Iwan Fals Iwan Fals (foto: YDhew)

Iwan Fals

Perjalanan Bermusiknya Dulu dan Sekarang

Sejak dulu ia dikenal lewat lagu-lagunya yang kritis terhadap kondisi kehidupan sosial. Semua juga mengenal pria bernama lengkap Virgiawan Listanto atau biasa disebut dengan Iwan Fals.  Hampir dipastikan semua manusia di negeri ini mengenal baik lagunya seperti ‘Oemar Bakrie’, ‘Wakil Rakyat’, ‘Tante Lisa’ yang merupakan kritikannya terhadap prilaku sejumlah kelompok orang saat itu. Ataupun lagu ‘Lonteku’ yang merupakan empati Iwan Fals terhadap kelompok marginal di Indonesia.

Bukan hanya kondisi sosial di negara ini, tetapi Iwan juga pernah menciptakan sebuah lagu mengenai bencana besar yag melanda Ethiopia. Kritikannya terhadap kondisi politik dan sosial sempat membuatnya berurusan dengan pihak berwajib. Konsernya berulang kali mendapat larangan pemerintah karena dianggap dapat mengancam stabilitas negara.

Pada awal kariernya, Iwan banyak membuat lagu yang bertema kritikan terhadap pemerintah. Beberapa lagu bahkan bisa dikategorikan terlalu keras pada masanya, sehingga perusahaan rekaman yang memayungi Iwan pun enggan atau lebih tepatnya tidak berani memasukkan lagu-lagu tersebut dalam album untuk dijual bebas.

Kritis, kharismatik, religius, patriotis namun juga sederhana bisa kita lihat dari sosok Iwan Fals. Musisi kelahiran Jakarta, 3 September 1961 ini. Mengawali karirnya di dunia musik tanah air sejak tahun 70an, lagunya yag berirama musik country/ balada, sampai sekarangpun masih tetap konsisten ia bawakan. Sejak usia 13 tahun, Iwan remaja menghabiskan waktunya dengan mengamen dan memainkan alat musik gitar. Besar di kota Kembang Bandung dan melatih musikalitasnya dengan mengamen membuat Iwan cukup mahir dalam menciptakan lagu.

Iwan yang perhatiannya banyak tercurah pada gitar lebih memilih untuk memainkan lagu sendiri dibandingkan pada saat itu teman-temannya lebih tertarik untuk menyanyikan lagu Rolling Stones. Dengan prinsipnya yang memegang hidup sederhana maka tercipta lagu-lagu yang liriknya lucu, humor, yang bisa membuat orang bahagia mendengarnya. “Jelek-jelek yang penting lagu sendiri”, ujar Iwan.

Lagu-lagunya yang merupakan “potret” kehidupan dan suasana sosial di Indonesia kala itu. Sehingga  membuatnya dilirik seorang produser yang akhirnya membuat Iwan hijrah ke Jakarta untuk mengadu nasib dan bergabung bersama Amburadul. Sayangnya, album tersebut jeblok di pasaran yang akhirnya membuat Iwan kembali mengamen di jalanan. Sampai akhirnya, ia bergabung dengan Musica Studio yang menggarapnya lebih serius setelah Iwan menjuarai kejuaraan festival music country keluarlah album  “Sarjana Muda” di tahun 1981 dengan musik yang di garap oleh Willy Soemantri. Dari sinilah kemudian Iwan mulai banyak menerima panggilan untuk manggung, dengan lagunya ‘Oemar Bakri’ yang sempat ditayangkan di TVRI kala itu.

02 Iwan Fals YDhewIwan Fals (foto: YDhew)

Kendati sukses dengan album pertamanya, namun Iwan tetap menjalankan profesinya sebagai pengamen. Ketika anak keduanya lahir, Cikal di tahun 1985 Iwan pun terpaksa menghentikan aktifitasnya tersebut. Lagu-lagunya dianggap terlalu keras di masa Orde Baru, membuat Iwan berulang kali berurusan dengan pihak keamanan. Banyak jadwal acara konser dan  manggung Iwan yang dibatalkan oleh pemerintah, bahkan pada saat manggung pernah sempat dipadamkan aliran listriknya dan dibubarkan dengan paksa karena dianggap dapat memancing kerusuhan yang menyindir penguasa kala itu.

Lagunya seperti ‘Demokrasi Nasi’, ‘Semar Mendem’, ‘Pola Sederhana (Anak Cendana)’ dan ‘Mbak Tini (1978)’ dilarang beredar dan dinyanyikan. Lagu tersebut saat ini menjadi koleksi yang sangat berharga. Ada sekitar 80an lagu yang akhirnya tidak diedarkan.

Saat bergabung dengan kelompok SWAMI dan merilis album bertajuk “SWAMI” tahun 1989, nama Iwan semakin meroket dengan mencetak hits ‘Bento’ dan ‘Bongkar’ yang sangat fenomenal. Perjalanan karier Iwan Fals terus menanjak ketika dia bergabung dengan Kantata Takwa di tahun 1990 yang didukung penuh oleh pengusaha Setiawan Djodi. Konser-konser Kantata Takwa saat itu sampai sekarang dianggap sebagai konser musik yang terbesar dan termegah sepanjang sejarah musik Indonesia.

Sejak meninggalnya Galang Rambu Anarki, warna dan gaya bermusik Iwan Fals terasa berbeda. Dia tidak segarang dan tidak seliar dulu, lirik-lirik lagunya lebih mendalam dan religius. Iwan Fals juga sempat membawakan lagu-lagu bertema cinta baik karangannya sendiri maupun dari orang lain. Tak hanya perubahan dalam musikalitasnya tetapi Iwan juga berubah dari segi penampilan dengan mencukur habis rambut panjangnya hingga gundul dan berpenampilan lebih bersahaja, rambut berpotongan rapi disisir juga kumis dan jenggotnya dihilangkan.

Dari sisi pakaian, Iwan lebih sering menggunakan kemeja yang dimasukkan pada setiap kesempatan tampil di depan publik, sangat jauh berbeda dengan penampilannya dahulu yang lebih sering memakai kaus oblong bahkan bertelanjang dada dengan rambut panjang tidak teratur dan kumis tebal.

Tanggal 22 Januari 2003, Iwan Fals kembali dianugerahi seorang anak lelaki yang diberi nama Raya Rambu Rabbani. Kelahiran putra ketiganya ini seakan menjadi pengganti almarhum Galang Rambu Anarki dan banyak memberi inspirasi dalam dunia musik seorang Iwan Fals.

Iwan yang sejak awal penampilannya dikenal kritis, kharismatik, dan kesederhanaannya yang membuat pemujanya yang disebut dengan kaum ‘akar rumput’ selalu menjadi panutan sampai sekarang. NewsMusik yang berkesempatan menemui Iwan Fals beberapa waktu lalu disela konsernya bersama dengan Lea Simanjuntak yang bertajuk “Rising Hope” masih merasakan hal tersebut

Iwan yang didampuk sebagai bintang tamu di acara tersebut mengatakan keprihatinannya tentang kondisi sekarang ini dimana perbedaan agama sangat terasa di saat sekarang. Namun kita masih tetap harus berjuang dan tetap optimis keadaan semakin membaik. “Kita hidup di zaman perubahan, baik dalam hal pembangunan, sumber dayanya. Akan tetapi mutu harus bagus, dan hutang-hutangnya harus jelas peruntukkannya,” pesannya terhadap kondisi sekarang, Iwan juga merasa takjub dengan perubahan pembangunan yang cepat.

03 Iwan Fals YDhewIwan Fals (foto: YDhew)

Meski kondisi saat ini Iwan mengatakan cukup menarik untuk dibuatkan lagu dan banyak hal unik yang bisa dituliskan, namun Iwan seolah enggan untuk menciptakan lagu tersebut. Dirinya lebih memilih untuk menyelesaikan albumnya yang tertunda sejak dua tahun belakangan ini. Album nanti rencananya akan didedikasikan Iwan kepada sang istri Rossana dengan tema “Rossana”.

“Lagu sudah terkumpul banyak, rasanya sayang kalau tidak dibuatkan lagu. Di masa perubahan sekarang banyak manusia-manusia yang bisa jadi pelajaran dan diambil hikmahnya sehingga menarik untuk dibuatkan lagu, adanya hal tersebut membuat albumnya jadi tertunda. Cikal kasih kesempatan saya selama tiga tahun untuk menyelesaikannya,” ujar Iwan.

Mengamati perjalanan musiknya, karya dari Iwan Fals selalu menarik untuk dibicarakan, Iwan Fals yang mengalami metamorphosis sejak awal karirnya hingga sekarang sangat sarat dengan warna-warni. Iwan juga memiliki kepekaan dan mudah tersentuh dengan potret kehidupan sekitarnya, lagu dan syair yang sarat dengan kedalaman hati, kejujuran dan bebas mengekspresikan diri.

Dalam pengerjaan album maupun konser Iwan  selalu menyertakan kelompok musisi pengiring yang tetap. Dan hal lain yang menarik dalam sosok Iwan Fals, dalam seluruh alat musik yang digunakan baik oleh Iwan fals maupun band-nya pada setiap penampilan di depan publik tidak pernah terlihat merek maupun logo.

Seluruh identitas tersebut selalu ditutupi atau dihilangkan. Pada panggung yang menjadi dunianya, Iwan Fals tidak pernah mengizinkan ada logo atau tulisan sponsor terpampang untuk menjaga idealismenya yang tidak mau dianggap menjadi wakil dari produk tertentu, salute!. Ketegasannya dan kharismanya dalam dunia musik membuatnya menjadi salah satu musisi yang disegani sampai sekarang.

Perkembangan musik yang serba digital saat ini juga tak luput dari perhatian Iwan Fals, dirinya tak menampik bahwa kondisi tersebut membuatnya harus banyak belajar dalam mengikuti perkembangan zaman. Tidak menutup kemungkinan albumnya nanti akan dibuatkannya dalam versi digital, dan hal itu akan semakin mudah bagi orang untuk mengaksesnya. “Malah lebih bagus dengan versi digital tak banyak bahan yang dibutuhkan sehingga berkurang pohon yang ditebang dalam membuat suatu album dalam bentuk fisik,” ujarnya.

Yaah begitulah seorang Iwan Fals dibalik ketenarannya sampai sekarang masih tetap memperhatikan bagaimana caranya bisa berbuat sesuatu untuk kehidupan agar menjadi lebih baik. Tak ada banyak perubahan dari sosok seorang Iwan Fals, dari awal karirnya sampai sekarang. Humanis, patriotis, humoris dan juga romantis namun tetap berkarakter sebagai Iwan Fals yang kita kenal saat ini./ YDhew

04 Iwan Fals YDhewIwan Fals (foto: YDhew)

 

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found