Leo Kristi Leo Kristi (Istimewa)

Leo Kristi

Dalam Sebuah Ingatan

Dalam waktu yang tak terpaut jauh, 2 musisi senior tanah air Bartje Van Houten dan Leo Kristi mendadak berpulang ke sisi sang Khalik. Kepergian para maestro tersebut tentunya meninggalkan kesan yang teramat dalam. Bayangkan saja sedikit banyak kiprah yang mereka lakoni semasa hidup cukup memberi warna di dalam perkembangan musik tanah air.

Mari kita sedikit mengulas tentang seorang Leo Kristi, pria yang bernama asli Leo Imam Sukarno ini 4 hari sebelum kepergiannya sempat bertemu dengan NewsMusik di RS. Immanuel Bandung. NewsMusik yang berangkat bersama beberapa teman wartawan, salah satunya, Bens Leo sengaja mengunjungi mendiang untuk melihat langsung keadaannya sekaligus memberikan tali asih dari teman-teman musisi di Jakarta.

Terlihat kurus dan sedikit lemah secara fisik, namun semangat menyala-nyala tersirat dari pancaran matanya. Dengan lugas, Leo menjawab sapa kami dan menceritakan sepintas penyebab dirinya kenapa harus dirawat.  Boni, kakak Leo, mengatakan bahwa Leo dirawat di rumah sakit karena menderita disentri amoeba atau radang usus yang disebabkan oleh bakteri entamoeba histolytica.

“Sebelumnya  Leo mengeluh diare dan tekanan darahnya turun drastis. Lalu segera dibawa ke rumah sakit, dan tidak diizinkan pulang. Sempat masuk ICU beberapa hari dan sekarang sudah ditempatkan di kamar regular. Dari pertama dirawat, total sudah ada 22 hari," ucap Boni kala itu.

02 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

Begitulah, seperti yang dilansir di banyak berita, ia yang lahir di Surabaya, 8 Agustus 1949 tersebut akhirnya tutup usia sekitar pukul 01.00 dinihari pada hari Minggu, 21 Mei 2017. Leo meninggal dunia dalam usia 67 tahun.

Semasa hidupnya, Leo dikenal sebagai pemusik pengelana. Ia melegenda kala membentuk grup musik bernama Konser Rakyat Leo Kristi (KRLK) dengan basis penggemar yang menyebut diri LKers (Komunitas Pecinta Musik Konser Rakyat Leo Kristi). Namun sebelumnya, cukup beken kala bersama Gombloh dan Franky Sahilatua, ketika mengusung rock progresif, Lemon Trees. Namun kemudian, Leo memilih keluar dan mengembara bersama musiknya.

Menyukai musik sejak kanak-kanak, ia kerap menyimak setiap irama yang dimainkan tiap subuh oleh ayahnya, Raden Ngabei Iman Soebiantoro, yang juga merupakan seorang musisi dan seorang pensiunan pegawai negeri. Mengecap kursus musik di tahun 1964 ketika duduk dibangku SMP, lewat Kursus Musik Dasar yang dikomandani oleh Syam Kamaruzaman. Lalu, ia masuk kursus Tony Kerdijk, Direktur Sekolah Musik Rakyat di Surabaya. Mengasah vokal, ia belajar pada Nuri Hidayat dan John Garang. Ia juga pernah kursus gitar pada Poei Sing Gwan dan Tan Ek Tjoan. Dua gitaris yang diakuinya cukup memberi pengaruh pada musiknya.


Lalu melanjutkan sekolah di SMAN 1 Surabaya pada tahun 1967, Ia bergabung dengan band sekolah bernama Batara yang mengusung lagu-lagu The Beatles. Anggotanya sendiri adalah  teman-temannya dari SMA seperti Ratno, Karim, Soen Ing, John Kotelawala, Andre Muntu, dan Harry Darsono (kini menjadi desainer nasional). Lepas SMA, ia melanjutkan berkuliah di Jurusan Arsitektur Fakultas Teknik ITS pada tahun 1971 namun tidak selesai. Pada masa inilah ia bertemu Gombloh dan mengawali karier sebagai pemusik keliling (trubadur).

03 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

Walau tidak begitu lengkap, namun masih cukup banyak ulasan yang menjelaskan sepak terjang mendiang terhadap musik rakyat yang diusungnya. Seperti dari sisi album, lewat KRLK ia telah menelurkan beberapa album seperti: Nyanyian Fajar (1975), Nyanyian Malam (1976), Nyanyian Tanah Merdeka (1977), Nyanyian Cinta (1978), Nyanyian Tambur Jalan (1980), Lintasan Hijau Hitam (1984), Biru Emas Bintang Tani (1985) yang gagal beredar, Deretan Rel Rel Salam Dari Desa (1985, aransemen baru), (Diapenta) Anak Merdeka (1991), Catur Paramita (1993) dan Tembang Lestari (1995, direkam pada CD terbatas), Warm, Fresh and Healthy (2010), dan terakhir album Hitam Putih Orche (2015).

Dalam penggarapan albumnya, Leo juga banyak melibatkan musisi dan berbagai bermacam genre seperti folk, country yang didapatkannya dari pelbagai daerah di nusantara. Seperti di album ke-8 KRLK yang merupakan aransemen baru dari sejumlah lagu sebelumnya. Ia melibatkan Titi Manyar, Yana dan Nona Vanderkley, Mung Sriwiyana, Ote Teguh Abadi, Markis Alkatiri dan Wahab, serta beberapa pendukung lainnya.

Atau pada album ke-9 (Diapenta Anak Merdeka), yang dikerjakannya di Bali dan memakan waktu lama melibatkan Cecilia Mars, Jimmy Sila’a, Boge, Dore, Sinyo, Kennedy Gobel, Tjok Bagoes (Habil) Suparba dan lainnya.

Itulah Leo Kristi, kepergiannya tentu meninggalkan duka bagi keluarga dan kerabat dekat. Yang lebih menyedihkan lagi,, kepergiannya tepat setelah konser penggalangan dana yang dimotori oleh LKERS untuknya digelar.

Pria kelahiran Surabaya ini dikenal sebagai musisi kelana yang banyak menghabiskan karirnya di jalanan. Namun, ia kerap menghadirkan kegembiraan lewat tembang rakyat dan hentakan rasa patriotisme yang terselip di syair maupun alunan musiknya. Ia tetap konsisten mengusung musiknya tanpa mau berdamai dengan pasar. Tetap bersama kaum akar rumput, yang rentan, kerap terlindas oleh zaman./ Ibonk

04 Leo Kristi IstimewaLeo Kristi (Istimewa)

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found