Marlupi Sijangga Marlupi Sijangga

Marlupi Sijangga

Legenda Hidup Ballet Indonesia

Energik, lincah, penampilan yang selalu riang dengan rambut pendeknya membuat sebagian orang tidak percaya bahwa di usianya yang memasuki usia 79 ini masih mantap langkah kakinya dalam mengajar tari. Marlupi Sijangga adalah seorang pendiri akademi tari terbesar dan tertua di Indonesia dengan nama Marlupi Dance Academy. Dirinya adalah salah satu dari sekian institusi tari dan seniman tari yang mencetuskan berbagai macam event tari di Indonesia.

Sejak usia 15 tahun Marlupi Sijangga mulai tertarik dan belajar ballet, karena dirinya memperhatikan anak-anak keturunan Belanda yang belajar menari di sekolah ballet “Tegal Sari” pada tahun 1952 lewat gurunya Mrs. Zahller yang berasal dari Belanda.  Marlupi merupakan salah satu penari Ballet dari Indonesia yang memulai belajar ballet di sekolah tersebut.

Diusianya yang masih sangat muda, pada tahun 1956, Marlupi Sijangga membuka sekolah ballet sendiri di Bon Becak Bungurun dengan nama “Marry”. Dengan dana yang terbatas, walau belum mampu membeli kaca dan bar (bentangan besi untuk bersandar kaki dan tangan balerina) di tempat sederhana tersebut dia mengajar.

Pada saat itu, Marlupi memperhatikan bahwa sekolah balet lain memiliki guru dengan kemampuan mengajar yang sederhana dan teknik yang kurang baik, sehingga dia terpacu untuk mendirikan sekolah walaupun usianya saat itu masih belasan tahun. Selain belajar secara otodidak, Marlupi juga mengembangkan kemampuannya dalam mengajar balet dengan mengikuti kursus di beberapa negara seperti Hongkong, Zurich, Madrid, New York, London, dan Kanada.

02 Marlupi & MDA IstimewaMarlupi & MDA (Istimewa)

Beberapa penghargaanpun pernah diterima Marlupi atas karya dan kerja kerasnya di bidang seni tari balet adalah Best Executif Award dari Singapura (1982), Adhi Karya Award (1993), dan Penghargaan Karier dan Prestasi Pria wanita (1996).  Termasuk  berbagai juara ballet di Sydney-Australia, juara I & II Juara I & II Ballet and Jazz Dance Competition di Tremaine Dance Competition, New York City. Memperoleh penghargaan (berpenampilan terbaik) The Best Performance dan sekaligus memperoleh penghargaan beasiswa untuk mengikuti “Summer School” USA, dan masih banyak lagi kejuaraan yang diikutinya.

Seiring berjalannya waktu, di tahun 1970, sesuai nasehat dari kepala Bidang Kesenian dan Kebudayan (Moelyono Suryopranomo), sekolah ballet Marry berubah nama menjadi “Marlupi Dance Academy (MDA)” bertempat di Trimurti dan Simulawang. Hasil kerja kerasnya selama 59 tahun telah menghasilkan banyak penari dan pengajar dengan standar Internasional.

Langkah Marlupi Sijangga dalam perkembangan dunia tari di Indonesia tak hanya berhenti sampai disini saja, Marlupi pun mewariskan bakatnya kepada anaknya, Fifi Sijangga dan cucunya  Claresta Alim dengan mendirikan “Indonesia Dance Company (IDCO)” sebagai suatu wadah profesional dalam pengembangan potensi tari dan karir sebagai profesi yang menjanjikan dan memiliki banyak prospek yang baik.

Sebagai sebuah institusi Fifi Sijangga sebagai Executive Director IDCO yang juga menjadi salah satu Pengelola Marlupi Dance Academy dibantu oleh banyak profesional dibidang tari dalam menjalankan IDCO seperti Marlupi Sijangga yang menjadi Patron, Claresta Alim sebagai Founder & Artistic Director, Rita Rettasari sebagai Technical Director, Yuniki Salim sebagai Creative Director, Leonny Ariesa sebagai Managing Director,  dan Jonatha Pranadjaja sebagai Ballet Mistress.

“IDCO menggunakan ballet klasik sebagai fondasi dalam pelatihan karena teknik di dalam tari ballet merupakan dasar yang kuat untuk menarikan berbagai jenis tarian lainnya. Teknik tersebut sudah melingkupi kelenturan tubuh, kekuatan menggunakan otot dan garis tubuh yang indah dan benar, musikalitas, serta mengandung nilai estetika dan artistik yang tinggi” jelas Fifi Sijangga.

03 MDA IstimewaMDA (Istimewa)

Claresta Alim juga mengutarakan sebagai akademi yang mewadahi para seniman tari d Indonesia IDCO hadir dengan koreografer dan para penari pilihan yang memiliki dedikasi tinggi di dunia tari Indonesia dengan pencapaian dan pengalaman yang luas di bidangnya. Diantara koreografernya adalah; Claresta Alim, Jonatha Pranadjaja, Siti Soraya, dan Michael Halim. Serta penari yang tergabung dalam IDCO diantaranya; Chailiessa Purnama Yosaputra, Cindy Kwan, Dheidra Fadhillah, Irene Aryanto, Leonny AriesaMaria Linsy Ariani, Michael Halim, Nadia Mulyono, Regita Marvela Pangalila, Resti Oktaviani, Siko Setyanto, Siti Soraya.

Pada tanggal 1 Oktober 2016 lalu, IDCO pun sukses mengadakan event bertema “WE DANCE” yang diselenggarakan di Gedung Kesenian Jakarta. Dalam pertunjukan tersebut, IDCO dan menampilkan beberapa jenis tarian dengan Claresta Alim sebagai Artistic Director serta Siti Soraya Thajib, Siko Setyanto dan Claresta Alim sebagai koreografer. Pada tanggal tersebut juga merupakan awal terbentuknya/ berdirinya IDCO yang bisa menjadi sebuah karya yang dapat diterima oleh semua orang.

‘Ballet is my life, jalani hidup dengan semangat. Saya akan menari ballet sampai Tuhan tidak mengizinkan lagi”, tutup Marlupi dengan senyumnya yang tak pernah lepas dari wajahnya. / YDhew

04 MDA IstimewaMDA (istimewa)

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found