Reza & Rejoz (Tez)

The Groove

Ogah Disebut Group Jazz

Sempat vakum selama 11 tahun, group musik beraliran acid musik atau pop jazz yang beranggotakan 7 orang yaitu Ali Akbar (Piano), Arie Arief (Gitar), Ari Firman (Bas), Deta Gunima (Drum), Rieka Roslan (Vocal), Reza Hernanza (Vocal), Rejoz (Perkusi), dan Tanto Putrandito (Keyboard), tidak membuat mereka kehilangan energinya untuk menghasilkan karya.

Ditemui NewsMusik sewaktu acara jumpa pers “The 90’s Festival”, The Groove yang hadir diwakili oleh Reza dan Rejoz selalu bersyukur masih diberikan kesempatan untuk selalu bertahan dan masih bisa eksis sampai sekarang. “Rumah kita itu adalah The Groove, jadi pada waktu bubar, memang kita main dengan orang lain dan pasti ada sesuatu yang kurang. Karena memang kita bisa dipakai oleh orang lain, karena basic-nya kita di The Groove. Jadi energi itu kita kumpulin lagi, sampai kita kumpul bareng dan akhirnya bisa seperti sekarang,” ungkap Rejos di bilangan Menteng, Jakarta Pusat, Jumat (24/11).

Bermula dari album perdana yang dirilis tahun 1999 “Kuingin”, membawa mereka menjadi salah satu band yang digandrungi kala itu. Setelah  merilis album ”Hati-hati” di tahun 2004,  Rieka keluar dari group musik ini dan meniti karirnya sebagai penyanyi solo. Setahun kemudian merekapun membubarkan diri setelah album “The Best” dirilis. Walau tak sepenuhnya hilang, namun sejak saat itu nama The Groove seakan pudar di peta musik Indonesia.

Seperti yang disampaikan diatas, lepas sebelas tahun berlalu, The Groove akhirnya bangkit lagi bersama Rieka di posisi vokal seperti sebelumnya. Kembalinya mereka ditandai dengan dirilisnya album “Forever U’ll Be Mine” di tahun 2016 lalu.

“Bagi saya The Groove merupakan band yang dari awal kita tahu susahnya, yang benar-benar susah.  Ngalamin sukses bareng, susahnya juga kita ngalamin bareng-bareng, up and down jadinya. Ya, mungkin itu yang bikin kangen kita ngalamin semuanya. Jadi karena sudah ngerasa senasib kali ya... Sudah jadi keluarga, kalau nggak ketemu salah satunya pasti kangen. Kangen bukan cuma senang-senangnya saja. Kadang-kadang kecerewetan Rieke yang kalau dia nggak ada kita cariin. Itu yang membuat kita jadi hidup” ujar Reza.

02 The Groove Ibonk

The Groove (Foto: Ibonk)

Saat ini, secara personil The Groove sedikit banyak terlihat berubah secara fisik, namun tidak dengan kualitas mereka. Mereka masih memiliki energi yang sama seperti pertama kali mereka muncul di industri musik tanah air. “Setiap kali manggung kita selalu berasa mendapat energi kembali, karena energi tersebut memang kita butuhkan untuk bisa eksis sampai sekarang. Oleh karena itu kita selalu ingin menampilkan sesuatu yang menarik bagi penggemar kita khususnya,” ujar Reza.

Menurut kedua sahabat ini, bahwa keseruan berkarir agak sedikit berbeda dibanding saat ini. Di era serba digital sekarang siapapun bisa menjadi artis sementara pada waktu silam, The Groove menjadi salah satu band yang ada unsur jazznya sementara yang lainnya bergenre pop atau rock. “Mungkin jadi kayak anak emas, karena pecinta jazz akhirnya punya satu media untuk mendengarkan musik kita. Beda atmosfirnya di kita dari pada sekarang” ujar Reza.

Group musik yang ogah dibilang bergenre jazz ini, mengaku puas dengan perjuangan mereka dahulu, yang berbeda genre dengan band-band lainnya. Mereka berhasil memperkenalkan jenis musik yang cukup sulit dipasaran, dimana respon penikmat musik di awal kemunculan mereka tidak langsung bagus. “Kalau memandang musik jazz, sebetulnya bisa dibilang The Groove itu bukan band jazz. Itu mungkin keinginan pasar, karena The Groove sendiri alirannya pop”, ungkap keduanya.

Dulu zaman kita pertama kali muncul banyak sedihnya, kita jadi kayak nggak punya teman. Kadang kita tampil dalam satu panggung dengan band-band yang berbeda genre. Beda dengan sekarang, musik yang berunsur jazz itu banyak sekali, berbagai jenis. Saya senang sekali karena kita coba dari dulu sampai berdarah darah, cukup sulit mengenalkan musik yang kita punya ini,” ungkap Rejoz.

03 Maliq DEssential The Groove Istimewa

Maliq & D'Essentials & The Groove (Foto: Istimewa)

Seperti tahun lalu, mereka dipercayakan untuk tampil dengan Maliq & D’Essentials dan menjadikan sebuah kebanggaan buat mereka bisa bersinergi dengan band lebih muda. “Kita diberi kesempatan tampil dan bersinergi dengan Maliq & D’Essential. Ulang tahun kita bareng pada 15 Mei, dan cuma beda usia 5 tahun. Menariknya mereka adalah penonton setia The Groove. Mereka kumpul nge-band karena The Groove, dan ini juga merupakan ajang saling menguji,” tambab Rejoz.

Agak berbeda dengan Rejoz, Reza berasumsi bahwa jazz merupakan musik yang butuh intelegensia dalam artian harus teredukasi dahulu baru bisa menikmati jazz. “Jujur saya agak kurang paham jazz. Kita harus paham dulu genre ini, baru bisa menikmati musik jazz. Beda dengan pop, sangat easy listening, nyanyi-nyanyi selesai. Apalagi “pure jazz” nada bisa kemana saja. Jadi saya berfikir, jazz buat para musisi merupakan makanan tambahan, tapi so far buat kita jazz adalah salah satu genre yang kita suka,” tutup Reza./ Tez

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found