Riza Arshad Riza Arshad (Istimewa)

Riza Arshad

Salah Satu Tonngak Sejarah Jazz Tanah Air

Apa yang dapat kita kenang dari seorang Riza Arshad? Musisi jazz senior yang masih sangat berpotensi ini, akhirnya harus menjumpai takdirnya. Ija telah berpulang pada usia 53 tahun. Ia yang terlahir dengan nama Syahriza Arshad pada 2 November 1963 silam cukup memiliki kiprah baik dan terpandang diblantika musik tanah air.

Riza cukup lama menekuni dunia jazz tanah air. Keberadaannya dalam menekuni musik ini seperti yang sering kita dengar sudah dilakoninya sejak belia. Mengenal dan belajar piano klasik pada usia 6 tahun. Sempat berguru dengan almarhum Rumende, dan Aries Dauna, juga Bambang Nugroho untuk klasik dan pop. Ia juga memiliki pengalaman belajar pada  Jack dan Indra Lesmana untuk jazz.

Pada usia 15 tahun, Ija membangun grup band pertamanya Rara Ragadi bersama almarhum  Iwan Arshad, Raidy Noor dan Cendy Luntungan. Grup yang membawa genre progresif rock ini sempat menelurkan satu album self titled setahun setelah dibentuk pada tahun 1979.  

Semenjak itu, Ija kemudian sering membantu berbagai kelompok musik ataupun perorangan. Beberapa diantaranya yaitu Combo 11 bersama Erwin Gutawa dan Cendy Luntungan dari tahun 1978-1980. Kemudian Jazz Raiders tahun 1983, lalu Jack Lesmana Combo ditahun 1986. Bersama Ekki Sukarno dan Eet Syahranie pada 1987-1989 lewat Kharisma Indonesia juga dilakoninya.

Pada 1993, ia mendirikan SimakDialog bersama gitaris Tohpati, drummer Arie Ayunir, dan bassist Indro Hardjodikoro. Walau para personelnya telah berganti, grup ini masih bertahan sampai sekarang. Sekitar tujuh album telah dibuat oleh SimakDialog seperti Lukisan (1996), Baur (1999), Trance/Mission (2002), Patahan (2005), Demi Masa (2008), The 6th Story (2012), dan Live at Orion (2014).

02 Riza Arshad IstimewaRiza Arshad (Istimewa)

Pada 2014 silam, album The 6th Story memenangkan penghargaan Anugerah Musik Indonesia untuk kategori Album Jazz Terbaik dan Instrumental Duo/ Grup Jazz Terbaik. Kiprah lainnya yakni sempat bergabung dengan Twilite Orchestra bersama David Foster, lalu Jakarta ‘J Dream’ Big Band tahun 1995, Trisutji Kamal Ansambel. Tahun 1996 bersama Cok Rampal dan Iwan Fals dengan Trahlor. Pada tahun 2000 ia tercatat bergabung bersama kelompok Indra Lesmana-Reborn.

Ija juga aktif berkarier secara solo, ditandai dengan merilis albumnya pada 2003 silam dengan tajuk “Riza Trioscapes”. Album keduanya “Piano Duet Guitar” yang direkam bersama Robert MR dan dirilis pada 2014. Album ini dinominasikan pada ajang AMI Awards untuk kategori Album Jazz Terbaik 2015.

Kepergiannya pada Jumat, 13 Januari 2017 di Bandung tersebut telah menorehkan duka mendalam tak hanya pada keluarga namun musik tanah air dalam cakupan yang lebih luas lagi. Ia dikenal memiliki kesehatan yang baik  dan relijius. Pribadinya juga cukup unik, seperti yang dikutip dari apa yang disampaikan Tohpati kala mengenang Ija. “Ia adalah seniman yang gigih pendiriannya. Bila bicara soal musik, nggak peduli orang suka atau tidak," ujarnya.

Begitulah, tinggal doa yang kita bisa panjatkan kepada sang Khalik untuk menghargai apa yang pernah ditorehkannya di kancah musik dalam negeri. Pianis yang brilian dengan berbagai macam penghargaan. Ia juga sebagai salah seorang musisi yang telah memberikan kontribusi besar dalam mengembangkan  musik jazz di negeri ini. Seseorang yang tidak pernah takut untuk memulai sesuatu yang baru../ Ibonk

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found