Montecristo Montecristo (dM)

Montecristo

Menjaga Momentum

Menutup bulan Februari pekan silam, kelompok musik rock progresif Montecristo menggelar konser mereka lewat tajuk Once Upon A TimeA Concert by Montecristo di Exodus Lounge, Kuningan City Mall, Jakarta. Ini merupakan konser pertama sejak band asal Jakarta ini merilis album keduanya yang bertajuk “A Deep Sleep” pada 7 Desember 2016.

Bila kita merujuk kembali kebelakang, bisa jadi konser ini adalah untuk menjaga momentum disaat semangat masih tinggi. itulah mungkin yang tengah dirasakan oleh Eric Martoyo, Rustam Effendy, Fadhil Indra, Haposan Pangaribuan, Alvin Anggakusuma dan Keda Panjaitan.

Selama dua bulan ini, pihak band yang dibantu oleh tim produksi telah bekerja keras mempersiapkan konser ini. Tujuannya adalah untuk menjadikan pertunjukan ini tidak seperti pada umumnya. Ini adalah sebuah konser bernuansa teatrikal lewat bantuan multimedia dan narasi sebagai pengantar di tiap lagu.

Tak mudah memang menyajikan suguhan rock progresif ke telinga para pendengarnya. Bolehlah dikata, kalau musik ini perlu dinikmati sambil mikir, meresapi tiap lirik dan alunan musik yang disuguhkan. Karena itulah, musik yang sempat menjamur dan meraih masa keemasan dan menghasilkan band-band besar seperti Genesis, Yes, Pink Flyod, ataupun Dream Theatre ini sedikit demi sedikit semakin redup.

02 Montecristo dMMontecristo (dM)

Belum lagi jika kita lihat ditanah air, saat ini hanya segelintir band-band pengusung musik ini yang masih bertahan.  Tidak hilang memang, masih ada komunitas-komunitas yang menjaga agar mereka tetap hidup. Dan Montecristo masih cukup punya tenaga berlebih untuk menjaga semangat mereka.

“Kami tetap mempertahankan formula “rock yang berkisah”. Lewat lirik yang bertutur, kami menyampaikan cerita, menggarisbawahi pesan, dan mengajak pendengar berkontemplasi. Kami percaya musik adalah kendaraan yang tepat untuk itu,” kata Eric Martoyo, vokalis dan penulis lirik.

Dalam suasana konser malam itu, tampak hadir wajah-wajah familiar yang kerap berkiprah di jalur musik progresif. Mereka terlihat antusias menyaksikan seperti apa ke 6 punggawa Montecristo ini menaklukkan panggung.

Tak ingin juga tampil tanggung, sebelum mereka tampil, panggung di buka oleh group metal legendaris Grass Rock yang digawangi oleh Hans Sinjal (vokal), Edi Kemput (gitar), Denny Irenk (keyboardist), Rere Reza (drum) serta bassis baru Zondy Kaunang. Walau agak berbeda rasa, namun kehadiran Grass Rock cukuplah membakar semangat para yang hadir untuk sampai pada sang penampil utama.

03 Montecristo dMMontecristo (dM)

“Malam ini kami akan bercerita tentang dua titik terpenting dalam kehidupan manusia: kelahiran dan kematian, dan fase diantara dua titik itu yaitu sebuah proses yang tak pernah sederhana, namun sering diwakili hanya oleh satu kata: kehidupan!”, seru Eric.

Itu adalah sepenggal kalimat pembuka yang menunjukkan kembalinya mereka menguasai panggung. Lalu terlantunkanlah lagu pembuka ‘Celebration Of Birth’ yang bertutur tentang perayaan kelahiran, sekaligus peringatan tentang dunia nyata yang jauh dari ideal.

Tak menunggu lama, beberapa lagu berikutnyapun digelontorkan seperti ‘Rendezvous’, ‘Crash’, ‘A Blessing Or A Curse?’ ataupun ‘A Romance Of Serendipity’. Sekitar 9 lagu yang dikombinasikan dari 2 album yang telah mereka terbitkan.

Di penghujung konser Montecristo mengajak penonton berkontemplasi tentang kematian lewat tembang ‘A Deep Sleep’. Konser malam itu ditutup dengan vocal falsetto Eric menyanyikan: ... he asked me if I was afraid of dying, I said “Yes, I am”, I wasn’t lying, But it may be like a deep sleep state of mind....../ Ibonk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found