Chester Bennington Chester Bennington (Foto: Istimewa)

Chester Bennington

Akhir Kelam, Hidup Sang Bintang

Lagi-lagi dunia terhenyak, dengan kabar menyedihkan bagi jutaan orang yang mendengarnya. Ada saja  selebritis dunia yang mengakhiri hidupnya lewat cara cepat. Kali ini menimpa sang vokalis group musik Linkin Park, Chester Charles Bennington. Seakan tak percaya, bagaimana seorang yang di dunia mendapatkan segalanya, ketenaran dan juga kehidupan yang seolah kita berfikir mereka bahagia dan sukses dalam hidupnya karena apapun pasti mereka dapatkan dengan mudah.

Namun hal tersebut tidaklah selalu demikian, tak jarang mereka berperan sebagai aktor yang selalu kelihatan tak pernah mengalami beban dan masalah, dan tiba-tiba kita terheyak ketika sang idola harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tak wajar.

Bunuh diri apakah memang suatu penyakit kejiwaan atau memang karena jeratan narkoba yang menyebabkan dengan mudahnya mereka mengakhiri hidup dengan cara yang tak wajar. Entahlah. Kita tak pernah tahu di balik glamournya kehidupan mereka dan juga berapa banyak penggemar yang selalu mengelu-elukan mereka tetapi ternyata memiliki kekosongan hidup.

Kita juga tak pernah tahu kehidupan pribadi mereka yang tidak mereka share di publik. Ketika sang idola memutuskan hidup dengan cara bunuh diri, segala hal tentang kehidupan merekapun mulai terkuak. Tentang perasaan mereka dan juga kesepian dan keputusasaan yang mendera dibalik kepopulerannya,  sehingga salah satu tindakan yang kadang sulit kita cerna dengan akal sehat adalah dengan memutuskan hidup dengan cara bunuh diri.

Chester Bennington mengakhiri hidupnya bertepatan dengan ulang tahun sahabatnya Chris Cornell, seorang musisi yang terkenal sebagai penyanyi, pemain gitar, dan pencipta lagu dari band Soundgarden yang juga mengakhiri hidupnya dengan cara mengenaskan “Gantung Diri”. Sejak diketemukan tergantung di rumahnya di Palos Verdes, Los Angeles, Kamis (20/7) sampai berita ini diturunkan belum jelas apa yang menyebabkan Chester nekat mengakhiri hidupnya. Chester juga adalah salah satu orang yang paling bersedih saat Chris Cornell meninggal.

 

02 Chester Bennington IstimewaChester Bennington (Foto: Istimewa)

Tutup usia di tahun ke 41, Chester sejak kecil sudah tertarik dengan seni terutama musik. Laki-laki kelahiran Phoenix, Ariona, Amerika Serikat ini memang sejak kecil dipenuhi dengan cerita kelam. Lahir dari pasangan broken home, Chester kecil sering mengalami pengalaman yang tidak mengenakkan. Mulai dari pelecehan, bullying, bahkan kecanduan alkohol dan obat-obatan terlarang yang sangat dekat di hidupnya. Hal itulah yang selalu membekas dan menghantuinya hingga dewasa. Hal tersebut sudah bukan rahasia lagi, dimana setiap wawancara dan lagu-lagunya selalu menyebutkan pengalamannya yang kelam.

Chester yang tinggal bersama ayahnya sejak perceraian orang tuanya, selalu berhadapan dengan kekerasan, baik dari orang terdekatnya maupun lingkungan sekitarnya. Hal tersebut menjadi pemicu mengapa sejak kecil sudah terjerumus dalam lingkaran obat-obat terlarang. "Saya menggunakannya  banyak sekali. Saya menghisap ganja, memakai sedikit meth dan kemudian hanya duduk saja terdiam dan mengalami kepanikan. Untuk menurunkannya biasanya saya menghirup opium. Berat saya menyusut hingga 50 kilogram. Ibu saya bilang saya terlihat seperti baru keluar dari kamp Auschwitz. Setiap kali ‘sakau’, saya akan menghisap ganja agar terbebas dari obat-obatan terlarang", ujar Chester dalam suatu sesi wawancara.

Lepas dari sang ayah dan memutuskan ikut dengan ibu di usia 17 tahun, Chester mulai menekuni kesukaannya akan seni. Dalam musik itulah Chester bisa mengungkapkan gelisah dan sisi kelamnya. Sejak bersama ibunya, dia mulai berhenti akan kecanduannya dengan alkohol dan obat terlarang, Chester mulai bekerja dan menjalani karir bermusik secara profesional.

Iapun mengawali karier musiknya dengan bergabung bersama Sean Dowdell sebagai vokalis. Kemudian, Sean Dowdell dan Chester Bennington keluar dan membentuk band baru beraliran post-grunge bernama Grey Daze. Band tersebut merilis 3 album masing-masing pada 1993, 1994 dan 1997. Pada 1998, Bennington meninggalkan Grey Daze namun kesulitan untuk menemukan band baru.
 
Ditengah rasa frustasi dan keputusasaan di bidang musik, Chester bertemu dengan Jeff Blue wakil pimpinan A&R di Zomba Music Los Angeles. Chester mengikuti sebuah audisi sebagai vokalis untuk sebuah band bernama Xero yang kemudian dirubah namanya menjadi Linkin Park.

Setelah sukses menjalani audisi, Bennington yang kala itu bekerja di sebuah perusahaan digital segera meninggalkan pekerjaannya dan membawa keluarganya pindah ke California. Chester Bennington dan Mike Shinoda, salah satu personil Linkin Park, berhasil membuat progres yang baik. Sayangnya mereka berulang kali mendapat penolakan dari beberapa label musik. Atas campur tangan Jeff Blue pula lah, mereka akhirnya berhasil mendapat kontrak rekaman dengan Warner Bros. Records di tahun 1999.

Di tahun 2000 debut Album “Hybrid Theory” yang dirilisnya menduduki peringkat dua di tangga album Billboard Amerika Serikat dan akhirnya band ini menjadi salah satu band rock yang mampu menjual 30 juta album di seluruh dunia selama kurun waktu dua tahun. Dan menjadi salah satu band yang cukup berpengaruh dan terbesar di Amerika Serikat. Pada 2003, “Meteora” membuat Linkin Park terus melejit, dengan salah satu lagu andalan, “Numb” album itu terjual 27 juta kopi.

 

03 Chester Bennington IstimewaChester Bennington (Foto: istimewa)

Setelah lepas dari jeratan narkoba beberapa lama, lagi-lagi Chester kembali kecanduan alkohol ditengah kesuksesan Linkin Park dan kembali menghentikan kecanduannya di tahun 2011. Ayah dari 6 orang anak dari dua pernikahannya dalam hampir setiap wawancara selalu mengungkapkan sisi kelam dan juga gangguan kejiwaan yang di deritanya, dan ini bukan suatu rahasia lagi bagi para fansnya.

Album terbarunya “One More Light” adalah album yang membantunya berjuang dari gangguan kejiwaannya yang juga membantunya fokus dalam hal terpenting dalam hidupnya. Album ini merupakan album terakhirnya bersama Linkin Park yang dirilis tanggal 19 Mei 2017.

"Aku sampai pada titik hidupku, Aku bisa saja menyerah dan mati saja atau berjuang untuk apa yang kuinginkan. Dan aku memilih untuk terus berjuang. Aku ingin punya hubungan yang baik. Aku ingin mencintai orang-orang di hidupku. Aku ingin menikmati pekerjaanku. Aku ingin menikmati saat-saat menjadi ayah, dan punya teman, dan hanya bangun di pagi hari saja. Karena itulah arti perjuangan bagiku," ujar Chester sewaktu wawancara mengenai album terbarunya 4 bulan lalu.

Namun sayang ternyata Chester harus menyerah, kita tak akan pernah tahu apa yang membuatnya nekat mengakhiri hidupnya. Bertahun-tahun berjuang akan kecanduannya terhadap narkoba dan alkohol. Lalu sejak lama pula jiwanya terganggu dengan selalu memikirkan cara untuk mengakhiri hidup karena merasa tertekan dengan hidupnya.

Rest in Peace Chester, You’re legend now, and we’re gonna miss u…/ YDhew

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found