Perfilman Nasional Dialog Film Nasional (foto: Ibonk)

Perfilman Nasional

Mengangkat Gengsi Lewat Kearifan Lokal

Ada sebuah hal menarik yang bisa diambil dari hasil dialog perfilman yang mengangkat tema  kearifan lokal. Begitu pentingnya hal tersebut ditonjolkan di setiap kelok karya film anak bangsa untuk menghadapi budaya asing. Hal tersebutlah yang dibeberkan secara panjang lebar oleh Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), Maman Wijaya di Jakarta, Rabu lalu (24/5).

Disamping itu Maman menjelaskan pula bahwa pemerintah saat ini tengah berupaya mendukung perkembangan film Indonesia dengan berbagai cara seperti bentuk apresiasi film dengan mengadakan festival film. Lainnya dengan peningkatan kompetensi bagi insan perfilman lewat workshop, dan loka karya, juga pemberian bantuan beasiswa bagi para sineas yang ingin melanjutkan pendidikan sarjana satu dan dua ke luar negeri.

Diharapkan tradisi mengangkat nilai-nilai kearifan lokal dalam perfilman Indonesia akan terus menuai hasil positif di ajang internasional, seperti yang diraih oleh film Ziarah lewat  penghargaan Best Screenplay & Special Jury Award - ASEAN International Film Festival & Awards (AIFFA).

Senada dengan apa yang disampaikan oleh Tino Saroengallo, yang lebih dahulu memaparkan materi dialognya terhadap tema yang ditetapkan. Ia menyampaikan bahwa salah satu nilai kearifan lokal yang dapat dimasukkan dalam film-film Indonesia adalah nilai bahasa daerah. Salah satu contoh film yang menggunakan bahasa daerah, lanjut Tino, adalah film Turah. "Film itu di dalamnya secara menyeluruh memakai bahasa Jawa Ngapak (Tegal)," ungkapnya.

02 Tino Saroengallo IbonkTino Saroengallo (foto: Ibonk)

Ia mengatakan bahwa penggunaan bahasa daerah dalam film nasional adalah salah satu upaya pelestarian bahasa daerah. Karena ditengarai juga, bahwa saat ini kondisi bahasa daerah juga sudah semakin mengkhawatirkan.

Tino juga memaparkan film lainnya yang pada saat kemarin tengah diperkenalkan dan diputar di Cannes Film Festival karya Mouly Surya. Film berjudul Marlina: Si Pembunuh Dalam Empat Babak ini secara gamblang  memperkenalkan unsur kebudayaan lokal. Film ini mengangkat budaya kekerasan di Sumba Barat yang patut diacungi jempol.  "Jangankan di luar negeri, masyarakat Indonesia sendiri tidak banyak yang tahu bahwa budaya kekerasan ala parang sebagai senjata yang dibawa sehari-hari masih berlaku di Sumba Barat," katanya.

Diskusi yang dilakukan dalam 2 sesi tersebut, menyampaikan juga opini lain dari penggiat perfilman seperti produser, Ichwan Persada. Dalam pemaparannya ia bersiasat lewat  keragaman dan kekayaan budaya yang kita miliki. "Perfilman nasional hanya butuh strategi, kemauan, dan dukungan kebijakan yang berpihak kepada satu tujuan, yakni bersama-sama menyebarluaskan (kekayaan dan keragaman budaya) secara tepat dan cerdas lewat film nasional".

Secara garis besar, Kepala Bidang Perizinan dan Pengendalian Perfilman Pusat Pengembangan Perfilman Kemendikbud, Kholid Fathoni sebagai penyelenggara dialog ini berharap agar pelaku perfilman terus memasukkan nilai-nilai kearifan lokal di dalam film-film nasional.

03 Maman Wijaya Ibonk Maman Wijaya (foto: Ibonk)

Beberapa jenis kearifan lokal yang bisa dimasukkan ke cerita film bisa apa saja seperti  bahasa, dialek, makanan, busana, kesenian (baik itu seni pahat, seni kerajinan tangan, seni suara, seni tari) ataupun pola berpikir masyarakat.

Ia juga menyampaikan keluhan terkait dengan minimnya dukungan pemerintah, termasuk regulasi dan biaya. Sangat dibutuhkan keberpihakan pemerintah secara total untuk membantu menyebarluaskan kearifan lokal tersebut lewat alokasi dana untuk membantu upaya perekaman event kebudayaan di masyarakat. Sehingga film benar-benar dapat dipergunakan sebagai alat penetrasi budaya dan alat menyebarkan budaya nasional kepada dunia luar./ Ibonk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found