Heavy Metal Heavy Metal (Istimewa)

Heavy Metal

Sejarah dan Perkembangannya di Tanah Air

Ajang festival metal terbesar di tanah air, Hammersonic Festival 2017 usai sudah. Festival ini setiap tahunnya selalu sukses untuk menjaring penonton lewat musik cadas, kostum serba hitam terlihat memadati hampir seluruh area panggung. Sangar dan garang, meski terkesan warna hitam adalah warna negatif tetapi hampir seluruh penyanyi yang beraliran rock, metal, underground menggunakannya.

Tidak diketahui, kenapa para metalheads tampil dengan berbaju hitam? Itu biasa dan agak aneh kalau menonton pertunjukan metal menggunakan baju yang berwarna warni. Musik cadas yang dianggap marginal terkadang melambangkan minoritas kaum mereka yang ingin menunjukkan perlawanan, juga cara mereka bertahan dan tentu saja melambangkan kelompok tertentu.

Bicara band rock dan band beraliran metal, sebut saja Megadeth, Black Sabbath, Deep Purple, Metalica atau bahkan God Bless, dalam setiap aksi panggungnya hampir dipastikan selalu menggunakan warna hitam. Memang musik cadas yang anti-mainstream ini memang cocok menggunakan warna hitam walau terkadang ada juga yang menggunakan warna selain hitam, tetapi tetap saja terdapat unsur warna hitam ada di setiap aksi panggungnya. Sudahlah, apapun yang mereka gunakan untuk kostum memberi kesan garang sesuai dengan musiknya yang garang, kita bicarakan mengenai musiknya saja.

Heavy Metal mulai berkembang di tahun 1970-an yaitu sebuah aliran musik rock dengan akar blues rock yang pertama kali dipopulerkan di Amerika. Dengan akar dari psychedelic rock yang merupakan salah satu jenis rock yang mencoba menggambarkan orang yang sedang kecanduan. Aliran musik ini ditandai lewat raungan distorsi gitar yang sangat kuat, ketukan cepat dan solo gitar panjang, baik di semua instrument alat musiknya.  Liriknya pun terkadang menggambarkan dan selalu berkaitan dengan kejantanan dan maskulinitas. Nah disini terjawab kenapa kostum yang mereka gunakan selalu ada nuansa hitam.

Perkembangan musik metal dan nama heavy metal itu sendiri sebetulnya di gagas oleh band hard rock di tahun 1960-an. Kala itu Steppenwolf menyanyikan lagu mereka yang berjudul Born To Be Wild (terdapat di baris kedua bait kedua). "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin' with the wind and the feelin' that I'm under". Nah di baris kedua itulah terdapat kata heavy metal, namun istilah tersebut belum di gunakan secara tepat sampai pada tahun 70-an heavy metal di pelopori oleh Black Sabbath, Led Zepplin dan Deep Purple. Pada masa itu era tersebut masih dipengaruhi oleh elemen blues yang kental. Judas Priest kemudian mengembangkannya dengan lebih mengandalkan unsur distori dan menghilangkan unsur blues.

02 Heavy Metal Bands IstimewaHeavy Metal Bands (foto: Istimewa)

Waktupun berlalu sangat cepat, dan heavy metal akhirnya dikembangkan lagi. Lewat tempo lagu sangat cepat yang di usung oleh gitaris yang memainkan gitar rhytm downstroke muncullah turunan baru yang disebut Thrash Metal. Dimainkan oleh band-band  yang dijuluki Big Four Of Trash seperti Metallica, Megadeth, Slayer dan Anthrax.

Band sejenis yang memainkan aliran ini di daerah San Fransisco diantaranya adalah Testament dan Exodus. Di New Jersey terdapat band bernama Overkill, dan dari Brasil terdapat Sepultura. Sedangkan Speed Metal dimainkan dengan lebih cepat dan bertenaga seperti Motorhead, Iron Angel, dan Anthrax. Band yang berasal dari Eropa dan beraliran Thrash Metal seperti Kreator dan Destruction yang berasal dari Jerman.

Di Indonesia pun juga demam dengan jenis musik evolusi dari Heavy Metal ini. Kota-kota besar seperti Jakarta, Medan, Bandung, Surabaya, Jogja, Bali, dan lainnya mulai bermunculan scene underground dari jenis musik tersebut. Berkembang lewat hasil evolusi dari para rocker pioneer era tahun 70-an, diantaranya God Bless, Gang Pegangsaan, Gypsy, Giant Step, Super Kid, Rawe Rontek, Terncem, AKA/ SAS dan lain-lain. Pada masa itu musik metal di pakai dengan menggunakan istilah Underground yang dibuat untuk menggambarkan pentas yang liar dan ekstrem di jamannya.

Lagu yang mereka mainkan pun sebenarnya bukan lagu hasil dari karya mereka sendiri, band-band dari luar negeri seperti Deep Purple, Jefferson Airplane, Black Sabbath, Genesis, Led Zeppelin, Kansas, Rolling Stones hingga ELP kerap mereka bawakan. Sebut saja ada beberapa band seperti El Pamas, Grass Rock, Roxx, Val Halla, Power Metal, Kaisar, dan lain-lain yang tumbuh antara tahun 70 – 80an.

Log Zhelebour kemudian muncul menjadi sosok yang berusaha menaungi dan memberikan wadah terhadap musik rock kala itu. Dengan kenekatannya, kemudian membuat terobosan baru yang membuat musik rock di Indonesia mulai mengarah ke arah industri dan rekaman. Log Zhelebour menggebrak musik genre ini dengan membuat festival rock terbesar di Surabaya.

Semenjak itu Surabaya menjadi barometer musik rock di Indonesia. Dari sinilah kemudian muncul band rock Indonesia Elpamas, Power Metal, dan lainnya. Log kemudian membuat label bernama Logiss Record dan ini membuatkan album ketiga God Bless “Semut Hitam” di tahun 1998. Album ini ludes dipasaran,dan menjadi produk pertama dari label tersebut.

03 Metallica IstimewaMetallica (foto: Istimewa)

Di awal tahun 80-an di Indonesia demam jenis musik evolusi dan heavy metal ini, yang dipengaruhi oleh band-band seperti Slayer, Metallica, Exodus, Megadeth, Kreator, Sodom, Anthrax hingga Sepultura. Bukan hanya di Indonesia band-band ini sempat membat dunia terguncang karena kemunculannya.

Hampir di seluruh dunia waktu itu, anak-anak mudanya sedang mengalami demam musik Thrash Metal. Sebuah style musik metal yang lebih ekstrem lagi dibandingkan Heavy Metal. Di Jakarta sendiri komunitas metal pertama kali tampil di depan publik pada awal tahun 1988. Komunitas anak metal ini biasa hang out di Pid Pub, sebuah pub kecil di kawasan pertokoan Pondok Indah, Jakarta Selatan yang memang diisi oleh band-band beraliran rock dan metal.

Perkembangan band-band metal di Indonesia di era tahun 90-an kebanyakan dipengaruhi oleh kedatangan band Sepultura dan Metallica di Indonesia. Konser Sepultura di tahun 1992 di Jakarta dan Surabaya, telah sukses membakar semangat penikmat musik metal di kedua kota tersebut. Di tahun berikutnya 1993, Metallica yang selama dua hari berturut-turut di Stadion Lebak Bulus, Jakarta menjadikan group band ini salah satu konser band yang paling fenomenal kala itu.

Ini juga berdampak pada group band metal gaek Rotor yang kala itu sebagai band pembuka di konser Metallica. Dua kali membuka konser, Rotor merilis album Thrash Metal dengan Aquarius Musikindo  sebagai labelnya lewat album “Behind The 8th Ball” yang pertama di Indonesia.

Di awal tahun 1995, muncul band bernama Sucker Head yang sebetulnya seangkatan dengan Rotor. Namun karena lambat dalam membuat dan merilis album pertamanya, melalui label Aquarius Musikindo dengan judul “The Sucker Head”. Rotor sendiri dibentuk pada tahun 1992 setelah cabutnya gitaris Sucker Head, Irvan Sembiring yang merasa konsep musik Sucker Head saat itu masih kurang ekstrem baginya.

Komunitas metal/ underground mulai berkembang terutama di Jakarta, Blok M yang menjadi pusat komunitas tersebut menjadi tempat hang out sekaligus menjadi tempat saling bertukar informasi, jual-beli t-shirt metal, sampai merencanakan konser. Beberapa band yang muncul di era ini adalah Grausig, Trauma, Aaarghh, Tengkorak, Adaptor, Godzilla dan masih banyak lagi. Jenis musik metal yang di bawakan dan digrandrungi mereka adalah subgenre yang semakin ekstream seperti,  death metal, brutal death metal, grindcore, black metal hingga gothic/ doom metal.

Perkembangan musik metal di Indonesia mencetak sejarah baru pada tanggal 29 September 1996, dimana muncul pagelaran musik Indie untuk pertama kalinya di Poster Cafe. Acara ini dinamakan “Underground Session” yang digelar setiap dua minggu sekali. Cafe legendaris sendiri merupakan milik rocker gaek Achmad Albar dan banyak melahirkan scene musik indie baru yang bermain dengan genre musik berbeda dan lebih variatif.

Di tempat ini Getah, Brain The Machine, Stepforward, Dead Pits, Bloody Gore, Straight Answer, Frontside, RU Sucks, Fudge, Jun Fan Gung Foo, Be Quiet, Bandempo, Kindergarten, RGB, Burning Inside, Sixtols, Looserz, HIV, Planet Bumi, Rumahsakit, Fable, Jepit Rambut, Naif, Toilet Sounds, Agus Sasongko & FSOP adalah sebagian kecil band-band yang manggung di sana.

10 Maret 1999 adalah hari scene Poster Cafe tutup untuk selama- lamanya. Pada hari itu untuk terakhir kalinya diadakan acara musik, “Subnormal Revolution” yang berujung kerusuhan besar antara massa punk dengan warga sekitar hingga berdampak hancurnya beberapa mobil dan unjuk giginya aparat kepolisian dalam membubarkan massa. Namun, bubarnya Poster Cafe diluar dugaan malah banyak melahirkan venue-venue alternatif bagi masing-masing scene musik indie.

Cafe Kupu-Kupu di Bulungan sering digunakan scene musik Ska, Pondok Indah Waterpark, GM 2000 Cafe dan Cafe Gueni di Cikini untuk scene Brit / indie pop, Parkit De Javu Club di Menteng untuk gigs punk / hardcore dan juga indie pop. Belakangan BB’s Bar yang super sempit di Menteng sering disewa untuk acara Garage Rock-New Wave-Mellow Punk juga rock yang kini sedang hot, seperti The Upstairs, Seringai, The Brandals, C’mon Lennon, Killed By Butterfly, Sajama Cut,Devotion dan banyak lagi.

04 Koil IstimewaKoil (foto: Istimewa)

Selain di Jakarta, Bandung juga menjadi tempat untuk perkembangan musik ekstrem ini dan juga menjadi barometer rock underground di tanah air. Siapapun yang pernah menyaksikan konser rock underground di Bandung pasti takkan melupakan GOR Saparua yang terkenal hingga ke berbagai pelosok tanah air.

Bagi band-band indie, venue ini laksana gedung keramat yang penuh daya magis. Band luar Bandung manapun kalau belum manggung di sini belum afdhol rasanya. Artefak subkultur bawah tanah Bandung paling legendaris ini adalah saksi bisu digelarnya beberapa rock show fenomenal seperti Hullabaloo, Bandung Berisik hingga Bandung Underground. Jumlah penonton setiap acara-acara di atas tergolong spektakuler, antara 5000 – 7000 Mungkin ini merupakan rekor tersendiri yang belum terpecahkan hingga saat ini di Indonesia untuk ukuran rock show underground.

Band-band indie lokal keren macam Koil, Kubik, Balcony, The Bahamas, Blind To See, Rocket Rockers, The Milo, Teenage Death Star, Komunal hingga The S.I.G.I.T, yang berasal dari Bandung. Salah satu band hardcore Indonesia Burger Kill juga  dibesarkan di kota ini.

Isu agama dan rasisme di kancah metal Indonesia sempat terdengar dan masuk ke ranah metal di Indonesia di awal tahun 2010. Saat itu ada gerakan yang disebut Metal 1 Jari, alias One Finger Movement. Metal 1 jari adalah sebutan untuk musik metal yang membawa isu agama dan tauhid dalam musiknya. Salah satu pelopornya adalah Hariadi Nasution, alias Ombat, vokalis Tengkorak. Satu jari merujuk pada salam satu jari telunjuk, yang menunjukkan ke Esaan Allah SWT. Mereka enggan memakai meloik, salam universal metal yang dianggap sebagai simbol setan.

Hal ini muncul disebabkan kondisi politik di tanah air kala itu. Penyebaran kampanye rasisme dan juga radikalisme amat sangat mungkin dilakukan di kancah musik dan dunia populer. Penyebarnya berupaya mencari medium yang dekat dengan dunia anak muda. Tujuannya tentu untuk mencari basis massa anak-anak muda.

Alangkah baiknya hal seperti itu tidak terjadi lagi di tanah air, musik apapun genrenya sebaiknya tidak membawa isu radikal dan rasis. Musik itu universal, bisa dinikmati oleh kalangan manapun juga. Jadi,  bagi para penikmat musik apapun jaga persatuan dengan melek dari hal-hal rasis dan radikalisme.  Salam Metal./ YDhew

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found