lagu Brazil, lagu Portugis, padahal bahasanya bahasa Palu.

Mungkin gue buat ke depannya pengen sih mungkin start-nya dari daerah gue dulu, Maluku, mungkin gue bisa bikin sebuah lagu yang sifatnya menggunakan bahasa daerah tapi daerah yang gue kenal dulu. Jangan sampai ngelanggar. Udah pake bahasa daerah orang salah lagi. /yoseR

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found