C’Blues C'Blues (Istimewa)

C’Blues

Supergroup dari Bandung

C’Blues ternyata bukan band yang memainkan blues. C’Blues sendiri bermuasal dari bahasa sunda seblu yang berarti lecek atau kumal, lalu diplesetkan seolah berbahasa Inggris. Pada dasarnya, cikal bakal C’Blues berlangsung pada paruh dasawarsa 60-an di Bandung. Dibangun oleh Soleh Soegiarto dan Uthe Tahir, namun keduanya mundur dan bergabung dalam Rhapsodia di awal 70-an.

Selanjutnya, band ini di bawah komando Sakti Siahaan, dan telah berkali-kali bongkar pasang formasi. Syukurnya ketika memasuki formasi yang ke-6 di Jakarta sekitar tahun 1971 C’Blues mengalami perubahan nasib. Digawangi oleh Adjie Bandy (Vokal, Biola, Saxophone, Piano dan Vibraphone), Achmad “Mamad” Luther  (Keyboards), Idang (Drums, Vokal), Nono (Bass, Vokal) dan Bambang (Gitar, Vokal), nama C’Blues mulai di kenal khalayak luas.

Hal ini bisa jadi karena mereka baru saja merilis album perdana di Remaco dengan sebuah hits keroncong bertajuk ‘Aryati’. Sebenarnya album pertama C’Blues ini tidak direncanakan sama sekali, muncul secara tak sengaja karena mengamini ajakan Yoyok yang juga manajernya Rollies pada saat itu.  

Saat itu, C’Blues menggagas untuk lebih memaksimalkan unsur brass section dalam arransemen musiknya. Lebih banyak memainkan musik pop, namun terkadang secara tak terduga menyelusup pula elemen rock, misalnya pada lagu “Nenek Jang Tua”, riffing gitar rock mencuat disini.

Tak lama berselang, C’Blues lalu meluncurkan album kedua dengan sampul album yang mengingatkan kita pada gerakan psychedelic. Di album ini mencuat sebuah hit yang dinyanyikan Adjie Bandy bertajuk ‘Ikhlas’. Lagu ini juga menjadi tonggak ketenaran perjalanan musik C’Blues di blantika musik nusantara.

02 CBlues IstimewaC'Blues (Istimewa)

Secara garis besar, C’Blues sebagai band cukup bersinar. Tak hanya menjadi macan panggung, tapi mereka cukup jumawa dengan 2 Volume album rekaman yang menghantarkan beberapa hits abadi.

Kenyataan lain, di akhir tahun 1972, sebenarnya mereka telah memiliki materi untuk album ketiga. Sayangnya sebelum masuk ke ruang rekaman oleh pihak Ramaco, C’Blues diminta untuk mempersiapkan album full lagu keroncong. Permintaan ini muncul karena pihak label melihat kesuksesan lagu ‘Keroncong Harapan’ di album sebelumnya. Hampir seluruh personil menolak rencana album keroncong tersebut,  hingga akhirnya band ini mandeg melanjutkan rekaman.

Pada tahun 1973, perlahan C’Blues mulai mengalami masa-masa akhir era keemasan. Sempat berkibar, tatkala mereka diminta untuk menjadi band pembuka show dunia Bee Gees yang tampil di Surabaya. Tampil mengesankan lewat lagu-lagu hits mereka yang dipadu dengan lagu-lagu lain yang tengah hits.

Pada tahun ini juga Jelly Tobing yang sempat bergabung, hengkang ke Medan dan bergabung bersama Minstrels. Kehilangan 2 personil yang cukup memberi warna bagus dalam tubuh band, akhirnya membuat C’Blues vakum. Satu demi satu para personilnyapun mencari jalan masing-masing./ Ibonk

 

Share this article