LCLR Plus Yockie Suryo Prayogo Concert

Sebuah Sajian Musik Lezat dan Sehat

 

Peta musik dunia dan khususnya Indonesia selalu mengalami rotasi, pasang surut dan kerap tidak dapat diprediksi. Melihat sejarah perkembangan musik di tanah air sendiri, seperti membuka album foto lama. Banyak cerita yang terjadi, banyak sejarah yang telah ditorehkan oleh para musisi. Baik oleh nama-nama yang dikenang sedemikian panjang ataupun mungkin cuma sesaat. Pada intinya, semua telah menyumbangkan karya yang mempengaruhi trend bermusik di era nya masing-masing.

Salah satu gebrakan dari lingkup musik adalah takkala Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR) Prambors digulirkan pada tahun 1977 silam. Beberapa hari lalu, sebuah konser yang bertajuk LCLR Plus Yockie Suryo Prayogo  digelar selama 2 kali penampilan yakni pada tanggal 1 dan 2 Oktober 2015 di Nusa Indah Theatre, Balai Kartini Jakarta. Sebuah konser yang didasari kerinduan sebuah cerita lalu.

Apa yang di dapat dari konser musik beberapa hari lalu tersebut? Terus terang menurut NewsMusik, inilah sebuah konser musik yang sangat menyehatkan pendengaran dan hati. Sebuah konser yang mengangkat sebuah movement kebangkitan musik Indonesia dari kebekuan. Sebuah masa dimana orang-orang kreatif di dunia musik bermunculan dan menjadi legenda. Dari karya-karya yang muncul sekitar 38 tahun yang lalu tersebut masih terus saja dapat dinikmati sampai kini. Bahkan ada beberapa karya yang telah puluhan kali di aransir ulang.

Semuanya berawal dari rencana para alumni angkatan 1981 SMAN XI Bulungan, Jakarta untuk reunian. Bikin sebuah pertunjukan dan hasilnya nanti untuk disumbangkan kesesama alumni ataupun para guru yang kesusahan. Dari pertemuan demi pertemuan akhirnya makin berkembang. Malah tercetus ide untuk membuat sebuah konser yang lebih besar, yang dapat dinikmati oleh lebih banyak penikmat.

Survey kecil-kecilan juga dibuat untuk mendapatkan sebuah nama untuk dihadirkan sebagai ikon konser. Nah, dari hasil survey muncullah nama Yockie Suryo Prayogo kepermukaan. Terangkumlah akhirnya sebuah konser yang menghadirkan karya spesial Yockie yang juga menjadi biang kemunculan nama-nama penyanyi top era 1980-an. Kibordis, penulis lagu dan aranjer legendaris terkemuka sejak 1970-an itu juga dikenal sebagai salah satu arsitek album fenomenal “Badai Pasti Berlalu pada tahun 1977 silam selain Erros Djarot.

Mengapa yang diangkat adalah lagu-lagu terbaik LCLR. Seperti yang telah dibincangkan di awal, LCLR seperti sebuah denyut walau sesaat namun dahsyat dan memacu bangkitnya sebuah masa yang disebut “Pop Kreatif”. Menggilas lagu-lagu pop cengeng dan memanggil pulang para musisi yang bersyikmasyuk membawakan lagu-lagu “bule” masa itu. Dari ajang LCLR ini pula nama-nama seperti Chriysye, Berlian Hutauruk, Keenan Nasution, Louise Hutauruk, Tika Bisono, Harry Sabar, Debby Nasution, Cheseiro ataupun Dhenok Wahyudi nongol di blantika musik Indonesia. Era tersebut juga mengangkat nama-nama yang cukup sakti di blantika musik Indonesia seperti James F. Sundah salah satunya.

LCLR seakan menjadi barometer ajang cipta lagu paramuda terbaik dan memicu bermunculannya ajang kompetisi bikin lagu yang populer di eranya. Penjualan album LCLR juga bisa dikatakan paling laris.  Radio Prambors yang ada dibalik semua ini, lewat orang-orang kreatifnya pada masa itu pun cukup merasakan dampaknya. Lagu-lagu yang pada akhirnya menghiasi masa-masa remaja yang cukup manis dari sebahagian besar manusia yang hidup hari ini di Indonesia.

Konsep konser ini sendiri mengangkat lagu-lagu fenomenal di ajang LCLR 1977 dan 1978 seperti ‘Lilin Lilin Kecil’, ‘Apatis’ ataupun ‘Kidung’. Serta sejumlah lagu ciptaan dari Yockie Suryo Prayogo yang juga terlibat sebagai Music Director pada ajang itu lewat lagu-lagu diantaranya ‘Anak Jalanan’, ‘Resesi’, ‘Angin Malam’, ‘Juwita’, ‘Melati Suci’, Kala Surya Tenggelam’.  

02
Foto-foto Ibonk

Hampir semua lagu yang terpilih dibawakan oleh penyanyi aslinya dan untuk beberapa lagu lain dinyanyikan oleh penyanyi masa kini seperti Once, Andi /rif, Fadli, Rian D’Masiv, Gilang Idol ataupun Kadri Mohammad Sutan Bandaro yang juga sebagai humas-nya konser ini. Yockie juga tidak sendirian, namun ikut dibantu oleh Indro Hardjodikoro & Friends. Kapasitasnya sebagai musisi dan mengemban tugas yang tidak enteng ini cukup bisa di uji.

Menyaksikan LCLR Plus Yockie Suryo Prayogo Concert, sajian ini langsung dibuka lewat lagu ‘Jurang Pemisah’ ciptaan Yockie sendiri yang dibawakan lewat suara khas Berlian Hutauruk. Ini sebuah lagu dalam tempo cepat yang diangkat dari solo album Yockie yang menghadirkan Chrisye sebagai guest star. Walaupun dirilis dalam waktu yang berdekatan dengan LCLR pada tahun 1977, namun tidak ada sangkut pautnya dengan LCLR sendiri.

Selanjutnya disusul tembang 'Dalam Kelembutan Pagi' oleh Dhenok Wahyudi. Intro khas dari sang vokalis yang mengaku sudah puluhan tahun tak pernah menyanyi lagi ini seakan melemparkan perasaan setiap orang dalam mesin waktu. Sengaja Yockie mengajak setiap orang ber sing a long, tanpa Dhenok hadir dipanggung hanya suaranya saja. Barulah bait berikutnya, Dhenok hadir dan menuntaskan lagu tersebut.

Selepas menit berikutnya, Dhenok kembali hadir dengan 'Kelana' yang membuai, NewsMusik sempat senyum sendiri teringat kata-kata awal dirinya saat temu pers terkait konser ini di siang harinya. Dengan gamblang pada saat itu Dhenok menyanyikan intro ‘Dalam Kelembutan Pagi’ dan berkata.. “Saya memang tidak secantik Yuni Shara, tapi inilah yang asli. Walaupun mungkin suara saya nggak nyampe lagi, tapi inilah yang asli,” ungkapnya menandai kembali dirinya ke panggung musik.

Sys NS yang menjadi host pada saat itu juga mampu mengembalikan perasaan semua penonton yang di dominasi oleh usia paruh baya. Lewat sajian footage beberapa nama tenar masa lalu, cukup menggambarkan kalau lagu-lagu tersebut sempat mengawal masa muda mereka.

Sajian yang tak kurang dari 22 lagu fenomenal digeber habis selama hampir 3 jam pertunjukan. Kerinduan menyaksikan tarian kolosal khas Swara Maharddhika terwakili saat Keenan Nasution membawakan lagu ‘Smaradhana’ ataupun gaya khas yang ditampilkan Louise Hutauruk takkala membawakan ‘Khayal’. Penampilan dengan para penari latar juga dipertunjukkan oleh Andy /rif lewat  'Anak Jalanan'. Gaya Andy /rif yang khas sedikit banyak sangat mewakili lagu yang dibawakannya tersebut.

Selanjutnya berderet-deret penampilan lain seperti Fadly dengan 'Selamat Jalan Kekasih' ataupun kolaborasi Ari, Wedha, Fadli dan Andi /rif lewat 'Kidung'. Kelompok vokal Chaseiro hadir dengan ‘Pemuda’ dilanjutkan ‘Sesaat’ dibawakan dengan apik lewat duet Benny Soebardja dan Harry Sabar. Berikutnya  'Apatis' hadir lewat duet Benny Soebardja dan Kadri Mohamad Sutan Bandaro.

03Foto-foto Ibonk

Sang Jendral panggung ternyata tidak hanya mengisi ruh panggung konser tersebut lewat permainan Hammond dan perangkat kekuasaannya. Selepas ‘Merpati Putih’ dari Berlian Hutauruk, Yockie membawakan 'Cinta Hitam' dilatarbelakangi oleh potongan gambar-gambar hitam putih prosesi penguburan Soekarno.

Dari luar penyanyi asli, Once Mekel mungkin menjadi sebuah penampil kunci yang penampilannya paling ditunggu. Tengoklah dirinya lewat vokal khas nya takkala melantunkan tembang  'Resesi'  dalam versi reggae.  Juga 'Angin Malam' yang menghadirkan Debby Nasution.

Selepas Tika Bisono yang muncul dengan 'Melati Suci', hadir Gilang yang merupakan alumni Indonesia Idol yang pede membawakan lagu berat dari Chrisye 'Mesin Kota' dan 'Juwita'. Pada dasarnya sungguh merupakan beban berat menampilkan lagu yang cukup kuat  dari si Oom (sebutan untuk Chrisye). Namun Gilang terlihat cukup berhasil mengajak penonton untuk ikut berdiri, bergoyang dan sing a long. Walaupun selepas konser, beberapa teman masih berdebat dan sepakat kalau mereka tak merasakan “jiwa” dari lagu tersebut.

Konser  ditutup penuh lewat alunan 'Lilin Lilin Kecil' yang dinyanyikan oleh semua performer. Tak hanya mereka, tampak juga Eros Djarot, Setiawan Djodi, Inggrid Widjanarko dan beberapa nama tak asing ikut nimbrung dipanggung. Juga tak ketinggalan sang penulis lagu James F. Sundah.

Secara keseluruhan, ini sebuah konser yang cukup berhasil, baik secara tema, kualitas  maupun penampilan panggung. Cukup berhasil pula mengembalikan euforia, rasa rindu terhadap lagu-lagu yang cukup hits dan tak termakan zaman. Keberhasilan konser ini juga sudah terlihat dari beberapa bulan sebelumnya. Tiket telah ludes terjual dan malah harus ditambah menjadi 2 hari untuk mengabulkan permintaan yang membludak.

Diluar itu ada rasa miris jika melihat keadaan musik nasional saat ini. Tidaklah semuanya buruk, masih terdapat nama-nama musisi dengan karya yang patut diacungi jempol. Tapi secara general boleh dikata memprihatinkan. Timbul tanya mengapa kita seolah tidak mampu untuk mengangkat kualitas musik Indonesia seperti era terdahulu?

Teringat apa yang dikatakan Harry Sabar ketika berbincang dengan Yockie diatas panggung. “Saya berharap lagu-lagu Indonesia bisa seperti dahulu. Pada saat dunia musik lokal sangat minim peralatan dan informasi, tapi mampu menghasilkan karya-karya terbaik. Bikinlah musik dengan hati dan tidak polos,” ungkapnya.

NewsMusik malah berpikir, mungkin ada baiknya kalau para “senior” tersebut sesekali turun gunung untuk menelurkan karya kembali. Yaa tetap akan ada gap yang terjadi. Namun ini bahasa musik dan cepat atau lambat bakal dipahami dan dihargai./ Ibonk

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found