Gipsy Gipsy (Foto: Istimewa)

Gipsy

Band Anak-Anak Menteng  

Gipsy Band dibentuk pada tahun 1966 awalnya adalah band pesta yang muncul dari sebuah rumah di Jalan Pegangsaan Barat no. 12 Menteng, Jakarta. Rumah milik keluarga Nasution yang merupakan warisan dari ayah Saidi Hasjim Nasution ini senantiasa mendapat kunjungan dari kerabat penghuninya. ”Rumah ini selalu ramai, karena teman-teman Bapak sering bertandang. Juga para sahabat ke enam anak-anaknya. Setiap anak dikunjungi oleh sahabatnya masing masing. Jadi bisa dibayangkan betapa ramai dan riuhnya rumah kami” kenang Gauri Nasution.

Gipsy juga merupakan letupan adrenalin sekumpulan remaja Jakarta yang tengah mencari pengakuan. Band yang digawangi oleh paramuda yang ngumpul dan nongkrong di rumah ini dan membentuk band yang digawangi oleh Pontjo Sutowo (organ), Joe Am Nasution (gitar), Gauri Nasution (gitar), Edi Odek (bas),dan Edit (drum). Lalu band inipun diberi nama Sabda Nada.

Nama yang diberikan oleh I Wayan Suparta yang juga merupakan seniman tari Bali, yang kala itu mengontrak pavilliun rumah keluarga Nasution. Selanjutnya Sabda Nada bermain bersama sekelompok pemain gamelan Bali yang diasuh I Wayan Suparta sendiri.

Formasi band Sabda Nada kemudian mengalami perubahan setelah bassist band ini, Edi Odek jatuh sakit dan digantikan oleh Chrisye yang merupakan sahabat karib Gauri. Chrisye adalah tetangga keluarga Nasution. Keenan Nasution pun mulai diajak mengisi posisi drummer. ”Saat itu Sabda Nada memiliki 3 drummer yaitu Edit, Ronald Boyo dan Keenan,” jelas Gauri Nasution.

Sabda Nada lalu mulai tampil di berbagai tempat seperti di Kantor Pusat Gedung Bank Indonesia, Istora Senayan ataupun Djakarta Fair. Keinginan untuk bermain band memang tumbuh dengan kuat. Tumbangnya rezim Orde Lama membuat semangat bermain band pun kian menjadi-jadi. Seolah sebuah euphoria yang tertunda selama bertahun-tahun. Begitu juga dengan Sabda Nada yang mulai menyanyikan lagu-lagu The Beatles hingga The Rolling Stones tapi lewat gaya mereka sendiri.

03 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Sabda Nada tak lama berselang juga mengganti nama. Ada anggapan mereka bahwa nama Sabda Nada seperti ketinggalan zaman. Oleh Pontjo Sutowo, diusulkan untuk diganti menjadi Gipsy. Itulah kontribusi Pontjo Sutowo saat itu karena setelahnya ia berniat mundur dari band dan memutuskan pindah ke Semarang pada tahun 1968.”Permainan organ saya pun biasa biasa aja.Musik bagi saya hanyalah hobi saja,” ujarnya.

Selepas itu beberapa wajah baru terlihat memperkuat Gipsy Band. Posisi Pontjo Sutowo digantikan oleh Onan Soesilo. ”Saat itu kami keliling mencari pengganti Pontjo, dan kebetulan melihat seorang anak muda bertubuh kurus dan gondrong tengah bermain organ di Ria Sari yang berada di Gedung Sarinah Thamrin Jakarta.

Bandnya yang bernama Fingers dan tengah membawakan lagu Bee Gees. Onan setuju bergabung dengan Gipsy, meninggalkan sahabatnya Aidit dan Johnny. Onan ini menurut saya memiliki bakat musik, dan rasanya memang pas untuk bermain dalam Gipsy,” kata Gauri Nasution.

Personil Gipsy lainnya adalah Tammy Daudsyah, tetangga seberang rumah yang baru saja membubarkan bandnya The Lords yang dibentuknya bersama Firman Ichsan, drummer yang kelak lebih dikenal sebagai fotografer. The Lords sendiri terdiri atas Tammy Daudsyah (vokal, keyboards, flute dan saxophone), Donny Johannes (vokal, gitar), Sri Sardono (bass), Adi Ichsan (gitar, vokal) dan Firman Ichsan (drums). Formasi Gipsy makin lengkap ketika Nasrul “Atut” Harahap, sepupu Gauri yang baru saja pulang dari Belanda menyatakan bersedia bergabung.

04 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Atut Harahap  banyak memperkenalkan band band mancanegara yang pernah ditontonnya sewaktu bermukim  di Belanda. Banyak juga referensi musik berupa piringan hitam. Sejak itu Gipsy yang terdiri atas Gauri Nasution (gitar), Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Onan Soesilo (organ), dan Tammy Daudsyah (saxophone, flute) mulai memainkan berbagai repertoar asing. Umumnya mereka memainkan musik  bercorak blues, soul dan rock seperti Wilson Pickett, The Equals, John Mayall & The Heartbreakers, Sam and Dave, Jimi Hendrix & The Experience, Blond, Chicago, Blood Sweat and Tears, The Moody Blues, King Crimson ataupun Keef Hartley.

Cara mereka menyajikan lagu-lagu karya artis mancanegara tersebut masih dengan kiat yang sama. Yakni dengan mengaransir ulang lagu tersebut dan juga memainkan lagu yang tak dikenal banyak orang. Ini sebuah bentuk kreatifitas yang pada saat itu belum ada yang melakukan. Semua materi lagu diolah lagi. Filosofi bermusik seperti inilah  menjadi modal utama dalam meniti karir dalam industri musik Indonesia.

Secara perlahan keberadaan Gipsy sebagai salah satu band yang bercokol di Menteng Jakarta mulai menjadi buah bibir. Selain cara mereka membawakan repertoar yang ditampilkan, juga karena disokong oleh perangkat band yang up to date untuk ukuran saat itu.

Gipsy pernah diajak Ibnu Sutowo untuk manggung di Manhattan, New York pada tahun 1972. Mereka mengisi acara hiburan di restoran Ramayana yang merupakan milik Pertamina, meskipun vokalis utama mereka, Atut Harahap telah meninggal dunia. Gipsy berubah formasi menjadi Chrisye (bas), Keenan Nasution (drum), Gauri Nasution (gitar), Adjie Bandi (biola), Rully Djohan (keyboards) dan Lulu Soemaryo (saxophone).

02 Gipsy Istimewa

Gipsy (Foto: Istimewa)

Disana, mereka mengiringi penyanyi pop kala itu, Bob Tutupoly. Pada saat senggang, Keenan menyempatkan diri berburu piringan hitam dan nonton konser.”Saya mulai mengenal album Genesis di Amerika dan nonton konser Blood Sweat & Tears serta grup art rock Inggris Yes,” jelas Keenan Nasution. Dari menyimak dan menonton konser musik, semakin memperkaya  referensi musik Keenan Nasution. Kelak referensi musik yang dicernanya di Amerika yang menjadi inspirasi utamanya dalam bermusik.

Sepulang dari Amerika pada tahun 1973, Keenan dan Chrisye mulai mengepakan sayap menjadi penyanyi. Hingga akhirnya Guruh Soekarnoputra mengajak Gipsy untuk berkolaborasi dan berhasil menghasilkan album rekaman dengan judul Guruh Gipsy pada tahun 1976. Kolaborasi ini dianggap unik, karena Guruh dikenal dengan kemahirannya menguasai budaya Bali dan Gipsy sebagai sebuah grup ber-genre rock./ NM (dari berbagai sumber)

Share this article