Jakarta Rockulture Jakarta Rockulture (foto: Klandesti N)

Jakarta Rockulture

Bangkitkan Ruh Metal 80 – 90an

Seorang anak perempuan berusia di bawah sepuluh tahun tampak asyik menikmati apa yang ada di depannya. Annabelle, begitu orang tuanya memberi nama,  sesekali melompat kegirangan. Ekspresi gembira terlihat jelas di wajahnya. Senyum mengembang serta mata berbinar-binar. Masih ditambah dengan teriakan-teriakan riangnya.

Tak lama kemudian menyusul anak perempuan yang tampaknya berusia sepantaran bernama Zelda. Berbeda dengan Annabelle, dia terlihat lebih tenang. Begitu pula dengan yang belakangan menyusul. Tapi persamaannya adalah : sama-sama menikmati suguhan musik yang dibawakan band tengah beraksi di panggung.

Musik pop dengan irama dan lirik mengalun sendu. Tidak salah bila Anda mengira itu yang dinikmati mereka bertiga. Tapi kenyataannya, musik bertegangan tinggi menggedor gendang telinga yang mereka simak. Entah mereka paham atau tidak dengan musik dan liriknya. Termasuk juga dengaKeysha n simbol horn yang sesekali ditirukan oleh tangan-tangan mungil itu. Melihat keluguan dan kepolosan anak-anak kecil tersebut menghadirkan senyum simpul.

Annebelle, Zelda dan Keysha adalah tiga diantara belasan anak-anak belia yang hadir bersama orang tuanya di Jakarta Rockulture. Sebuah pentas musik keras yang diselenggarakan oleh Sacca Production dan Rockultura pada Sabtu (31/03) siang sampai tengah malam di Kuningan City Mall. Mengangkat tema The Headbanger Years sebagai klangenan era keemasan musik metal era 80 dan 90-an.

Masa dimana orang tua mereka masih remaja dan mungkin masih mencari jati diri. Dimana MTV adalah salah satu media untuk mencari informasi tentang musik, khususnya metal, terbaru. Itu juga masih harus melalui saluran yang hanya ditangkap lewat parabola. Sebuah acara bertajuk Headbangers Ball menjadi tontonan wajib.

“Kami pengin bareng-bareng merayakan bersama era dimana Metallica lagi keren banget. Era 1980-an akhir dan 1990-an awal paling berkesan bagi kita. Bernostalgia era itu (di acara ini),” terang Oddie Octaviadi, vokalis Getah sekaligus panitia Jakarta Rockulture, di jumpa pers dua minggu sebelum acara.

02 ArrowGuns Klandesti NArrowGuns (foto: Klandesti N)

Jadilah sekujur tempat perhelatan Jakarta Rockulture dipenuhi memorabilia masa keemasan tersebut. Mulai dari poster band, kaset, piringan hitam serta cakram padat, sampai dengan berbagai poster acara pentas musik luar negeri. Sayang sekali sebenarnya kenapa tidak menyertakan “produk” dalam negeri era tersebut. Kesadaran pengarsipan serta dokumentasi yang minim tampaknya menjadi kambing hitam.

Sebagai pengisi acara, Jakarta Rockulture mengedepankan band-band dalam negeri. Dimana para personilnya adalah mereka yang sebagian besar tumbuh di era 80 sampai 90-an. Musisi-musisi era tersebut jelas mempengaruhi aliran musik mereka. Iron Maiden, Black Sabbath, Metallica, Guns ‘N Roses, Megadeth, Motorhead, maupun Anthrax adalah untuk menyebut diantaranya.

Arrowguns hadir di Jakarta Rockulture sebagai titisan Guns ‘N Roses. Lengkap dengan vokalis yang tak kalah dengan Axl Rose dalam hal bertingkah menyebalkan dan bermulut besar. Tak perlu dibawa serius melihat ulahnya. Karena memang hanya aksi panggung belaka. Tertawalah dan nikmati serta ikut menyanyikan lagu-lagu Guns ‘N Roses yang disuguhkan.

Bila Oracle tampil sepenuh hati membawakan lagu-lagu milik Metallica, Seven Years Later menggeber dengan kecepatan tinggi “titah” Iron Maiden. Keduanya sama-sama berjaya dalam hal meningkatkan euforia di barisan penonton. Tak terelakkan koor massal dan juga tempik sorak membahana di setiap lagu yang dibawakan.

Penampil lainnya menyelipkan beberapa lagu milik Black Sabbath, Anthrax dan Motorhead di antara lagu-lagu orisinal milik mereka. Hal ini yang dilakukan Getah, Divine dan Seringai. Sementara Deadsquad, Cosmic Vortex, Noxa dan Koil cukup percaya diri membawakan lagu sendiri. Bukan pongah, hanya sebuah kepercayaan diri terhadap karya sendiri.

Suguhan aneka lagu bertegangan tinggi dari band-band era 80 dan 90-an menjadi menu utama DJ Demon Trooper. Tampil unik dengan mengenakan seragam lengkap tentara Stormtrooper dari film Star Wars. Helmnya dihiasi gambar dengan corak menyerupai riasan karakter The Demon yang identik dengan vokalis sekaligus pemetik bass Kiss, Gene Simmons.

“Kalian lihat ya om-om itu nanti joget-joget tingkahnya kayak orang gila,” pesan Arie Daging selaku pembawa acara kepada Annabelle, Keysha dan Zelda. Kenyataannya? Memang kemudian terjadi penonton saling membenturkan diri, melompat, berteriak, mengepalkan tangan ke udara, berselancar di atas kepala penonton lainnya. Tindakan yang dinilai gila bagi mereka yang patokannya adalah menikmati musik cukup dengan duduk diam.

03 Jakarta Rockulture Klandesti NJakarta Rockulture (foto: Klandesti N)

Dari ukuran kuantitas penonton memang tidak bisa memadati seantero ruangan. Diperkirakan sekitar 100 sampai 200-an penonton yang datang silih berganti. Tapi tak malu-malu untuk menggila di lantai dansa. Didominasi oleh mereka yang berusia 20-an tahun yang kerap disebut sebagai generasi millennials. Lalu dimana para Generasi X hari itu?

“Orang kalo umurnya udah 30-an tahun, itu biasanya posisi nonton konsernya semakin di belakang. Gimana mau moshing coba? Baru goyang bentar udah sakit pinggang,” ujar Soleh Solihun, rekan Arie sebagai pembawa acara. Sontak tawa pecah seolah mengamini pernyataan tersebut.

Lalu bagaimana pendapat Annabelle, Keysha dan Zelda melihat “kegilaan” om-omnya? Sepertinya mereka lebih memilih melewatkannya. Lihat saja di pojokan sana. Zelda dan Annabelle asyik memainkan gawainya. Keysha malah sibuk dengan mewarnai buku gambar dengan kelir. Lupa dengan segala hiruk pikuk di sekitar.

Tapi masih ada satu anak kecil yang sejak awal antusias menonton setiap band yang tampil. Ketika banyak anak seusianya sudah tidur di pelukan orang tua, dia betah melek. Semakin malam dia semakin merapat ke panggung. Duduk di tangga samping panggung atau di bangku ditemani ibu atau ayahnya. “Ada anak kecil namanya Sasha. Dia gak mau pulang sebelum nonton Seringai,” kata Arian 13 sambil menunjuk ke samping panggung. Penonton pun memberikan tepuk tangan meriah untuk semangat Sasha.

Senyum merekah menghiasi wajah yang digelayuti kantuk ketika Arian menghampirinya usai pentas. Tampaknya dia tidur nyenyak malam itu. Keinginan keras untuk menonton Seringai telah terwujud. Tidak menutup kemungkinan dia kelak akan menjadi seperti yang disampaikan oleh Arian. Sebagai generasi penerus yang melestarikan musik metal di tanah air. Tidak hanya sebagai pemusik, tapi juga sebagai penyelenggara acara maupun pendukung lainnya. /Klandesti_N

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found