Andi Bayou Foto-foto Teza

Andi Bayou

Hidup Mati di Musik

 

Nama Andi Bayou, tentunya cukup lekat berkaitan dalam scene musik Indonesia pada medio 90an. Belum lagi soal rintisan kesuksesannya sebagai salah satu music director dan produser musik papan atas di Indonesia. Sebagai anak band, ia pernah memperkuat Bayou dan Sket. Dua band tersebutlah yang membuat dirinya sempat merasakan dilematik, lantaran harus menentukan salah satu pilihan. Di Sket ia merasakan ada harmoni persaudaraan didalam band, meskipun disitu hanya sebagai additional player. Sementara di Bayou, ia sampai marasakan gesekan kuat di dalam tubuh band. Namun Bayou sudah telanjur menjadi darah juga baginya, lantaran memang inilah yang ia bangun sedari awal.

Kenangan indah masa kecil sulit terlupakan, dari Jogjakarta ia harus menempuh jarak 538 km menyambangi ke Jakarta. Namun di tahun 80-an tersebut, Andi bukan datang sebagai anak band, disaat itu dirinya adalah seorang calon Atlet Badminton Indonesia. Kelas 3 SD ia sudah akrab sekali dengan olahraga bulutangkis. Pemilik nama lengkap, Andi Haryo Setiawan ini merupakan seorang atlet berbakat, ia pernah menjadi Juara pertama badminton se Jawa Tengah, untuk kategori single putra.

Masa itu ia terpilih menjadi wakil Jogjakarta untuk Porseni SD tingkat Nasional dan berhak untuk ikut kejuaraan di Ragunan, Jakarta. Si pemilik medali perunggu ini, sempat menemui kawan-lawan yang nantinya bakal jadi atlet legendaris tersohor di Indonesia seperti Susi Susanti, Lily Tampy, Ricky Subagja dan masih banyak lagi.

Belakangan, keinginannya menjadi seorang atlet badminton harus kandas lebih cepat. Lantaran kurang mendapat support dari kedua orang tuanya. Mereka beranggapan, profesi atlet pada nantinya akan kurang menjanjikan. Ketika duduk di bangku SMP, ia malah menjadi siswa yang doyan berkelahi dan kerap melakukan aksi kebut-kebutan motor di jalan. Hal ini berakibat vatal, karena salah satu lengannya patah. Tingkah masa lalu yang tidak baik ini cenderung sangat ia sesali hingga kini.

Untungnya anak tunggal ini, sempet dibelikan hifi set, dan juga seperangkat alat musik, lengkap untuk satu set studio, meskipun kala itu Andi sama sekali belum bisa bermain musik. Hal ini untuk sementara mengalihkan perhatiannya agar betah dirumah. Orang tua tentu tak ingin putranya dikenal sebagai pribadi yang nakal dan cenderung masuk di lingkungan yang salah. Semasa SMP itu ia sempat membentuk sebuah band yang ia ingat bernama Cah Che. Disini Andi menjadi seorang vokalis yang menyanyikan lagu ‘Imagine’ milik John Lennon.

Setelah itu dia masuk ke SMA Bossa, Jogjakarta yang cukup dikenal sebagai sekolah pelahir musisi-musisi berbakat disana. Bersama Wheeze band untuk kali pertama Andi mengikut sesi audisi musik, disaat itu pemain keyboardnya sudah naik kelas, ia memiliki kesempatan besar untuk menggantikan peran seniornya itu. ‘Final Countdown’ dari Europe merupakan aksi yang tak terlupa baginya, meskipun dia belum sepenuhnya mahir bermain musik. Karena relasi di band itu jago-jago semua, membuatnya  tertantang untuk lebih meng-expolre musik. Andi memilih banyak bolos dari jadwal sekolah, untuk tekun berlatih keyboard sampai pagi. Bakat lahiriah tak membuatnya sulit mengenal nada, selama 3 bulan itu Andi sudah bisa melakukan improvisasi dikala bermain keyboard.

Tahun 1988 ia sudah memiliki mini home studio, ketertarikannya pada musik pun melebar hingga ingin mengetahui lagi makna arranging, programming, composing guna memanfaatkan fasilitas yang sudah ia miliki. Dari situ ia bisa mengarang lagu sendiri dan mulai mencari nafkah dengan membuat berbagai jingle. Ia juga mengasah bakat bersama band local jazz Jogja Sweetener, yang kala itu berisikan Adi Dharmawan, Imam Kustiono. Lalu, direferensikan oleh Edy Syahroni, Andi pun meninggalkan Jogja untuk berangkat ke Jakarta, masuk sekolah musik di Farabi. Disini ia tidak sampai lulus, karena faktor kejenuhan. Namun, positifnya ia dapat mengenal relasi-relasi musisi seperti Kadek, Anto Hoed, Krisna Balagita, James F. Sundah dan masih banyak lagi.

Andi sempat diusir dari rumah tumpangannya di Jakarta, saat berusia 19 tahun. Singkat kata, beratnya perjuangan di kota metropolitan membuat Andi sempat give up bermusik dan memutuskan kembali ke Jogjakarta. Disana ia berkuliah dan masuk jurusan ilmu Hukum. Talenta sebagai musisi telanjur ia asah dan juga banyaknya kolega di dunia musik membuat Andi tak bisa jauh dari nada dan sepakat membentuk sebuah band bernama Krockozone di tahun 1992, hasil pertemuannya dengan Binsar yang nantinya akan menjadi vokalis Bayou.

Krockozone sempat melahirkan 3 demo track, salah satu yang hitsnya adalah ‘Masih Ada’, lagu ini juga sempat dibuati video clipnya oleh TVRI lokal. Karena Binsar rumahnya di Jakarta, ia pun mencoba peluang terbesar membawa single tersebut dan menawarkan ke beberapa di label musik di Jakarta. Gayung bersambut dengan tertariknya Todung Panjaitan dan Gumilang dengan demo tersebut dan memanggil Krockozone untuk tampil sebagai band pembuka Adegan kala performed di Semarang dan Bandung. Untuk peluang di label, mereka kalah cepat dengan Powerslave yang sign kontrak lebih dulu di Musica. Namun, kegagalan ini Andi sadari sebagai bentuk motivasi lain, karena ia dapat relasi-relasi baru di label musik ternama.

Salah satunya adalah James F. Sundah, yang merupakan seorang komposer musik yang cukup besar pengaruhnya terhadap karier Andi Bayou. Dia mengenalnya saat sekolah musik di Jakarta di awal 90-an. Saat itu James meminta Andi membuatkan minus one untuk lagu Naniek Sugiarto yang bakal dimainkan di Malaysia. Sepulangnya ke kota gudeg, ia bersua kembali dengan James di radio Geronimo yang saat itu sedang mempromosikan Premix band. Lalu, di ajak kembali ke Jakarta, guna mengikuti audisi pemain keyboard di Premix. Lagi-lagi kemalangan menimpa dirinya karena dinyatakan tidak lolos. Tetapi, melihat kegigihan putra jogja itu dalam menekuni bidang musik, James malah memakai lagu-lagu ciptaan Andi untuk Premix Band. Secara tidak langsung, posisinya saat itu cukup penting dan mulai dipercayai sebagaia arranger & composer untuk Premix Band.

Selain itu Andi terlibat pula di lagu-lagunya Vonny Sumlang dan Ricky Yohannes. Lagu ‘Berdua’ merupakan karya miliknya yang sempat diterjemahkan dalam bahasa Inggris dan Tagalog. Di lagu tersebut menjadi cikal bakal perkenalannya dengan Mus Mujiono yang menjadi bintang tamu di lagu ‘Berdua’. Selanjutnya karena perkenalannya dengan Mus Mujiono, Andi menawarkan lagunya yang lain berjudul ‘Abadinya Cinta’ dan ‘Maafkan’ untuk dipakai oleh Mus Mudjiono.

2Foto-foto Teza

Di lain sisi ia juga berupaya segigih mungkin agar lagu “Selamat Tinggal Kasih” dan “Masih Ada” yang merupakan buah karya dari Krockozone yang keburu bubar dan membentuk Kayubian agar dapat diterima oleh major label. Sempat menawarkan ke Aquarius, namun ditolak lantaran sudah keduluan Protonema. Andi dikenalkan lagi dengan seorang produser musik bernama, Jan Djuhana. Ia kebetulan ingin merintis karir dari nol lagi setelah Team Record miliknya bubar. Kali ini, Kayubian mendapatkan kesempatan emas untuk audisi dan akhirnya diterima untuk segera mungkin masuk ke dapur rekaman.

“Sebelum ketemu Pak Jan itu, dulu gitarisnya kan Kadek. Jadi dulu namanya Kayubian itu singkatan dari (Kadek, Yoyo, Uce, Binsar dan Andi). Nah.. begitu disetujui dan akan resmi di kontrak, Kadek justru hengkang dan bergabung dengan Spirit Band. Kita pun kebingungan, akhirnya sampai minta tolong sama Pay Slank, untuk di cariin gitaris buat Kayubian. Pay ngasih referensi, Opick, sebagai gitaris band dan akhirnya bergabung. Pak Ian dilain sisi juga kurang setuju dengan nama Kayubian dan merekomendasikan nama Bayou, bermakna Angin. “Aku ingat pak Ian sempat berkata. Semoga Bayou ini bisa memberi angin perubahan di industri musik Indonesia. Bayou pun akhirnya membuat 9 lagu,” paparnya kepada NewsMusik.

Bayou pun akhirnya merekam 9 lagu ciptaannya dalam waktu 6 bulan. Namun, Ian Juhana menuturkan kepada grup bahwa album yang mereka buat ini, tidak memiliki sebuah lagu jagoan. Disaat bersamaan pada tahun 1994 tersebut, lagu-lagu yang diciptakan oleh Andi untuk Mus Mujiono dan Vonny Sumlang juga dirilis dan menjadi hits. Dirinya semakin percaya diri dengan talenta yang dimilikinya, baik untuk composer ataupun penulis dan pencipta lagu.

Andi Bayou memutuskan untuk kembali ke kampung halaman, ia cukup dipusingkan dengan feedback yang di lontarkan oleh Ian Juhana. Andi memilih menyendiri disebuah villa keluarga yang terletak di Kaliurang. Khusus untuk membuat lagu yang bakal menjadi hits ini, ia menjauhkan keintimannya bersama keyboard dan memilih berteman berduaan dengan sebuah gitar akustik. Disana ia dapat melukis ‘Hanya Dirimu’, sebuah hits besar yang nantinya akan meledak. Sementara personil lainnya,  masing-masing juga berkompetisi membuat lagu sendiri-sendiri, bakal hits yang akan disodorkan ke Jan Djuhana.

Sepulang dari masa penyendirian tadi, dengan sangat yakin ia kembali ke Jakarta, berbekal feeling ‘Hanya Dirimu’ yang nantinya akan meledak di pasar musik Indonesia. “Dapat lagu itu aku bikin demo di studio latihan, berikutnya aku bawa ke Jakarta. Ternyata Binsar dan Opick waktu itu juga udah bikin lagu, mereka tidak suka dengan tersebut, karena dianggap terlalu nge-pop. Mereka ngotot dengan lagu yang mereka buat. Aku bilang, ini kan yang dicari hits, terserah pak Jan ajalah.. tapi aku sudah feeling dan menurutku ‘Hanya Dirimu’ yang akan meledak,” ungkap Andi.

Lewat proses rekaman yang tidak memakan waktu lama, lagu tersebut dirilis. Lewat promo selama 3 bulan di radio-radio dan album Bayou I keluar di tahun 1995. Dari track tersebut, Bayou mulai ngetop menjadi salah satu band pop rock yang layak disegani di Indonesia. Hingga melanglang buana ke seluruh Indonesia, Bisa dipastikan, jadwal konser yang padat selama kurun 1 tahun membuat Bayou mendapatkan apresiasi luar biasa yang sebenarnya diluar ekspektasi mereka.

Flashback ke periode 1993- 1994, Andi sempat terlibat di dalam Sket band. Pasca dirinya lolos proses audisi di Sket dari hasil pertemuannya dengan Roemi Aziz di Musica Studio, yang memintanya untuk mengisi keyboard. Lantaran, pemain keyboard yang lama keluar, tak lama setelah promosi rilis album. Lalu, Andi ditempatkan sebagai additional keyboardist bersama Sket dan selalu ikut serangkain tur. Dia juga mengutarakan, memiliki chemistry yang kuat dengan para punggawa Sket band, dibandingkan bersama Bayou yang cenderung tidak terlalu harmonis. “Mahasiswa Terbang” merupakan julukannya saat itu, karena Andi harus menjalankan serangkaian tur musik bersama Bayou dan Sket, sekaligus menjalani rutinitas sebagai mahasiswa fakultas hukum di Jogjakarta. Tiga ornament ini menjadi prioritas utama untuknya.

Album debutnya Bayou menuai kesuksesan dan telah memiliki tempat tersendiri di hati penggemarnya. Periode tahun 1996 tersebut Andi, sempat dibuat dilema, Ia harus memilih Sket atau Bayou. Apalagi keduanya harus masuk ke dapur rekaman diwaktu yang hampir bersamaan. “Akhirnya tahun 1996 itu kedua band ini masuk di album kedua, walupun Sket lebih dahulu selesai aku yaa.. tetap minta izin sama Pak Jan untuk masuk grup Sket ini. Karena era itu memang nggak apa-apa, jika pemain band ikut 2 sampai 3 band, terkecuali vokalis loh yaa.. Nah, setelah meminta izin sama beliau, aku mendapat jawaban yang diluar dugaan, aku nggak boleh di Sket dengan alasan bahwa motornya Bayou adalah aku. Pak Jan cemas jika warna musik Bayou masuk ke Sket dan menurutku saat itu pak Jan salah dan terbalik.. Karena di Sket, aku sebenarnya hanya lebih melengkapi dan melebarkan musikalitas hingga sound mereka,” paparnya.

Keterlibatan Andi di Sket, membuat racikan sound band yang pernah menjadi opening act Mr.Big itu menjadi amat sangat berbeda. Wajar dan sah saja apabila ada kekhawatiran yang diutarakan sebelumnya. Periode 90-an tidak banyak musisi yang menggunakan sound lead-lead gitar yang ditransfer ke keyboard. Andi justru cenderung berkarakter khas dengan hal yang satu ini, dan suara itu masuk pula di dalam Sket.

Si pemegang keyboard Roland JD-Xa dan AX synth ini, terinspirasi dengan gaya bermusik dari olahan solo gitarnya Yngwie Malmstein, Joe Satriani, Steve Vai dan masih banyak lagi. Jadi pada part-part solonya, ia bisa mengambil roh solo gitar itu dan ditransfernya ke keyboard dan menjadi ciri khas tersendiri.

3Foto-foto Istimewa

Pada akhirnya Andi harus menyampaikan langsung, perihal dirinya tidak bisa terlibat lagi bersama Sket. Hal yang diungkapkannya diluar dugaan Willy dkk, yang justru berharap kerjasama bermusiknya di SKet dapat terus berlanjut. Pria kelahiran 20 Agustus 1971, ini lebih memilih optimal berjuang bersama Bayou untuk melanjutkan proses album ke-2. Ia menuturkan, sebenarnya ia agak kurang sreg dengan beberapa personil Bayou, karena mereka bertentangan konsep musik. Mayoritas personilnya lebih memilih genre rock, sementara Andi lebih mengkonsepkan pop yang cenderung melahirkan hits.

Album kedua Bayou keluar dengan di dominasi aliran rock. Mereka pun kelupaan membuat lagu beritmik slow, ‘Kali Ini’ ciptaan Andi menjadi hits di album Bayou ke 2 tersebut. “Nah.. karena disitu (Bayou) aku juga sebenarnya mulai nggak nyama. Terjadi faktor eksistensi personil yang ingin tampil dan ego-egoan sudah mulai nampak. Memang di album kedua itu penuh dengan problematika, banyak cekcok di dalam band hingga aku tidak bisa menciptakan lagu seperti pada album pertama. Energi itu tidak keluar dan menjadi sebuah preasure. Tetapi, aku memilih Bayou karena memang aku bangun dari awal,” tuturnya.  

Andi Bayou juga banyak dimintai pertolongan oleh Rendy Noor, seorang arranger musik, yang membuat Andy sempat singgah dirumah Rendy, dan disitu ia berkenalan dengan Anto Yuwono, seorang penyanyi Indonesia yang tinggal di Amerika. Dari pertemuan itu, Andi mendapat pekerjaan di Broadcast Design Indonesia (BDI), yang bekerja dibidang rekaman. Salah satu artist ternama yang berhasil di produksi oleh BDI adalah Dewi Sandra.

Dilain sisi, dia tidak bisa berharap terlalu banyak lagi terhadap Bayou, lantaran chemistry personil didalam band sudah kurang harmonis. Ditengah jalan setelah album rilis, Bayou justru ditinggalkan oleh sang produser. Alhasil, nasib band Bayou pun makin terkatung-katung. Andi berfikir untuk mengasah kembali potensinya, back to track alias terjun lagi sebagai music arranger dan music director untuk mencari nafkah.

Namun hubungan dia dengan Yan Juwana malah tak berhenti sampai disitu. Yan memintanya untuk menggarap album pertamanya “Warna” sebagai arranger dan pencipta lagu. Sejak BDI bubar pasca kerusuhan 1997-1998, banyak industri-industri di Jakarta hancur. Singkat kata hal itu membuat Andi mulai terbelenggu dengan ketidak pastian karirnya di Jakarta.  Tahun 1998 dia memilih pulang ke Jogjakarta dan meneruskan study S2 disana. Gemerlap musik pun hampir saja lenyap dari jati dirinya, lantaran terlanjur memiliki banyak kolega-kolega dari polisi, hakim hingga instansi hukum lainnya.

Kembali berkecimpung ke dunia musik dikarenakan pertemuan secara tidak sengaja dengan Vonny Sumlang disebuah tempat di Jogja, yang menimbulkan stimulus pada dirinya. Makin kuat setelah ia bertemu dengan road managernya Sheila On 7 yang meminta bantuan kepadanya. Setelah mendengarkan materi-materi lagu SO7, Andi pun pun tertarik dan pada akhirnya berlanjut ke sesi pertemuan dengan Eros dkk.

SO7 saat itu sudah sign kontrak dengan Sony Music, namun masih minim budget untuk membayar player, additional musicians, rekaman dan sebagainya. Andi mendapat titik temu dengan SO7 guna membantu album pertamanya, bukan dengan uang. Andi justru rela membantu mereka dengan menanggung tiket pulang pergi Jakarta-Jogjakarta. Dirinya memiliki keterlibatan cukup besar pada pembuatan album perdana SO7 di tahun 1999.

Dari seniman ke seniman ia siap membantu berkontribusi selama dalam hal berkarya. “Aku disitu hanya  sebagai additional player aja. Sebenarnya kalau bisa dibilang, aku bantu mereka (SO7) luar dalam. Ada fase juga saat pembagian royalty, ingin dibagi 7 terdiri dari personil SO7, manager dan aku tidak mau. Aku hanya menyarankan kepada mereka, untuk hak royalty hingga intelektual property adalah yang melekat di performer, composer dan bukan hak manager,” ungkapnya.

Selama 1,5 tahun tur sebagai additional player bersama SO7, hingga di tahun 2000. Andi juga yang mengisi piano-keyboard di album kedua SO7 “Kisah Klasik Untuk Masa Depan”. Di tahun yang sama Andi bertemu lagi dengan anak-anak Bayou di Jogja dan mengajak mereka masuk dapur rekaman lagi untuk  melanjutkan kembali proyek album mereka, “Alam Fantasi”. Dia juga bertemu Jan Djuhana dan mendapat job dari Sony sebagai composer dan arranger musiknya Warna dan Rio Febrian.

Secara finansial ia pun mulai mapan, mengumpulkan berbagai dana dari hasil nge-band bersama Bayou, terus sebagai pencipta lagu, additional player, composer, arranger dan lainnya. Hasilnya, Andi Bayou bisa membeli sebuah rumah pertamanya di daerah Pondok Aren. Tahun 2000 Andi memutuskan mulai menetap di Jakarta dan merintis karier sebagai arranger dan mengoptimalkan home studio yang ia punya di rumah pribadi miliknya. Kala, berkecimpung di S07, ia bisa membeli komputer dan soundcard untuk medium rekaman.

Pada tahun 2002, Andi terlibat pula dalam pembuatan album “Iwan Fals In Collaboration With”. Album tersebut diganjar dengan triple platinum, penjualan terbanyak dan mendapat penghargaan sebagai album terbaik dan single terbaik. Secara tidak langsung keterlibatan Andi dalam album ini turut menaikkan reputasi dirinya. Namanya mulai tersohor, disandingkan dengan banyak musisi-musisi besar Indonesia yang terlibat seperti Harry Roesli, Tohpati, Piyu dan masih banyak lagi.

Di tahun yang sama, Andi ditunjuk oleh Sony Music sebagai music produser untuk “Akademi Fantasi Indosiar season 1”. Ia harus menyelesaikan album ini dengan waktu yang mepet, selama 2 minggu dan 14 artis. Detail job desk nya saat itu adalah mencipta lagu, arranger, take vocal hingga mixing dan mastering. Pada akhirnya album yang kejar target ini, meledak di pasaran sebanyak 600.000 copies. “Terus di tahun 2005 aku punya ide menggarap album “Persembahan Cinta” dari Andi Bayou Project. Aku melihat pergerakan indie label dan management artist nantinya akan disini uangnya.

Akhirnya aku merekrut berbagai musisi artis seperti Lusy Rachmawaty, Anda Perdana, Uya Kuya, Valent dan masih banyak lagi. Ide ini terlahir sebenarnya spontan hanya seminggu, terinspirasi dari David Foster. Album Andi Bayou Project, melambangkan pergerakan sebuah indie musik. Karena itu, aku membuat AB record itu sendiri . Namun ada peristiwa besar dan membuat Andi harus menutupi semua kerugian-kerugian dari album ini. Singkat kata, proyek ini harus merugi karena belum ada profit dari digital, dimana transisi dari penjualan CD ke RBT. CD album pun terkena imbas pembajakan, sementara versi digital kurang laku di pasaran. Andi collapse secara finansial hingga harus merelakan menjual benda-benda miliknya untuk menutupi kerugian yang ada.   

4Foto-foto Teza

Rezeki datang lagi, kala ia ditunjuk sebagai produser “Dream Band” di tahun pertama dan kedua. Darisitu Andi mempelajari lagi soal men-direct dan me-manage sebuah band. Pendapatan dari proyek ini dia pergunakan untuk membangun studio pribadi dan di optimalkan untuk bisa take drum.

“Ternyata ada satu peristiwa yang gila juga, itu disaat mau belanja software dan komputer di Mangga Dua. “ATM ku ketinggalan dan ketika kembali ke ATM dan aku cek via telepon, ternyata ada transaksi. Saldo saat itu masih ada sekitar 25 juta  dan aku cuma disisain 500 ribu. Aku duduk lemas, teringat kerja 1,5 bulan buat nyari duit. Akhirnya aku lacak dan kejar sampai ke pengadilan yang ternyata menemui jalan buntu,” terangnya.

Setelah itu, Andi dapat job lagi sebagai produser musik dari salah satu band jebolan “Dreamband II”, juga dari Astro hingga mengembangkan link hingga masuk ke Warner Music. Disana ia menggarap single Ardina Rasti. Lalu menuai keberhasilan saat menggarap Kangen Band. Keterlibatan Andi di band asal Lampung ini sebagai music director, produser. Lagu-lagu Kangen Band seperti ‘Doi’, ‘Yolanda’, ‘Kembali Pulang’ dari album pertamanya serta RBT dari Kangen Band sangat meledak di pasar musik Indonesia pada tahun 2007. Dari sini nama Andi kembali berkibar sebagai salah satu music director dan produser musik papan atas. Seiring meledaknya bisnis RBT, Andi mulai kebanjiran job dari project album hingga single yang silih berganti. Dari tahun 2007 hingga tahun 2011, sekiranya ia telah menghasilkan 40 album musik.

Hingga kini Andi Bayou masih bergelut di bidang musik. Ia bersama para sahabatnya memiliki kebahagiaan di proyek sampingannya bermain jazz fusion rock. Plus dengan come back-nya Bayou, pasca melihat perhelatan 90’s reunion yang mendapat apresiasi baik dari audience. Andi bermaksud ingin melanjutkan kembali band lamanya ini. Bayou telah merekam ulang 2 lagu hits tahun 90-an. ”Sekarang ini ada tantangan baru, bahwa penjualan fisik seperti cd sudah hancur dan tidak bisa terlalu diandalkan. Hal itu sudah diakui dunia bahwa, goodbye cd.. Nah ini aku belum tau, ini cobaan yang ketiga menurut aku ya. Aku akan jadiin buku 25 years musical journey, ceritaku ini banyak bisa diambil pelajarannya ya, karena itu semua memang dibangun dari nol.

“Aku melawan itu semua dengan meninggalkan zona aman. Keluarga yang mapan di Jogja, baik secara akedemik ataupun lainnya. Akhirnya aku bisa meyakinkan mereka dan meninggalkan fasilitas itu hanya untuk bermusik. Jangan berkecil hati dan jangan pernah meremehkan potensi seseorang. Bahwa seseorang musisi pun bisa hidup layak dan bisa berinvestsi dengan baik. Tergantung orangnya saat diberi kenikmatan dia dapat mensyukuri rezeki atau tidak. Aku itu musisi sejati, jadi aku hidup mati ya di musik. Aku harus meninggalkan sesuatu yang dapat dikenang dan dapat menginspirasi penerus-penerus kita,” tutupnya./ Teza

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.

People in this conversation

  • Bung Nanatz

    Indonesia

    Wheeze band nya salah yaa ,, heheheehehe hebat deh mabro

    Like 0