Solo City Jazz 2017 Fariz RM with his Anthology Kuartet (foto: Ibonk)

Solo City Jazz 2017

Minimalis namun Efektif

Beberapa tahun lalu, ibarat jamur pada musim penghujan, banyak bermunculan festival-festival jazz yang bertebaran disetiap pelosok negeri ini. Festival berbau jazz yang berkembang dengan suburnya, membuncah mewangi dari Sabang sampai Marauke. Menjadikan negeri ini, menjadi sebuah etalase padat akan festival jazz, belum lagi ditambah dengan festival-festival lainnya lewat genre yang berbeda.

Namun ibarat tumbuhnya, begitupun dengan keadaan sebaliknya yang sama cepatnya. Kabar-kabarnya hampir separuh dari puluhan festival jazz yang ada satu demi satu mulai berguguran. Ada yang bertahan 3 sampai 5 kali pertunjukan, akhirnya hilang tak berbekas, bahkan ada yang langsung gugur setelah sekali muncul.

Begitulah adanya, festival jazz seperti menjadi ladang bisnis yang menjanjikan keuntungan secara finansial dan kesohoran nama sang penyelenggara. Walaupun pada kenyataannya, bukanlah sebuah hal yang mudah menjalankan sebuah jazz festival. Butuh pemikiran, modal, tenaga, tim, eksistensi dan keberuntungan tingkat tinggi.

Salah satunya yang masih tetap bertahan adalah Solo City Jazz (SCJ) yang telah diadakan pertama kali pada 4 dan 5 Desember 2009 di Windujenar-Ngarsopuro dan berlanjut terus sampai tahun ini. Hanya pada tahun 2010 SCJ gagal diadakan dikarenakan karena adanya musibah hujan debu paska erupsi Merapi.

Sebagai sebuah event musik tahunan, SCJ tetap mempertahankan konsep dasar berformat a la festival lewat musik jazz, art, heritage dan batik. Sampai saat inipun konsep tersebut tetap dipertahankan. Untuk sajian musiknya sendiri merangkum beragam macam  jazz dengan aneka “sub-genre”nya. Diluar itu, festival ini mengedepankan juga porsi khusus pada band yang mengedepankan eksplorasi eksperimentasi jazz dengan unsur-unsur eksotika tradisi Nusantara. Selain, bagaimana para musisi dan penyanyi, melakukan reintepretasi tersendiri masing-masing terhadap jazz. Hidangan lengkap itu kami menyebutnya sebagai, “jazz-nya wong Solo”.

Hal lain sebagai pembeda dari festival lain sejenis adalah dengan mempertahankan kesan guyub, akrab dan intim. Caranya adalah membuat panggung SCJ di udara terbuka, di spot-spot yang cukup memiliki nilai sejarah dan gratis. Semua boleh menonton, semua bisa menikmati. Dan dari manapun!

02 Vibes IbonkVibes (foto: Ibonk)

Inilah sebuah identitas yang menjadi ciri tersendiri, untuk menghindari keseragaman sehingga sulit membedakan satu festival dengan festival lain. Ya tentunya, bagaimana acara festival tersebut bisa bersinergi dengan kota yang dipilih sebagai tempat diadakannya festival tersebut tanpa bertolak belakang dengan masyarakat yang malah dikhawatirkan, akan menjadi asing, padahal festival jazz itu, memakai nama kota tersebut.

Lantaran sifat gratisnya itu, maka sajian jazz yang dihidangkan, memang juga diupayakan memiliki unsur hiburan, yang semoga dapat dicerna mata dan telinga masyarakat penonton yang heterogen. Alhasil, siapapun boleh menonton dan bisa menghibur diri....

Terbukti selama bertahun-tahun SCJ sanggup memberikan tambahan event istimewa, menambah daya tarik kota Solo, sebagai salah satu kota tujuan wisata eksotis. Terutama memasyarakatkan jazz sebagai salah satu musik hiburan masa kini, yang dapat disukai publik kebanyakan. Lewat proses yang panjang yang menghidangkan format festival dengan balutan unsur art yang berbeda, menjadi sebuah mata acara andalan kota Solo.

Juga membawa unsur jazz rasa Solo tersebut jauh ke kantong-kantong yang bersentuhan langsung dengan masyarakat, seperti pasar tradisional. Yaa, SCJ beberapa kali kerap membawa keberagaman jazz dengan beragam sub-genre-nya tersebut ditengah-tengah pedagang dan pembeli di pasar-pasar tradisional dalam versi semi ataupun full akustik. Tentunya juga dalam versi yang lebih lite, sehingga lebih terasa membumi.

Memasuki tahun ke-9, dan penyelenggaraan ke-8 kalinya tahun 2017 ini, juga tetap mengandalkan jurus “minimalis tapi efektif”. Diselenggarakan di akhir September kemarin tetap menuai kesuksesan yang cukup signifikan. Yang dimaksud dengan konsep minimalis tapi efektif ini adalah konsep sepanggung, dengan pengisi acara yang beragam.

Pada acara puncak, Sabtu 30 September menghadirkan bintang-bintang muda potensial asal ibukota. Ada kehadiran Ben Sihombing, serta grup unik yang adalah tiga dara cantik dan seru dan penuh semangat dan sehat, Nonaria. Lalu dimeriahkan acara dua kelompok musik yang tak kalah menariknya, asal Solo sendiri, duo Jungkat Jungkit dan trio Fisip Meraung. Lainnya terekam juga nama Vibes, Horse Race Ska, Destiny, yang adalah grup band muda usia yang datang dari Solo dan daerah lain di Jawa Tengah. Serta satu kelompok Pilipe, komunitas jazz senior, Pinggir Kali Pepe yang juga dari Solo.

Selain itu, sebagai menu sajian utama kehadiran Fariz RM with his Anthology Kuartet menjadi sebuah penampilan yang dinanti. Tidak bisa dipungkiri jika kehadiran kedua kalinya Fariz RM tetap diminati setelah beberapa tahun sebelumnya Fariz pernah juga hadir dalam format band yang berbeda. Sang musisi multi instrumentalis, penulis lagu, aranjer dan produser musik kenamaan sejak 1980-an itu hadir bersama Eddy Syakroni, Adi Dharmawan dan Iwan Wiradz.

03 Pilipe IbonkPilipe (foto: Ibonk)

Festival yang telah dimulai sejak sore hari tersebut dengan ancaman turunnya hujan tersebut, langsung saja mendapat sambutan yang cukup meriah. Tawaran suguhan yang sangat berwarna warni antara jazz dan non-jazz. Sebuah sajian musik yang akhirnya mampu untuk menghimpun potensi musisi muda lokal dan penonton dari beragam kesukaan.

Inilah tantangan serunya, dimana sebuah perhelatan festival dengan embel-embel jazz di masa sekarang, terutama di Indonesia sejatinya haruslah pandai bersiasat, tanpa terlihat upaya mengelak dari tanggung jawab moral penyelenggara. Yaa, karena seringkali terjadi sebuah festival jazz malah minim kehadiran musik jazz nya. Sementara kita cukup tau bahwa sebagai jenis musik, perlu waktu rasanya genre ini sepenuhnya menjadi magnet untuk mendatangkan publik.

Dari sisi SCJ, karena gratisan-nya, sebetulnya pas dan cocok untuk sekaligus menjadi etalase musisi yang lebih membawa ruh jazz dalam musiknya. Etalase yang menjadi media edukasi, memperkenalkan jazz dan mendidik publik untuk mengenal dulu, baru kemudian benar-benar paham dengan musik jazz sebenarnya. Ini adalah strategi untuk merangkul publik, membuka pintu, sekalian memberi apresiasi bagi para musisi muda yang ada.

Kembali ke panggung festivalnya, tanpa kesan mewah panggung di halaman Benteng Vastenburg, Solo tersebut dimulai jam 16.00 an. Dibuka oleh Destiny, grup muda Solo, lalu disambung Fisip Meraung, lalu ada Horse Race Ska. Vibes

Berikutnya setelah break kedua, tampil grup senior, Pilipe yang lumayan membawakan lagu-lagu bertema jazz, fusion, jazzy era 80 sampai 90-an. Disela dengan kedatangan Walikota Surakarta, FX. Hady Rudyatmo yang memberikan sambutan singkat. Kedatangannya juga ditemani langsung oleh Wakil Walikota, Achmad Purnomo.

Jungkat Jungkit tampil lumayan menambah suasana kesegaran dan kenyamanan. Lewat irama folk, dan telah memiliki album, duo ini tampil pede. Walau memang masih harus memperbanyak jam terbang agar lebih kinclong lagi, duo ini cukuplah untuk mewarnai semarak SCJ yang mulai merangkak malam.

Berikutnya hadir dalam format trio, Nonaria. Memilih warna merah manyala pada wardrobe yang berkesan vintage, Nesia Ardi (Vokal, Snare Drum), Nanin Wardhana (Piano) dan Yasintha Pattiasina (Violin) tampil unik. Ditambah additional player pada Double Bass. Suasana akustik yang cerah ceria. "Perkenalkan kami dari Nonaria, saya Nesia Ardi, di sini ada nona Nanin Wardhani di keyboard, dan nona Yasinta di biola," lanjutnya.

04 Nonaria IbonkNonaria (foto: Ibonk)

Ketiganya menghadirkan lagu pertama yang mereka bawakan berjudul 'Salam Nonaria' yang dibawakan dengan iringan musik yang ceria. Mereka dikenal selalu membawakan lagu-lagu dengan musik dan iringan lagu yang ceria juga jenaka. Lagu-lagu merdu bersuasana ceria dan hangat

Lepas Nonaria berganti dengan Ben Sihombing, yang juga adik kandung Petra Sihombing. Masih muda belia, ia  kembali menghadirkan format minimalis ketika tampil di panggung, Ben memposisikan dirinya di tengah dengan gitar akustik, ditemani pemain drum elektrik dan kibor.

Kehadiran Ben membuat suasana jadi adem, bertebaranlah lagu-lagu cinta anak muda yang langsung diikuti paramuda dibagian penonton. Christopher Ben Joshua Sihombing juga lantas membawakan hits-nya, ‘Set Me Free’ serta ‘Mine’ kedalam list lagu yang ditampilkan. Dan penutup acara, siapa lagi kalau bukan Fariz Rustam Munaf. Langsung membuka penampilannya lewat ‘Penari’. Lantas menyajikan hits miliknya yang lain, termasuk ‘Nada Kasih’, ‘Hasrat dan Cinta’, ‘Barcelona dan...’Sakura’ yang melegenda.

Mendekati jam 23.30, Fariz RM menyudahi penampilannya. Penonton langsung beranjak pula meninggalkan areal benteng Vastenburg. SCJ berakhir lancar, dari awal sore sampai tengah malam. Kawasan areal parkir itupun langsung segera senyap. Stand-stand penjualan aneka makanan, minuman penyegar dan lain serta sederet food-truck juga lantas segera ditutup dan dibereskan dengan cepat.

Begitulah, SCJ 2017 pun berjalan dengan baik, cuaca malam yang cerah bertabur gemintang memang akhirnya menuntaskan ketakutan penyelenggara akan sergapan hujan. Memang Solo pada saat itu kerap diguyur hujan dalam intensitas tinggi. Namun semua menjadi baik-baik saja, seperti keyakinan untuk menyajikan festival ini di tahun-tahun berikutnya./ Ibonk, dM

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found