Dangdut Pro & Kontra

Pro Kontra Musik Rakyat     

Dangdut menjadi fenomena tersendiri di Indonesia. Sebuah genre musik yang tumbuh subur di tanah air, musik rakyat yang sangat susah naik kelas. Musik yang kerap di cap murahan dan identik dengan goyang seronoknya. Padahal yang suka mahhh bejibun. Seiring perjalanan waktu, dangdut yang sebenarnya diadopsi dari budaya India ini telah melewati beberapa fase. Berkembanga jauh sebelumnya sejak awal 1940-an ketika musik melayu  kontemporer berpadu dengan musik India, juga pengaruh cengkok irama dan harmonisasi Arab.

Memasuki akhir era 60an sampai saat ini, dimulai dari era orkes Melayu berlanjut ke dangdut klasik dan sempat dibungkus dengan elegan lewat versi un-plug sampai kepada dangdut koplo, dangdutpun berevolusi dari waktu kewaktu. Tidak seperti musik country di Amerika yang dengan gampang disandingkan dengan genre apapun di chart musik atau playlist di radio-radio negara tersebut.

Di Indonesia dangdut berjalan sendiri, tidak pernah masuk dalam chart lagu yang sama, selalu dibedakan. Tidak ada sebuah radio yang mengusung musik pop tiba-tiba menyelipkan lagu-lagu dangdut dalam playlistnya. Pasti dianggap aneh, walaupun keadaan tersebut pernah “terpecahkan” saat film Mendadak Dangdut pada 2006 lalu diputar. Mengusung soundtrack ‘Jablay’ yang disuarakan Titi Kamal booming di tanah air sehingga stasiun radio pop tampak tak malu-malu memutar lagu tersebut.  

Begitulah dangdut, jenis musik kontemporer, unik yang bisa dijejali dengan pengaruh genre apapun didalamnya, bisa rock, pop, keroncong sampai house music. Semua akan menyatu dalam harmoni dangdut yang didominasi kendang dan cengkok sang vokalis. Dangdut yang akhirnya membius pendengarnya sejak era Eliya Kadam, Husein Banafie lalu berlanjut dan berkembang ditahun 1970-an dengan kemunculan Rhoma Irama dan Soneta nya, Elvy Sukaesih ataupun A. Rafiq membawa musik dangdut makin masuk ke nadi masyarakat Indonesia terlebih lagi masyarakat marjinal.

Seiring waktu para penggiat musik ini berusaha menaikkan gengsi musik dan memperluas pengaruhnya. Tidak melulu hanya dengan menghimbau tapi lewat usaha dan karya yang mereka hasilkan. Rhoma Irama sang Raja Dangdut pun sampai melebarkan sayap ke luar negeri dengan manggung di beberapa negara Asia bahkan sampai-sampai ke Eropa dan Amerika.

02 Siti Badriah Ibonk
Foto-foto Ibonk

Belum lagi di era Evi Tamala, Kristina, Iis Dahlia ataupun Ike Nurjanah yang sengaja meramu dangdut secara un-plug yang minim goyangan. Sayangnya usaha yang dilakukan tersebut segera lenyap begitu saja digantikan oleh era musik dangdut yang lebih militan. Menghadirkan berbagai nama baru di panggung dangdut dengan macam istilah goyang yang ditampilkan. Goyang Ngebor, Ngecor, Goyang Drible dan istilah – istilah bombastis lainnya.  

Akhirnya musik dangdut kembali lagi ke era muram dalam kreatifitas walaupun hingar bingar dipenyajiannya, dipanggung-panggung dangdut dengan gaya yang mengedepankan erotisme baik pada judul lagu maupun liuk sang penyanyi. Ditengah fenomena seperti ini, tetap saja ada penggiat/ pelaku yang menanam asa untuk mengembalikan dangdut kepada keberadaannya untuk tetap dipandang baik dan pantas sebagai salah satu cara berkesenian.

Salah satunya seperti saat akhir pekan lalu takkala NewsMusik bertandang dikediaman Elvy Sukaesih, yang tengah mengadakan hajatan perayaan ulang tahunnya ke 64. Ratu dangdut yang memiliki 6 anak dan 21 cucu ini, masih terlihat enerjik, awet muda dan masih menyimpan obsesi untuk menggelar konser tunggal. Bahkan, ia sudah merancang konsepnya yang akan melibatkan para penyanyi dangdut seangkatannya, seperti Camelia Malik ataupun Rhoma Irama. "Sudah ada sih beberapa promotor, tapi memang belum direncanakan matang. Soalnya masih banyak kesibukan," ungkap Elvy kala itu.

03 Camelia Malik Elvy Sukaesih IbonkFoto-foto Ibonk

Tak hanya Elvy, NewsMusik juga sempat bertemu sang anak, Fitria Sukaesih yang pernah merasakan panasnya dunia politik. Namun sejak 2004 lalu, Fitria memutuskan untuk berhenti berpolitik. Menjalankan komitmennya sejak menikah untuk berhenti bernyanyi dan menjadikannya sebagai hobby saja. Ternyata masih cukup sulit baginya melihat keadaan musik dangdut pada saat ini.

Ia bersama sang ummi dan keluarga besarnya saat ini tengah merintis dan mengumpulkan materi untuk album yang mereka sebut  “pure dangdut” untuk sesegera mungkin diluncurkan. Semua dilakukan untuk menjawab dan mengembalikan anggapan bahwa dangdut asli yang baik dan benar dan menjadi musik  rakyat ini masih tetap hidup serta masih dapat dinikmati.

Apa yang ditangkap dari keinginan mereka pada malam itu adalah bentuk keprihatinan akan sebuah seni yang disebut dangdut. Seni yang sudah dianggap menjadi milik bangsa. Yang tumbuh bersama waktu dan nafas sebahagian besar rakyat bangsa ini. Tapi apakah benar seperti itu? Bukankah seni adalah kebebasan untuk menyukai? Bebas mengekspresikan apa yang dirasakan oleh sang biduan ataupun penontonnya? Walaupun dengan bahasa genit malah terkadang vulgar? Lewat goyangan panggung yang baiknya dilakukan disaat pertemuan eksklusif diruang tertutup saja?...  

Ahhh.. dangdut  itu memang moiii, bikin merinding…  Apalagi kalau memang seni sudah menjadi mata pencaharian untuk menopang hidup. Kita tunggu saja bagaimana kelanjutan cerita ini. Yang jelas.. dangdut tetap asik untuk digoyang…. tareeekkkkk mangggg…/ Ibonk

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.

People in this conversation

  • Online Music Arranger

    Mantaaappppp gan........

    Like 0