Elephant Kind Elephant Kind (YDhew)

Elephant Kind

Suguhan Musik Lewat Konsep Visual

Suguhan musik apik dengan sentuhan nutrisi pop dikemas secara berbeda oleh Elephant Kind. Sekilas bila menyimak lagu-lagunya band ini seperti bukan asal dari Indonesia, selain lirik yang berbahasa Inggris, instrument merekapun terdengar modern dengan sentuhan barat. Cerita band  yang di awaki oleh Bam Mastro (vokal/gitar), Dewa Pratama (multi instrumentalist/guitar/backing vocal) dan Bayu Adisapoetra (drum) berawal sejak sang vokalis membuat tugas akhirnya.

Bam yang menempuh pendidikan musik di Western Australian Academy of Performing Arts (WAAPA), dengan membuat sebuah proyek musik untuk tugas akhirnya tersebut. Bam yang merasa kesulitan dengan skripsinya akhirnya pulang ke Jakarta dan membuat project sendiri yang akhirnya diberi nama Elephant Kind yang sampai sekarang menjadi suatu brand baru di bidang musik.

Di Jakarta, Bam mewujudkan Elephant Kind dengan Bayu Adisapoetra, John 'Choky' Patton dan Dewa Pratama yang memilih hijrah kembali berkarier dengan band asalnya, Kelompok Penerbang Roket. Biasanya group band dibentuk berasal dari pertemanan ataupun teman sekolah, tidak demikian halnya dengan band ini. Para personilnya masing-masing belum pernah mengenal satu sama lain. Mereka disatukan dengan adanya proyek musik dengan kesukaan yang berbeda-beda.

Nama Elephant Kind sendiri di dapat Bam dari salah satu kicauan di twitter yang berbunyi "An elephant can die from a broken heart”, gajah ini membuat mereka kagum dengan kekuatannya yang masih sanggup berdiri meski menjelang ajalnya. Elephant Kind mengembangkan bermusiknya dari filosofi tersebut. Musik yang seolah menjadi penghibur bagi mereka yang merasakan patah hati dan tersakiti, bukan hanya oleh cinta tetapi juga hal-hal lainnnya.

02 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Dengan influence setiap personilnya yang berbeda-beda terciptalah suatu karya musik yang nge-pop namun melankolis tapi menghibur. Campuran musik lintas genre yang berbaur menjadi satu ini terbukti setahun sejak mereka berdiri mampu memenangkan suatu penghargaan Favorite Newscomers 2014 dari ICEMA. Penghargaan tersebut diterima mereka dari dua mini albumnya yang bertajuk "Scenarios: A Short Film by Elephant Kind" dan  “Promenades, A Short Film by Elephant Kind” dan menghasilkan single–single yang sukses seperti ‘We All Lose (Holy Sh*t)’, ‘Oh Well, ‘Why Did You HaveTo Go’, dan ‘With Grace’ yang membuat mereka melesat tajam dan menyebarkan virus Julian Day-tokoh fiksi dalam Elephant Kind.

Bam yang gemar hiphop, sementara Bayu beraliran punk, dan Dewa dengan EDMnya kemunculan mereka di panggung industri musik tanah air sanggup disandingkan dengan band-band indie seperti Sore, Efek Rumah Kaca hingga Pure Saturday sebagai band kesohor.

Elephant Kind pun mengukir prestasi dengan salah satu pentas seni yang diadakan di salah satu SMA di Medan, sebanyak 2000 ticket ludes terjual dalam usianya yang baru menginjak satu tahun. Hal ini merupakan salah satu prestasi dalam perjalanan karir mereka yang sulit dilakukan oleh band manapun.

Gaya bermusik  mereka yang terpengaruh karya musisi dari luar dan juga bermacam genre, seperti Michael Jackson, Kings of Leon, Kanye West, Sigur Ros, David Bowie, Bon Iver hingga Queen sehingga tercipta karya musik dengan lirik  yang emosional. Semua lagu-lagu mereka yang berbahasa Inggris Bam mengaku merasa kesulitan dalam menciptakan lirik Bahasa Inggris, Bam yang sedari kecil sudah tinggal di luar negeri merasa tidak pernah berhasil menciptakan lirik dalam bahasa Indonesia.

“Kita sebetulnya sudah menciptakan lagu dengan standard berbahasa Indonesia, tetapi tidak pernah berhasil. Keadaan sekarang ini dengan secara nyaman biar bagaimanapun kita melakukan ini untuk para fans yang suka dengan karya sebelumnya, tetapi kita juga tetap harus menjaga kualitas ini. Misalkan berbahasa Indonesia kualitas kita harus sama dengan lagu yang kita ciptakan dalam bahasa Inggris. Dan menurut gue, kita lacking dalam berbahasa Indonesia cara pembuatan lirik berbahasa Indonesia susah sekali. Apalagi kayak gue dari kecil gak disini. Karena bahasa Indonesia gue adalah bahasa Indonesia yang kaku dan orang tua, dimana tidak bisa diterapkan untuk anak-anak di zaman sekarang. Tidak menutup kemungkinan kita juga akan menciptakan lirik berbahasa Indonesia,” tutur Bam.

Di awal September lalu, Elephant Kind kembali mengeluarkan karya mereka yang semua lagunya dalam  berbahasa Inggris. Debut album yang bertajuk “City-J” berisi 12 lagu mereka dengan ciri khas pop visioner dengan lirik dan musik yang masih tetap di jalur emosional.

03 Elephant Kind YDhewElephant Kind (foto: YDew)

Album ini berangkat dari pengalaman dan kehidupan mereka di Ibu Kota Jakarta yang dijuluki mereka dengan sebutan City-J yang mengangkat kehidupan masyarakat Jakarta yang modern dan hidup  komersial. Selain mereka sendiri, album ini juga ditangani oleh Lee Buddle, ahli musik dari Australia yang pernah menggarap musik untuk penyanyi Justin bieber dan Kelly Clarkson. Buddle merupakan guru Bam di Western Australian Academy of Performing Arts.

Sebagai band indie, Elephant Kind mempunyai situs tersendiri yang dibuat mereka untuk memasarkan karyanya. Ciri khas mereka dalam setiap perilisan albumnya adalah dengan disertai film pendek. Seperti ke dua album mini yang telah mereka keluarkan sebelumnya. Scenarios: A Short Film by Elephant Kind (2014) dan Promenades: A Short Film by Elephant Kind (2015).
Dalam hal konsep shor movie inipun mereka membuatnya dengan serius yang tidak didapat dari band manapun. Mereka membungkus musiknya dengan konsep visual dengan plot layaknya sebuah film. Lengkap dengan suguhan kisah dan tokoh utamanya.

Sejak awal berdirinya band ini mungkin tidak segencar band-band lainnya dalam bermusik, mereka cukup tenang dalam menjaga eksistensi bermusiknya. Seakan tak terdengar oleh media, namun aksi mereka dari panggung ke panggung tak pernah sepi dengan selalu membuat inovasi baru dalam karir bermusiknya. Lihat saja selain catatan-catatan bermusiknya di atas, Elephant Kind juga pernah menginjakkan kakinya di beberapa panggung bergengsi seperti Tabik! Volume 5 in Conjuction with Rocking the Region di Panggung Outdoor Theater, Esplanade, Singapura (Maret 2015).

Festival musik gagasan ISMAYA Live bertajuk ‘We The Fest’ 9 Agustus 2015 dan berbagi panggung bersama sejumlah musisi mancanegara mulai dari Echosmith, Rufus, Flight Facilities, Darius, Jessie Ware, Madeon hingga Passion Pit. Serta yang paling hangat, Elephant Kind, didaulat sebagai pembuka Circa Waves, grup indie rock asal Liverpool, Inggris, yang tampil untuk pertama kalinya di Indonesia pada Oktober kemarin, di Foundry 8, Jakarta Selatan.

Di tahun 2017, tanpa di duga mereka mendapatkan prestasi sebagai salah satu nominasi AMI Awards dalam bidang Karya Produksi Alternatif/Alternatif Rock/Lintas Bidang. "Waktu kami mulai Elephant Kind 3 tahun lalu, kami nggak melihat band kami akan masuk nominasi AMI gitu-gitu. Tiga tahun lalu kami malah mendapat criticism kenapa bikin lagu pakai bahasa Inggris, siapa yang bakal dengerin," ujar Bam Mastro di  Jakarta Selatan, Senin (30/10).

04 Elephant Kind True Love Launching IstimewaElephant Kind - True Love Launching (Istimewa)

Menurut Bam, AMI yang dilihatnya sekarang sudah melihat semua band di Indonesia  sama rata semuanya, mereka tidak melihat lagi suatu band atau musisi hanya dari keluaran dari major label saja. “AMI merupakan suatu pengalaman yang sangat berharga. Seperti Grammy misalnya penghargaan  itu untuk menaikkan value artisnya,  gue melihatnya untuk jenjang karir untuk artis penting banget, walaupun banyak pemusik bodo amat dengan segala macam award, tapi paling tidak kita merasa dihargai,” ujar Bam.

Dalam penutupan album City-J, Elephant Kind merilis kembali video musik dalam balutan Thriller. Berkolaborasi dengan sutradar Jordan Marzuki, track nomor 6 dalam album tersebut ‘True Love’ menjadi single terbaru sekaligus penutup dari fokusnya terhadap album City-J. Rentang waktu satu tahun dirasa cukup untuk mereka fokus dalam mempromosikan kencang album CityJ dan bersiap untuk lebih terbuka dengan pengalaman-pengalaman baru lainnya.

 “True Love ditulis untuk menjadi anthem dari perasaan cinta yang sesungguhnya. Bukan hanya di perkataan, tapi rasa yang intim antara satu dengan lainnya. Ini yang Elephant Kind ingin sampaikan juga ke pendengar kami di manapun. Satu tahun belakangan begitu menakjubkan, kami merasakan energi cinta yang besarnya sama seperti cinta kami terhadap mereka dan lagu ini yang menjadi gambarannya,” ujar Bam menjelaskan.

Ada chemistry yang baik antara Elephant Kind dan Jordan Marzuki untuk True Love ini. Ada kesamaan persepsi tentang True Love yang mereka tangkap masing-masing. Ide dari Elephant Kind dimana cerita tentang tiga remaja dikembangkan melalui dekonstruksi plot untuk membuat video musik ini lebih tidak linear dan ada benang merah yang bisa menjadi barometer intensitas suspense dari scene-scene yang tersaji.

Film thriller bergenre horor ini memiliki taste sendiri dalam berkarya, berbeda dan memiliki keberanian untuk mengeksplorasi ide-ide gila ya akan disampaikan. Ide yang cukup matang dari segi karakter, plot dan cerita yang sebenarnya, merealisasikan dalam bentuk genre teenage horor flick dengan adegan kekerasan cukup ekstrim, namun dibalut dengan apik oleh sang sutradara Jordan Marzuki.

 “Pada musik video ini, saya hanya ingin have fun dengan darah, kekerasan, thanks to Elephant Kind untuk menyediakan media musik mereka untuk saya bisa segila mungkin,” tambah Jordan Marzuki lagi.

Lagi-lagi Elephant Kind membuat konsep musik video yang berbeda dengan group musik lainnya, menyimak dari judulnya justru ‘True Love’ menyajikan hal yang tidak terduga. Cinta sejati diterjemahkannya menjadi  sesuatu yang seram dan justru distopis. Suatu kreatifitas dalam menciptakan brand yang berkharakter dalam musik mereka. Hal ini menjadi prespektif baru buat mereka bahwa dalam hal bermusik bukan hanya sekedar menjaga eksistensi dengan hanya bermusik saja, akan tetapi perlu menciptakan sesuatu hal yang baru dan produk baru setiap tahunnya.

“Penting bagi kita untuk menciptakan suatu karya baru, dengan trend yang berubah-ubah kita mau selalu berevolusi, growth bukan secara seniman saja, tetapi secara manusia yang terus berevolusi,” tutup Bam./ YDhew

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found