Ayu Weda Ayu Weda (foto: Ibonk)

Ayu Weda

Kegelisahan yang Membawanya Pulang

Bali, negeri para dewa kembali menjadi saksi kembalinya seorang Ayu Weda ke dalam dunia seni. Dunia yang sangat diakrabinya dan akhirnya terputus selama puluhan tahun tanpa tahu  kapan ia kembali. Kini, setelah 25 tahun berlalu, tiba-tiba saja dirinya tersadar dan merindukan untuk menyuarakan galau hatinya lewat nada. Bukan tanpa tarik ulur waktu,  bukan pula sebuah hal yang gampang untuk menetapkan hatinya untuk menggeluti dunia tarik suara tersebut.

Jalan awal yang ditempuhnya adalah dengan melahirkan sebuah buku. Sekumpulan cerpen yang bersandar dari apa yang dialaminya selama puluhan tahun dirangkumnya lewat judul ”Badriyah” pada tahun lalu. Bisa jadi ini mulai mengejutkan para pemerhati seni di Bali. Karena si anak hilang itu sudah mengayunkan langkah kecilnya untuk “kembali”. Lalu, Ayu Weda melanjutkan rancangan pembuatan albumnya bersama bersama Sawung Jabo yang dirintisnya sejak awal tahun 2016.

Seperti yang dituturkannya kepada NewsMusik dan pada saat temu media di sebuah kedai kopi dibilangan Sanur, Bali bahwa ia butuh sebuah media untuk meledakkan perasaan, rasa gelisah, kekecewaan atau cintanya terhadap perjalanan hidupnya, rasa kebangsaan serta  kemanusiaan.

Ia sangat akrab dengan karya-karya Sawung Jabo dan Sirkus Barock yang dirasakannya sangat pas dengan gejolak rasanya dan sangat mewakili deru hatinya. Maka dengan sadar, ia meminta kepada Jabo untuk menyanyikan ulang karya sang maestro tersebut lewat gubahan aransemen agar sesuai dengan karakternya.

Akhirnya iapun memilih langsung sepuluh lagu yang dirasakannya cocok dengan keinginannya. Seperti pemilihan lagu ‘Hella Hella Hella’ dan ’Bocah Pelangi’, tak lain adalah refleksi dari keprihatinannya akan sempitnya lahan bermain untuk anak-anak, Juga rasa jengahnya terhadap anak-anak yang mengemis di jalanan dan dunia imajinasi yang tergantikan oleh teknologi.

Pada lagu ‘Sudah Merenungkah Kau, Tuan?’ dan ‘Kesaksian Jalanan’, adalah ungkapan kegelisahan Ayu Weda terhadap dunia politik bangsa yang dianggapnya jauh melenceng dan hanya memikirkan kepentingan kelompok/ individu, penyelewengan kekuasaan dan lainnya.

”Saya benar-benar tidak mengintervensi pilihan lagu Weda yang pernah masuk dalam album Sirkus Barock maupun album rekaman saya lainnya. Terpenting adalah, Weda merasa pesan sosial kemanusiaan yang ingin diungkapkannya sampai sasaran,” ungkap Sawung Jabo.

02 Sawung Jabo & Ayu Weda IbonkSawung Jabo & Ayu Weda (foto: Ibonk)

Enam lagu lainnya seperti ‘Duniaku’, ‘Melangkah Adalah ke Depan’, ‘Mencari dan Bertanya’, ‘Ada Suara Tanpa Bentuk’, ‘Perjalanan Masih Jauh’ dan ‘Di Hatimu Aku Berlindung’ merefleksikan perjalanan batin manusia dari keadaan terpuruk hingga mampu bangkit menemukan jati dirinya serta bermuara pada kedamaian hati.

Proses rekaman, mixing dan mastering dilakukan pada Maret hingga April 2017 di Yogyakarta. Pada album ini, Sawung Jabo bertindak sebagai music director dan lagu-lagu tersebut direaransemen bersama personel Sirkus Barock lainnya seperti Joel Tumpeng, Bagus Mazasupa, Endy Barqah, Ucok Hutabarat, Denny Dumbo, Jecco Cello serta Afrina Pakpahan dan Savini Savin sebagai backing vocal.

Mengenai pemilihan musik balada dengan gaya bertutur menjadi pilihan baru Ayu Weda. Ia sengaja meninggalkan nafas rock yang puluhan tahun silam digelutinya. Saat ini, ia begitu nyaman dapat mengekspresikan semua lewat  nafas musik balada.

“Kehadiran kembali saya di dunia nyanyi memang tidak sekedar ingin tampil sebagai entertainer. Lebih dari itu, saya ingin menyampaikan pesan sosial, moral, dan membuat kesaksian. Itu sebabnya saya pilih lagu-lagu dalam genre balada, lagu bertutur,” jujur Weda.

Dari kacamata pengamat musik Bens Leo, kembalinya Ayu Weda ke dunia entertainment adalah sebagai penggalian ulang bakat dirinya sebagai pekerja seni yang berprestasi, bahkan melintasi pilihan bidang seni yang terlihat ekstrem perbedaannya.

Begitulah, untuk menunjukkan rasa sukacitanya terhadap selesainya dan diluncurkannya album baladanya tersebut. Mengambil tempat di Bentara Budaya Bali pada akhir Juli 2018 lalu, Ayu Weda mengadakan pertunjukkan diruang terbuka yang juga menghadirkan beberapa teman-teman seniman Bali.

Pertunjukkan dibuka oleh sang adik, Ayu Laksmi yang tampil memainkan sejenis alat musik petik tradisional dari Bali Utara, dan menyampaikan testimoni terhadap Weda. Lalu hadir Trio Flowers, 3 perempuan belia pelajar SMA asal Tabanan, menyanyikan kembali nomor lagu ‘Rindu Teman Sehati’ karya Adriadi, yang pernah direkam Ayu Weda pada albumnya di tahun 1981. Lalu dilanjutkan dengan penampilan seorang vokalis berdarah Filipina-Amerika, tapi besar di Bali, Sandrayati Fay yang melantunkan tunggalan secara akustik ‘Korban Terpaksa (Ibu Kecil)’.

Tak kalah seru adalah penampilan Cok Sawitri, perempuan Bali yang mengaku ikut menjadi provokator kembalinya Ayu Weda kedunia showbiz. Dengan latar belakang sastra dan teaternya, Cok memberi testimoni tentang jalan hidup berkesenian Ayu Weda, lengkap dan panjang, tanpa teks, tanpa jeda bernafas.

03 Ayu Weda Performed IbonkAyu Weda Performed (foto: Ibonk)

Akhirnya, Weda tampil menyanyikan ‘Hela Hela Hella’ karya dan arasemen Sawung Jabo, dengan iringan Sirkus Barock secara full band lewat harmoni lembut tapi bertenaga. Weda melanjutkan pengembaraannya pada lagu bertendensi politik, ‘Sudah Merenungkah Kau, Tuan?’ dan ‘Kesaksian Jalanan’, serta dua lagu lain yang bertema perenungan personal, ‘Mencari dan Bertanya’ dan ‘Di Hatimu Aku Berlindung’.

Tampak dengan jelas kalau Ayu Weda sangat nyaman dikawal Sirkus Barock. Ia bebas berkomunikasi dengan audiens dan mengajak mereka untuk larut didepan panggung dengan menari dan ikut menyayi. Suasana semakin pecah, tatkala Weda undur diri dan kemeriahan dilanjutkan oleh Sirkus Barock dengan Sawung Jabo sebagai pentolan utama group ini.

Ayu Weda yang lahir pada 1 September di Singaraja, Bali, seusai menamatkan pendidikannya di bangku Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Singaraja Bali akhirnya melanjutkan studinya ke Universitas Airlangga dengan mengambil fokus Ilmu Sosial dan Politik. Sejak tahun 1979. Ia membangun kelomppk vokal trio Ayu Sisters bersama 2 adiknya, Ayu Partiwi dan Ayu Laksmi dan mereka mampu memenangi penghargaan kelompok vokal terbaik kejuaraan Bintang Radio & TV se-Bali. Lalu meraih Juara 3 dan Penampil Terbaik ditingkat Nasional pada tahun 1982.

Sebelumnya, Ayu Weda pernah menjadi Finalis Puteri Remaja 1981 yang digelar oleh sebuah majalah remaja. Pada saat kuliah ia tiba tiba saja memutuskan untuk terjun ke musik rock dan gelar lady rocker pun langsung disandangkan dipundaknya. Di era tersebut ia  telah menelurkan album dan tenar dengan tunggalan “Rindu Teman Sehati" yang diciptakan oleh Adriadi serta ‘Memetik Bintang’ karya Deddy Dores.

Selamat datang kembali di dunia seni Ayu Weda... Semoga hadir lagi karya terbaik, tajam dan  memukau hati/ Ibonk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found