Yowis Ben YOWIS BEN Poster (Istimewa)

Yowis Ben

Perjuangan dan Romantisme Anak Muda Berbahasa Jawa

Yowis Ben, bisa dibilang memiliki arti …sudahlah, biarkan saja, dan ternyata bisa dijadikan sebuah cerita yang boleh dikatakan menarik. Film ini mengisahkan tentang Bayu (Bayu Skak), anak penjual pecel yang memiliki rasa hormat kepada sang ibunda. Untuk membantu ibunya, Bayu setiap hari membawa sekeranjang pecel untuk dijual kepada teman-temannya di sekolah. Karena hal tersebut, ia mendapat julukan ‘Pecel Boy”.

Sebenarnya ia merasa minder dengan keadaan dirinya yang pas-pasan, tapi Bayu memutuskan memendam perasaan itu. Namanya anak muda, tak memandang starta ekonomi manapun, Bayu mulai menyukai lawan jenisnya yang memang rata-rata memiliki paras yang cantik. Karena hal tersebut, ia akhirnya harus menerima olok-olok dari teman-teman sekolahnya.

Terakhir sekali ia mulai naksir Susan (Cut Meyriska), dan pucuk dicinta ulampun tiba tatkala Susan mengirim voice chat ke ponsel Bayu. Itu membuatnya jadi ge er luar biasa, ia mengira Susan memberi harapan. Ternyata ia hanya dimanfaatkan untuk oleh Susan untuk memberikan harga murah pada pecel yang dijualnya untuk konsumsi teman-teman OSIS. Hatinyapun patah tatkala mengetahui bahwa Susan sebenarnya tengah dekat dengan Roy (Indra Wijaya). 

Begitulah… waktupun berlalu dan bersama Doni (Joshua Suherman) sahabat dekatnya memiliki ide gila. Untuk menjadi populer di sekolah mereka berinisiatif membentuk band dan langsung mengadakan audisi. Lewat kekonyolan-kekonyolan usaha mereka didapatlah Yayan (Tutus Thomson) yang merupakan seorang tukang tabuh bedug sebagai drummer dan Nando (Brandon Salim), siswa ganteng idola cewek-cewek disekolahnya yang jago keyboard. Mereka sepakat menamakan band mereka YOWIS BEN.

02 YOWIS BEN Istimewa

YOWIS BEN_(Istimewa)

Namun rupanya langkah Bayu dan teman-temannya tidak mudah. Disela-sela keberhasilan YOWIS BEN menancapkan taringnya di kota Malang, kekompakan mereka mulai diuji. Ketenaran yang begitu cepat diraih, membuat Susan menjadi dekat dengan Bayu, dan hal tersebutlah yang mulai memicu pertikaian di dalam tubuh band ini…. Selanjutnya, pendewassan diri masing-masing personil pun mulai terbentuk lewat kejadian ini.

Digarap dengan warna komedi, film YOWIS BEN mencoba memberikan tontonan berbeda. Seperti halnya kehidupan anak muda, bumbu percintaan tetap menjadi menu utama. Yang menarik dalam film ini adalah keberanian penulis cerita, produser dan sutradara menggunakan bahasa Jawa Timuran (Malang) di sepanjang film.

Pemakaian bahasa Jawa menunjukkan keberanian menggunakan bahasa daerah dalam dialog film makin meluas, setelah lahir beberapa film berbahasa daerah seperti “Uang Panai”,  “Silariang” (Sulawesi Selatan) serta film “Surau dan Silek” (Sumbar).

Ide keseluruhan cerita ini memang muncul dari Bayu Skak yang dikenal sebagai YouTuber yang selalu mengedepankan bahasa daerahnya ini. Ide yang cukup cerdas, walaupun terkadang menampilkan celetukan “bahasa orang pasar” khas Jawa Timuran, tapi masih bisa dimaklumilah. Dan keterlibatan Bayu dalam men-direct para pemain lainnya agar fasih menampilkan medhok/ cengkok khas Malang patut diacungi jempol, karena bisa dikatakan berhasil. 

03 Bayu Bayu Skak Susan Cut Meyriska

Bayu (Bayu Skak) & Susan (Cut Meyriska) (Istimewa)

Sayangnya Starvision sebagai rumah produksi, tidak benar-benar menggali lebih dalam cerita yang bergulir. Walaupun khas remaja, seharusnya film ini memberikan kesan mendalam kepada penonton. Bisa jadi karena budget yang dibatasi. Seperti adegan kompetisi band yang sebenarnya bisa maksimal tapi digarap apa adanya. Penampil yang itu-itu saja, penonton yang sangat sedikit, dan tampak tak asik. 

Padahal, kalau mau jujur lagu-lagu original yang dinyanyikan oleh YOWIS BEN adalah kreasi apik dari Bayu bersama band sebenarnya. Para personil YOWIS BEN dikehidupan nyata juga cukup paham memainkan instrument dan mengerti musik. Tapi yang tersajikan cuma begitu saja tanpa greget yang berarti. Konflik yang dibangun juga cukup monoton, terbaca dari awal hingga akhir. 

Kecuali Joshua Suherman dan beberapa pemain berpengalaman, film ini selebihnya di dominasi oleh wajah-wajah baru di kancah layar lebar nasional. Salah satu ide yang cukup baik adalah  mengambil latar kota Malang dan menampilkan ikon-ikon penting kota tersebut seperti Kampung Warna-Warni, Museum Angkut, Alun-Alun kota Malang, ataupun  Gereja Hati Kudus. 

Film bergenre drama komedi remaja ini berdurasi 99 menit dan akan siap tayang mulai 22 Februari 2018 esok. Penasaran? Ayo ditontonlah…../ Ibonk

Share this article

Leave your comments

Post comment as a guest

0 / 300 Character restriction
Your text should be in between 10-300 characters
Your comments are subjected to administrator's moderation.
terms and condition.
  • No comments found