Harry Roesli Harry Roesli, Triawan Munaf, Albert Warnerin, Harry Pochang (Istimewa)

Harry Roesli

Saya Bikin Lirik Dulu, Baru Musiknya

Sejak duduk dibangku SD, Harry Roesli sudah menyukai musik tradisonil Sunda. Setelah duduk dibangku SMP, barulah ia mempelajari musik tradisionil Sunda khususnya gamelan. Harry berguru pada Tatang Kartiwa seorang tokoh karawitan Sunda yang kesohor. Minatnya begitu menggebu-gebu untuk menggabungkan nada-nada diatonis dengan pentatonis. Sebuah eksperimen musik yang tak lazim, aneh dan menabrak pakem musik trasionil Sunda, Namun Harry Roesli tak peduli ia ingin membuktikan kepada masyarakat bahwa dirinya punya kemampuan.

Pada waktu bersamaan, Guruh Soekarnoputera juga bereksperimen menggabungkan musik tradisionil Bali dengan musik rock ala barat. “Hal tersebut memacu semangat saya untuk melakukan hal yang sama dengan Guruh. Bahwa anak-anak muda sekarang harus dibiasakan mendengar musik tradisionil, Sunda, Jawa, Bali atau dari daerah-daerah lainnya. Musik kita lebih kaya kalau digali dan dipelajari dengan serius."

Harry tak ingin disebut bereksperimen, karena kesannya  coba-coba. "Padahal saya melakukan suatu hal yang serius buat perkembangan musik Indonesia selanjutnya. Saya menggabungkan musik tradisionil Sunda dengan musik barat, supaya enak didengar, Masyarakat harus jeli bahwa dalam musik saya itu penuh makna serta ada pesan yang tertuang pada lirik-liriknya."

Harry Roesli mengaku dirinya selalu membuat liriknya terlebih dahulu, setelah itu baru musiknya. "Saya tidak bisa membuat lirik asal-asalan seperti lagu pop kacangan, karena saya ingin menyampaikan pesan yang berguna buat masyarakat." Saking seriusnya membuat lirik lagu Harry pernah menulis satu baris lirik dalam waktu satu bulan. "Itu terjadi saat saya menulis 'Kaki Langit Bumi Yang Miring'. Saya berusaha untuk menulis lirik yang komunikatif dengan penggemar musik, walaupun cuma sepenggal kata."

02 Harry Roesli IstimewaHarry Roesli (Istimewa)

Bila Guruh diprotes para seniman musik tradisionil Bali, sama halnya dengan Harry Roesli yang diserang para tokoh seni karawitan Sunda seperti Mahyar yang melarang Harry agar tidak bereksperimen lagi. "Jangan bikin lagu-lagu yang aneh. Selain merusak telinga, juga menghilangkan makna seni karawitan itu sendiri,” kata tokoh Sunda yang dihormati Harry Roesli.

Harry tak menyangkal hal tersebut, secara teoritis memang tak mungkin bisa sinkron antara gamelan apapun dengan diatonis. "Guruh harus mengakui hal itu, bahwa ada dua nada di salendro dan tiga nada di pelog yang jelas tak sama. Tapi karena tak sama itulah yang membuat saya menguliknya menjadi sebuah lagu. Caranya dengan membuat tipuan saat kidung gamelan masuk pada nada yang tak ada pada keyboard. Saya tipu pakai akord sehingga bisa tertutup."

Harry ingin karya musiknya diakui bukan dengan uang, oleh karena itu ia amat menyayangkan Guruh dan Gipsy-nya menjual album eksperimennya dengan harga yang tinggi. "Masyarakat banyak terkaget-kaget saat membeli seharga Rp.2.500,- umumnya mereka membeli kaset diangka Rp.800,- hingga Rp.1000,-  Katanya Guruh mau karyanya bisa menyebar ke masyarakat banyak."

Album “Guruh-Gipsy” dijual seharga Rp.2.500,- sedangkan "Titik Api", "Ken Arock" atau "Gadis Plastik"nya Harry Roesli, tak lebih dari seribu rupiah. "Album Guruh-Gipsy memang bagus sekali, terasa berat buat orang awam. Apa lagi Guruh membuat liriknya dengan bahasa Bali, dan ternyata anak-anak muda menyukai musik-musik seperti itu. Mereka sudah bosan dicekoki lagu-lagu pop kacang goreng. Lagu-lagu cinta yang penuh rintihan dan mendayu-dayu. Tiba-tiba tiba muncul saya dan Guruh menyodorkan musik alternatif.”

03 Harry Roesli IstimewaHarry Roesli (Istimewa)

Harry pun tak melupakan Amin Cengli pemilik Musica Studio. Tauke kaset ini kesohor dikalangan musisi-musisi lantaran berani mengambil The Rollies yang dibilang grup sampah oleh Eugene Timothy bosnya Remaco. "Suatu hari saya ditelpon om Amin dan dia bilang mau mendukung musik-musik yang saya garap. Saya langsung berangkat ke Jakarta. Oleh om Amin saya dikontrak 4 album sekaligus dan dikasih duit muka yang banyak, Padahal saya belum siap apa-apa. Om Amin bilang dia percaya, saya dikasih pakai studionya 1 bulan full. Hebat tauke satu ini, yang lain mana berani.”

Harry tak mau menyia-nyiakan kesempatan dan kepercayaan yang diberikan. Ia pulang kembali ke Bandung untuk bekerja membuat lagu secepat mngkin. "Saya ajak Albert Warnerin dan Triawan Munaf untuk menggarap album perdana bersama Musica  bertajuk "Tanah Berduka Cita". Ini album pop rock yang ada gamelannya juga. Setelah dibuat musik dasarnya, baru saya dan teman-teman berangkat ke Musica Studio."

Amin Cengli terkejut, ia tak menyangka Harry bekerja secepat itu. Studio yang dijanjikannya segera dikosongkan. Semua perlengkapannya disediakan. Tauke kaset tersebut bahkan memberikan kebebasan kepada Harry Roesli tanpa sedikitpun mencampuri urusan rekamannya. "Saya hanya mau Harry dan teman-teman bisa membuat album terbaik. Hasilnya juga buat Harry dan kawan-kawan," sahut Amin Cengli yang tak henti-hentinya menawarkan semua kebutuhan Harry. "Tinggal nyebut saja," ujarnya./ Buyunk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found